Buka Lembaran Baru Dalam Hidup Mu

"Selembut apapun Angin berhembus, pernah juga menerbangkan Abu ataupun mengugurkan daun"

Rabu, 29 September 2010

Kisah Kelahiran Kelinci Hutan(Jataka no 316)

Pada suatu masa, tatkala Brahmadatta bertahta di Benares, Bodhisatta dilahirkan sebagai seekor kelinci hutan dalam sebuah hutan. Pada satu sisi dari hutan ini adalah kaki sebuah gunung, pada satu sisi yang lain mengalir sebatang sungai, dan sisi yang satunya lagi berbatasan dengan sebuah dusun. Sahabatnya adalah tiga ekor binatang yang lain: seekor kera, seekor rubah, dan seekor berang-berang.

Empat ekor binatang bijaksana ini, yang tinggal bersama dan masingmasing mendapatkan makanannya di tempatnya sendiri-sendiri, suka berkumpul di kala malam. Kelinci bijaksana, memberi nasihat kepada tiga sahabatnya dengan membabarkan Dhamma, “Berdanalah, jagalah moral, dan jalankan Disiplin Moral Bulan Purnama.”

Menuruti nasihatnya, tiap binatang kembali ke sarangnya masing-masing. Beberapa waktu kemudian, Bodhisatta mengamati bulan dan menyadari bahwa esok malam bulan purnama. Ia berkata pada ketiga sahabatnya, “Besok bulan purnama. Kalian harus
menjaga disiplin moral bulan purnama. Dana yang dipersembahkan dengan moral yang terjaga akan memberikan buah yang sangat baik. Karenanya, jika ada yang datang meminta makanan, berikanlah kepadanya apa yang seharusnya untuk kalian makan.”
Nasihat ini dijawab dengan, “Sangat baik,” lalu masing-masing kembali tinggal diam di sarangnya.

Pagi-pagi pada keesokan harinya, berang-berang memutuskan untuk mencari makanan di tepian sungai. Sementara itu, seorang penangkap ikan telah berhasil mendapatkan tujuh ekor ikan merah, mengikatkan tangkapannya dengan tali, dan menyimpannya di
bawah pasir di tepi sungai. Kemudian ia menuruni sungai untuk mencari ikan-ikan yang lain. Berangberang tiba di sana, tercium olehnya bau ikan pada pasir di tepi sungai. Ia menggali pasir, melihat seikat tujuh ekor ikan, menariknya keluar, dan berteriak kuatkuat
tiga kali, “Ikan ini ada yang punya?” Tidak melihat seorang pun di sana, ia memutuskan tali pengikat ikan-ikan itu dan menarik mereka ke dalam sarangnya. Ikan-ikan itu akan
dimakannya nanti. Selanjutnya ia merebahkan diri dan merenungkan perilaku moralnya sendiri.

Rubah juga pergi mencari makanan. Ia bertemu dengan dua tusuk daging dalam sebuah gubuk penjaga ladang, dan juga seekor cicak, dan sekendi dadih susu.
Ia berteriak kuat-kuat tiga kali, “Barang-barang ini ada yang punya?”
Karena ia tak melihat seorang pun di sana, ia memasukkan lehernya ke dalam tali kendi, memegang tusukan daging dan cicak dengan mulutnya, kemudian membawa makanan itu ke dalam sarangnya. Ia memutuskan untuk memakannya nanti. Lalu ia merebahkan diri dan merenungkan perilaku moralnya sendiri.

Kera juga, setelah memasuki sebuah hutan belukar, berhasil mengambil sekumpulan mangga. Ia membawanya ke dalam sarangnya, dan untuk dimakan nanti. Kemudian ia merebahkan diri dan merenungkan perilaku moralnya sendiri.

Namun, Bodhisatta, setelah pergi mencari makanan, memutuskan untuk mengumpulkan rumput dan ilalang untuk makanannya. Tapi tatkala ia merebahkan diri di dalam sarangnya, ia berpikir, “Tidaklah mungkin memberikan rumput dan ilalang kepada pencari sedekah yang datang ke sarangku. Aku juga tak punya beras dan biji wijen atau yang sejenisnya. Jika ada yang meminta makanan di depan sarang ini, aku harus memberikan daging dari tubuhku.”

Akibat cahaya perilaku moralnya, tempat tinggal raja segala dewa, Sakka, memanas. Mengamati hal ini dan mengetahui sebabnya, ia memutuskan untuk menguji sang raja kelinci, namun sebelum itu ia mengunjungi sarang berang-berang terlebih dahulu. Sakka berdiri di depan sarang berang-berang dalam bentuk seorang brahmana. Ketika berang-berang menanyakan untuk apa ia berdiri di sana, Sakka menjawab, “Yang Bijaksana,
jika saja aku mendapatkan sesuatu untuk dimakan, maka setelah menjalani Disiplin Moral Bulan Purnama, aku akan pergi menjalani Dhamma dalam penyepian.” Berang-berang berkata, “Baik sekali. Aku akan memberimu makanan.” Lalu ia melantunkan sebait
syair.
“Tujuh ikan merahku, ditangkap dari air ke atas tanah kering
Ini punyaku, wahai brahmana; setelah menikmatinya tinggallah di hutan.”

Brahmana berkata, “Besok saja, aku akan mengambilnya nanti,” dan terus pergi ke tempat rubah.

Ketika rubah bertanya, “Untuk apa Anda berada di sini?” ia menjawab seperti sebelumnya.
“Baik sekali. Aku akan memberi,” ujar rubah.

Berkata seperti itu, ia kemudian melantunkan sebait syair.
“Aku ambil makan malam penjaga ladang
Dua tusuk untuk daging, seekor cicak, dan sekendi dadih susu
Ini punyaku, wahai brahmana; setelah makan tinggallah di hutan.”

Brahmana berkata, “Besok saja, aku akan mengambilnya nanti.” Lalu ia pergi ke tempat kera.

Ketika kera telah bertanya, “Mengapa Anda berdiri di sini?” ia menjawab seperti sebelumnya.

Kera berkata, “Baik sekali, aku akan memberi.”

Berkata seperti itu ia melantunkan sebait syair.
“Mangga masak, air dingin, tirai sejuk menyenangkan
Itulah punyaku, wahai brahmana; setelah makan tinggallah di hutan.”

Brahmana berkata, “Besok saja, aku akan
mengambilnya nanti.” Lalu ia menuju sarang kelinci hutan.

Ketika kelinci bertanya, “Untuk apa Anda berdiri di sini?” ia memberikan jawaban yang sama. Mendengar jawaban brahmana, kelinci hutan sangat gembira. “Wahai brahmana, engkau telah berbuat baik dengan datang ke tempat ini mencari makanan. Hari ini aku akan mempersembahkan padamu apa yang belum pernah kupersembahkan sebelumnya. Tapi karena engkau orang bajik, engkau tidak boleh menyembelih. Pergilah, sahabat. Jika
engkau telah berhasil mengumpulkan kayu kering dan membuat api, beritahu aku. Aku akan mengorbankan diri terjun ke dalam api. Jika dagingku telah matang dan engkau makan, pergilah menjalankan Dharma penyepian,” demikian ujarnya.

Setelah itu ia melantunkan syair keempat.
“Sang kelinci tak punya wijen atau kacang atau bahkan beras
Setelah makan daging bakarku, tinggallah dalam hutan.”

Mendengar kata-kata ini, Sakka dengan kemampuannya sendiri menciptakan bara api,
kemudian memberitahu Bodhisatta. Bangkit dari sarangnya menuju bara api, Bodhisatta berkata, “Hatihatilah terhadap binatang-binatang kecil dalam buluku. Jangan sampai mereka terbunuh.”

Lalu ia menggoyang-goyangkan tubuhnya tiga kali, memberikan seluruh raganya untuk
dipersembahkan, meloncat dan terjun ke dalam api seperti angsa kerajaan menubruk himpunan bunga teratai. Tapi api itu tak mampu bahkan untuk membakar seujung bulunya pun. Seolah-olah ia masuk ke dalam bungkahan es. Lalu ia mendatangi Sakka
sambil berkata, “Brahmana, api yang engkau buat terlalu dingin, tak mampu membakar seujung bulu di tubuhku sekali pun. Mengapa bisa terjadi seperti itu?”

“Yang Bijaksana, aku bukan brahmana. Aku Sakka, datang mengujimu.”
“Sakka, meskipun engkau sendiri yang berdiri di sini, sekali pun seluruh dunia datang ke sini mengharapkan kemurahan hati, mereka tak akan pernah melihatku menolak memberi,” dan Bodhisatta menyuarakan raungan singa.

Sakka berkata padanya, “Kelinci bijaksana, semoga keluhuranmu diberkahi selama beribu-ribu tahun.” Setelah berkata demikian, Sakka mengambil sebuah gunung, memerasnya, mengambil sarinya, lalu mengoleskannya pada bulatan bulan membentuk bayangan kelinci. Kemudian ia memberi hormat kepada Bodhisatta, meletakkannya kembali dalam sarangnya di hutan belukar dan kembali ke alam dewa.

Keempat ekor binatang bijaksana ini, hidup dalam harmoni dan rukun, terus melaksanakan Disiplin Moral Bulan Purnama, menerima buah sesuai dengan karmanya
masing-masing.

Sang Guru, setelah membabarkan ajaran dan memberikan contoh kebenaran, menjelaskan Kisah Kelahiran itu. Kata-Nya, “Pada masa itu, Ananda adalah berang-berang, Moggallana adalah rubah, Sariputta adalah kera, dan Saya sendiri adalah kelinci
bijaksana.”

Rabu, 03 Februari 2010

Kisah Sesepuh ke-enam Zen : Hui Neng

hui-nengAyah Hui-neng adalah penduduk asli Fan-yang, tetapi setelah diturunkan jabatannya dari kantor pemerintahan, dia menjadi penduduk Hsin-chou. Ayahnya meninggal dunia ketika Hui-neng masih muda. Hui-neng dan ibunya pindah ke Nan-hai. Mereka sangat miskin. Hui-neng menjual kayu bakar di kota. Pada suatu hari seorang pelanggannya memesan cukup banyak kayu bakar dan meminta Hui-neng untuk mengangkutnya ke gudangnya.
Setelah memperoleh kayu bakarnya, pedagang tersebut membayar Hui-neng. Ketika Hui-neng keluar dari gudang, ia melihat seseorang sedang melafal sutra. Saat Hui-neng mendengarkannya, ia mengalami pencerahan. Hui-neng menanyakan kepada orang tersebut, "Apa nama dari Sutra ini?" Orang tersebut menjawab, "Ini adalah Sutra Intan (Cin-Kang-Cing/Vajracchedika Sutra)." Hui-neng menanyakan lebih lanjut, "Darimanakah Anda berasal, sehingga dapat memperoleh sutra ini?" Orang tersebut berkata, "Saya belajar dari Sesepuh Kelima Hung-jen, di Gunung Feng-mu wilayah Huang-mei daerah Ch'i-chou. Terdapat sekitar seribu murid di sana. Sewaktu saya di sana, saya mengetahui bahwa Guru Agung selalu memacu para bhikshu dan umat awam untuk mempelajari Sutra Intan, sehingga mereka akan mengenali Hakekat Sejati dirinya sendiri dan dapat segera mencapai Kebuddhaan."

Setelah mendengarkan penjelasan orang tersebut, maka Hui-neng yakin bahwa semua ini terjadi karena buah karma kehidupan sebelumnya. Sehingga diapun memutuskan meninggalkan ibunya, dan berangkat ke Huang-mei untuk menjadi murid Sesepuh Ke-Lima Hung-jen. Hui-neng meninggalkan cukup banyak uang kepada tetangganya agar dapat merawat ibunya selama dia melakukan perjalanan.

Sesampainya di depan Master Hung-jen, beliau menanyakan Hui-neng, "Darimana asal Anda, dan apa yang kamu harapkan dari saya?" Hui-neng menjawab, "Saya datang dari Hsin-chou di Ling-nan. Saya telah melakukan perjalanan jauh untuk menyampaikan rasa hormat . Tujuan saya tiada lain hanyalah agar dapat mencapai Kebuddhaan." Guru Hung-jen menjawab, "Anda berasal dari Ling-nan (desa terbelakang di China Selatan), jadi Anda adalah seorang yang biadab. Bagaimana engkau bisa mencapai Kebuddhaan?" Hui-neng berkata, "Bagi manusia, terdapat Utara dan Selatan. Tetapi bagi sifat Kebuddhaan, tiada Utara ataupun Selatan. Tubuh orang biadab ini bisa saja berbeda dengan tubuh Guru. Tetapi apakah terdapat perbedaan dalam sifat Kebuddhaan mereka?" Guru Hung-jen bermaksud meneruskan percakapan tersebut, tetapi melihat banyak orang di dekatnya, beliau akhirnya memilih diam saja. Kemudian beliau memerintahkan Hui-neng pergi dan bekerja dengan umat awam lainnya. Seorang umat awam mengantarkan Hui-neng ke gudang dan Hui-neng bekerja di bagian penggilingan padi selama delapan bulan.

Suatu hari, Guru Hung-jen memanggil semua muridnya untuk datang ke tempatnya dan beliau berkata, "Dengarkanlah kalian semuanya. Hidup dan mati adalah masalah yang serius bagi sifat kemanusiaan. Murid-murid sekalian hanya mencari berkah sepanjang hari, dan kalian tidak mencari suatu jalan keluar dari lautan pahit hidup dan mati. Jika Hakekat Sejati kalian sendiri suram adanya, bagaimana mungkin dengan berkah tersebut dapat menyelamatkan Anda? Kembalilah ke ruangan kalian masing-masing dan lihatlah ke dalam diri Anda sendiri. Gunakanlah Kebijaksanaan yang berasal dari hakekat sejati Anda sendiri, tuangkanlah dalam suatu gatha (semacam puisi), dan persembahkan kepada saya. Ia yang menyadari akan inti Ajaran Buddha akan diwarisi Jubah dan Dharma, dan akan diangkat sebagai Sesepuh Ke-Enam. Silahkah bergegas!"

Setelah menerima perintah tersebut, murid-muridnya kembali ke ruangan masing-masing. Mereka saling berbicara, "Percuma saja kita menyucikan pikiran dan berusaha mengarang gatha untuk dipersembahkan kepada Guru. Kepala bhikshu, Shen-hsiu adalah instruktur kita. Setelah beliau mendapatkan jubah kita dapat bergantung kepadanya. Jadi tidak perlu mengarang gatha." Mereka membebaskan pikiran, dan tidak ada satupun yang berani mengarang gatha. Pada waktu itu terdapat tiga koridor di depan aula Guru Hung-jen. Dinding masing-masing koridor dilukis dengan berbagai gambar berdasarkan cerita dari Sutra Lankavatara (Leng Cia Cing) dan serangkaian gambar yang menunjukkan keberhasilan Sesepuh Ke-Lima untuk dijadikan sebagai suatu sumber informasi bagi penerus berikutnya. Seniman Lu-chen telah juga memeriksa dinding yang akan dipergunakan untuk pekerjaannya pada hari berikutnya.

Kepala Bhikshu Shen-hsiu berpikir, "Orang-orang ini tidak mau mengarang gatha karena saya adalah instruktur mereka. Sehingga saya harus mempersembahkan suatu gatha di hadapan Guru. Jika saya tidak melakukannya, bagaimana Guru dapat mengetahui dalam atau dangkalnya pengetahuan saya? Niat dari penyajian gatha tersebut akan merupakan suatu hal yang tepat, jika dilakukan berdasarkan Dharma. Tetapi akan salah jika dilakukan berdasarkan tampuk pimpinan Sesepuh, karena akan seperti kebanyakan orang pada umumnya yang merebut tampuk pimpinan suci. Jika saya tidak menyajikan gatha, saya tidak akan meneruskan tampuk pimpinan Sesepuh. Benar-benar suatu perkara yang pelik!" Setelah berpikir panjang lebar dan dengan berbagai keraguan, ia berkata pada dirinya sendiri, "Bagaimana kalau saya menuliskan gatha tersebut di dinding koridor selatan, pada tengah malam dimana tiada seorangpun di sekitar tempat tersebut, dan membiarkan Guru melihatnya sendiri? Jika Guru melihatnya dan berkata bahwa gatha tersebut tidak bagus, maka hal ini dapat dianggap sebagai berbuahnya karma buruk saya di masa lampau, dan saya tidaklah tepat untuk memperoleh posisi sebagai Sesepuh." Sehingga pada tengah malam, Shen-hsiu pergi ke koridor selatan dan dengan memegang sebatang lilin, ia menuliskan gatha berikut di dinding untuk mengekspresikan pengetahuannya.

Gathanya berbunyi demikian:

Tubuh adalah pohon pencerahan

Pikiran adalah seperti tempat berdirinya cermin kemilau

Setiap hari membersihkannya dengan rajin

Tidak membiarkan setitik debu menempel


Setelah menyelesaikan gatha tersebut, Shen-hsiu kembali ke ruangannya. Tiada yang melihatnya. Pagi berikutnya, Guru Hung-jen memanggil seniman Lu-chen untuk datang ke koridor selatan guna melukiskan gambaran sejarah dari Sutra Lankavatara. Guru Hung-jen melihat puisi tersebut. Ia berkata kepada Lu, "Saya menghargai Anda atas lukisan agung yang telah Anda bawa dari jauh. Tetapi kita tidak akan melukiskan gambarnya. Dalam Sutra Intan [Cing Kang Cing] dikatakan, Segala sesuatu yang memiliki bentuk [fa'n sou' yu' hsiang'] Adalah tidak nyata dan khayalan belaka [ci'e shi' zh'i wang] Ada baiknya juga gatha ini dibiarkan di sini sehingga orang-orang dapat melafalnya. Jika orang mempelajari sesuai gatha ini, mereka tidak akan jatuh ke jalan yang salah dan mereka akan memperoleh manfaat yang besar." Kemudian Guru Hung-jen memerintahkan muridnya menancapkan dupa di depan gatha tersebut dan memujanya. Ia berkata, "Kalian semua dapat melafalkannya. Jika kamu lakukan maka kamu akan melihat Hakekat Sejati Diri Anda." Semua orang melafalkan gatha tersebut dan memujinya "Luar biasa!" Kemudian, Guru Hung-jen memanggil Kepala Bhikshu Shen-hsiu ke dalam aula dan menanyakannya, "Apakah engkau yang menulis gatha tersebut?" Shen-hsiu menjawab, "Ya, memang saya yang tulis. Tetapi saya bukan bermaksud untuk mengejar tampuk pimpinan Sesepuh. Mohon Guru berbaik hati memberitahukan apakah murid memiliki sejumlah kecil kebijaksanaan." Guru Hung-jen menjawab, "Gatha yang engkau tuliskan ini memperlihatkan bahwa engkau belumlah menemukan Hakekat Sejati Dirimu sendiri. Engkau telah sampai di depan pintu, tetapi engkau masih belum masuk ke dalamnya. Jika engkau mencari Pencerahan Agung dengan pandangan demikian, engkau tidak akan berhasil. Engkau harus memasuki pintu tersebut, dan melihat Hakekat Sejati Dirimu. Kembalilah dan pikirkan dalam waktu satu dua hari ini. Karanglah gatha lainnya dan persembahkan kepada saya. Jika engkau telah memasuki pintu tersebut, aku akan serahkan Jubah dan Dharma."

Seorang pemuda yang kebetulan melewati gudang, melafal gatha tersebut. Segera setelah Hui-neng mendengarkan gatha itu, ia mengetahui bahwa pengarang gatha itu sama sekali belum menemukan Hakekat Sejati Dirinya. Hui-neng menanyakan pemuda tersebut, "Gatha apa yang lagi Anda lafalkan?" Pemuda tersebut menimpalinya, "Anda tidak mengetahuinya? Guru mengatakan bahwa hidup dan mati adalah masalah serius dan bahwa beliau bermaksud untuk menyerahkan Jubah dan Dharma. Beliau telah memerintahkan murid-muridnya untuk mengarang suatu gatha dan mempersembahkan kepada beliau. Ia yang telah sadar akan inti Ajaran Buddha akan diserahkan Jubah dan Dharma, dan akan diangkat sebagai Sesepuh Ke-Enam. Kepala Bhikshu Shen-Hsiu menuliskan suatu gatha tanpa bentuk di dinding koridor selatan. Guru memerintahkan semua murid untuk melafal gatha tersebut. Beliau berkata bahwa mereka yang telah berlatih sesuai dengan gatha tersebut tidak akan jatuh ke jalan yang salah." Hui-neng berkata, "Saya telah menggiling padi selama delapan bulan di sini, dan tidak pernah ke aula. Dapatkah Anda mengatarkan saya ke koridor sehingga saya dapat membaca gatha tersebut dan memujanya. Saya juga bermaksud melafalkan gatha tersebut sehingga saya juga dapat menciptakan karma baik untuk kehidupan saya berikutnya dan dilahirkan di tanah suci Buddha." Pemuda tersebut kemudian mengantarkan Hui-neng ke koridor, dan Hui-neng memuja di depan gatha tersebut. Karena dia buta huruf, Hui-neng meminta seseorang membacakan untuknya. Setelah mendengarkan gatha tersebut, Hui-neng kemudian berkata bahwa ia juga telah mengarang suatu gatha, dan meminta seseorang menuliskannya di dinding. Gatha Hui-neng berbunyi:

Pada hakikatnya tiada pohon pencerahan
Cermin berkilau juga tidak memiliki tempat berdiri
Sifat Kebuddhaan selalu bersih dan suci
Darimana adanya debu?

Semua orang kagum akan gatha tersebut. Guru Hung-jen khawatir orang-orang akan terhasut, dan beliau berkata, "Gatha ini juga tidaklah sempurna."

Menjelang tengah malam, Guru Hung-jen memanggil Hui-neng ke aula, dan membabarkan Sutra Intan. Setelah mendengarkan Sutra Intan, Hui-neng memperoleh Pencerahan. Malam itu juga, Guru Hung-jen menyerahkan Jubah dan Dharma, dan tiada seorangpun yang mengetahuinya. Setelah Guru Hung-jen menyerahkan Jubah dan Dharma Pencerahan Seketika, beliau berkata, "Engkau sekarang adalah Sesepuh Ke-Enam. Jubah ini adalah merupakan suatu bukti kepercayaan, dan telah diserahkan dari Sesepuh yang satu ke Sesepuh lainnya. Dharma diberikan dari pikiran ke pikiran, jadi engkau harus merealisasikannya ke dalam dirimu sendiri." Guru Hung-jen melanjutkan, "Engkau harus pergi segera. Jika kamu tinggal di sini, akan ada yang mencederaimu."

Setelah diberikan Jubah dan Dharma, Hui-neng pergi pada tengah malamnya. Guru Hung-jen mengantarkannya ke dermaga Chiu-chiang dimana beliau mengarahkannya ke sebuah perahu dan berkata, "Pergilah sekarang, arahkan ke sebelah selatan. Jangan menyebarkan Dharma terlalu cepat. Dharma tidaklah mudah disebarkan." Setelah mengucapkan selamat tinggal, Hui-neng memulai perjalanannya ke arah selatan.

Dalam waktu dua bulan, Hui-neng telah mencapai Gunung Ta-yu. Banyak orang mengubernya untuk merebut kembali Jubahnya. Diantara mereka terdapat seorang bhikshu yang bernama Ch'en Hui-ming, seorang bekas jenderal dan sangat kasar sifatnya. Dia sempat menangkap Hui-neng, dan Hui-neng menyerahkan Jubah tersebut. Tetapi, dengan alasan tertentu, Ch'en tidak sanggup menerima Jubah tersebut. Ia berkata, "Saya kemari untuk Dharma. Saya bukan menghendaki Jubah." Hui-neng kemudian membabarkan Dharma. Setelah mendengarkan ceramah tersebut, Ch'en mencapai Pencerahan. Dan bersujud kepada Hui-neng sebagai Gurunya. Ch'en kemudian pergi ke arah utara.

Selama 16 tahun lamanya, Hui-neng bersembunyi di pegunungan. Akhirnya, ia muncul dan ditahbiskan sebagai bhikshu dan diberi nama Hui-neng oleh Guru Dharma Yin-tsung di vihara Fa-hsing daerah Kanton. Menurut cerita pada saat Hui-neng muncul di vihara Fa-hsing, kebetulan sedang berlangsung pembabaran Su.tra Parinirvana oleh Guru Dharma Yin-tsung. Pada saat tersebut terdapat dua bhikshu muda yang sedang bertengkar mengenai apakah bendera atau angin yang bergerak. Hui-neng yang mendengarkan pertengkaran tersebut, kemudian menengahi dengan menjawab, "Bukanlah angin yang bergerak. Bukan pula bendera yang bergerak. Pikiran kalianlah yang bergerak!" Mendengar jawaban Hui-neng tersebut, Yin-tsung mengundangnya naik ke panggung untuk bertukar pikiran mengenai Dharma, yang kemudian Yin-tsung menyadari bahwa Hui-neng adalah penerima Jubah Sesepuh Kelima. Kemudian Yin-tsung menahbiskan Hui-neng sebagai bhikshu, dan ia sendiri juga menjadi murid Hui-neng. Tahun berikutnya, Sesepuh Ke-Enam Hui-neng datang ke vihara Pao-lin di Ts'ao-chi dimana beliau tinggal selama beberapa tahun lamanya dan secara aktif menyebarkan Dharma. Suatu saat, Ketua vihara, Wei-ch'u di Shao-chou secara resmi mengundangnya membabarkan Dharma di vihara Ta-fan di Shao-chou. Ketua vihara kemudian meminta Fa-hai, salah seorang murid Sesepuh, untuk mencatatkan semua perkataannya.

Ajaran utama Hui-neng menekankan non-dualitas dan segala sesuatu bersumber dari suatu Hakekat Sejati. Hui-neng menjadi Guru Ch'an (Zen) yang paling terkenal dalam sejarah Buddhisme di Tiongkok. Setelah beliau meninggal dunia, karya-karyanya dikumpulkan dan diakui sebagai satu-satunya sutra Buddhis yang berasal dari Tiongkok, yang disebut Sutra Sesepuh Ke-Enam. Sekte yang didirikannya terkenal sebagai sekte Pencerahan Langsung atau Zen Aliran Selatan yang kemudian menjadi lebih terkenal dari sekte Zen yang didirikan oleh Shen-Hsiu yang tekenal sebagai sekte Pencerahan Bertahap.

Hal yang terpenting dalam ajaran Ch'an adalah pada perenungan Hakekat Diri, yang berarti menghidupkan cahaya diri sendiri dan memantulkannya ke dalam batin kita. Sebagai gambaran, dapat kita ambil contoh suatu lampu. Kita mengetahui bahwa cahaya dari suatu lampu apabila dibalut oleh suatu halangan, akan memantul ke dalam dengan pancarannya yang berpusat pada lampu tersebut. Sedangkan sinar dari suatu lampu yang tidak terhalang akan memancar ke luar.

Jalan Kebenaran Zen menuju Kebijaksanaan adalah merupakan suatu pemahaman Dharma dari pikiran ke pikiran. Kitab Suci hanyalah merupakan suatu alat untuk tercapainya tujuan. Bagaimanapun sempurnanya seorang guru, ia tak akan bisa memberikan pencerahan bagi orang lain. Perannya hanyalah seperti juru-rawat yang membantu seorang bayi pada saat kritis. Kebijaksanaan dan pengetahuan bukanlah suatu hal yang sama. Intelektual tidak dapat membawa seseorang pada suatu tataran Kebijaksanaan Sejati. Seseorang haruslah memfungsikan seluruh keberadaannya untuk berhubungan dengan Kebenaran. Pikiran adalah bahasa tanpa kata-kata, sedangkan kata-kata adalah simbol bahasa. Ketika pikiran dan kata-kata tumpang tindih, maka akan menjadi halangan bagi jalan menuju Kebijaksanaan. Hui-neng mengajarkan bahwa seseorang itu mesti menjaga pikirannya agar tidak terpengaruh dan terusik oleh berbagai fenomena yang ada di sekeliling kita. Jika pikiran tak tergoyahkan lagi, maka pikiran tidak akan diperbudak oleh hal-hal duniawi. Pisahkan diri kita dari pencerahan ataupun khayalan dan biarkanlah Kebijaksanaan selalu bangkit, dan dengan hilangnya kebenaran ataupun kepalsuaan, maka kita akan menemukan Buddha Sejati atau Hakekat Sejati dalam diri kita sendiri.

Selasa, 02 Februari 2010

7 KEUNGGULAN AGAMA BUDDHA

Buddha diagungkan bukan karena kekayaan, keindahan, atau lainnya. Beliau diagungkan karena kebaikan, kebijaksanaan, dan pencerahanNya. Inilah alasan mengapa kita, umat Buddha, menganggap ajaran Buddha sebagai jalan hidup tertinggi.

Apa sajakah keunggulan-keunggulan yang menumbuhkan kekaguman kita terhadap ajaran Buddha?

1. Ajaran Buddha tidak membedakan kelas / kasta

Buddha mengajarkan bahwa manusia menjadi baik atau jahat bukan karena kasta atau status sosial, bukan pula karena percaya atau menganut suatu ajaran agama. Seseorang baik atau jahat karena perbuatannya. Dengan berbuat jahat, seseorang menjadi jahat, dan dengan berbuat baik, seseorang menjadi baik. Setiap orang, apakah ia raja, orang miskin atau pun orang kaya, bisa masuk surga atau neraka, atau mencapai Nirvana, dan hal itu bukan karena kelas atau pun kepercayaannya.

2. Agama Buddha mengajarkan belas kasih yang universal

Buddha mengajarkan kita untuk memancarkan metta (kasih sayang dan cinta kasih) kepada semua makhluk tanpa kecuali. Terhadap manusia, janganlah membedakan bangsa. Terhadap hewan, janganlah membedakan jenisnya. Metta harus dipancarkan kepada semua hewan termasuk yang terkecil seperti serangga. Hal ini berbeda dengan beberapa agama lain yang mengajarkan bahwa hewan diciptakan Tuhan untuk kepentingan kelangsungan hidup manusia, sehingga membunuh makhluk selain manusia bukanlah kejahatan. Beberapa agama bahkan membenarkan membunuh orang bersalah yang menentang agamanya.

3. Dalam ajaran Buddha, tidak seorang pun diperintahkan untuk percaya

Sang Buddha tidak pernah memaksa seseorang untuk mempercayai ajaranNya. Semua adalah pilihan sendiri, tergantung pada hasil kajian masing-masing individu. Buddha bahkan menyarankan, “Jangan percaya apa yang Kukatakan kepadamu sampai kamu mengkaji dengan kebijaksanaanmu sendiri secara cermat dan teliti apa yang Kukatakan.” Hal ini pun berbeda dengan agama lain yang melarang pengikutnya mengkritik ajarannya sendiri. Ajaran Buddha tidak terlalu dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan dan kritik-kritik terhadap ajaranNya. Jelaslah bagi kita bahwa ajaran Buddha memberikan kemerdekaan atau kebebasan berpikir.

4. Agama Buddha mengajarkan diri sendiri sebagai pelindung

Buddha bersabda, “Jadikanlah dirimu pelindung bagi dirimu sendiri. Siapa lagi yang menjadi pelindungmu? Bagi orang yang telah berlatih dengan sempurna, maka dia telah mencapai perlindungan terbaik.”

Ini bisa dibandingkan dengan pepatah bahasa Inggris, “God helps those who help themselves” –Tuhan menolong mereka yang menolong dirinya sendiri. Inilah ajaran Buddha yang menyebabkan umat Buddha mencintai kebebasan dan kemerdekaan, dan menentang segala bentuk perbudakan dan penjajahan.

Buddha tidak pernah mengutuk seseorang ke neraka atau pun menjanjikan seseorang ke surga, atau Nibbana; karena semua itu tergantung akibat dari perbuatan tiap-tiap orang, sementara Buddha hanyalah guru atau pemimpin. Seperti tertulis dalam Dhammapada, “Semua Buddha, termasuk Saya, hanyalah penunjuk jalan.” Pilihan untuk mengikuti jalanNya atau tidak, tergantung pada orang yang bersangkutan. Hal ini pula yang membedakan dengan agama lain yang percaya Tuhan bisa menghukum orang ke neraka atau mengirimnya ke surga. Tatkala orang melakukan segala jenis dosa, jika dia memuja, berdoa, dan menghormati Tuhan, maka Tuhan akan menunjukkan cintaNya dan mengampuni orang tersebut. Hal ini membuat orang menjadi terdorong untuk tidak peduli, sebesar apapun dosanya, jika dia memuja Tuhan, dia akan diampuni. Karena ini pulalah, dia akan terbiasa menunggu bantuan orang lain daripada berusaha dengan kemampuan sendiri.

5. Agama Buddha adalah agama yang suci

Yang dimaksudkan di sini adalah agama tanpa pertumpahan darah.

Dari awal perkembangannya sampai sekarang, lebih dari 2500 tahun –agama Buddha tidak pernah menyebabkan peperangan. Bahkan, Buddha sendiri melarang penyebaran ajaranNya melalui senjata dan kekerasan. Di lain pihak, banyak pemimpin agama yang sekaligus juga menjadi raja dari kerajaannya, dan pada saat yang sama menjadi diktator dari agamanya.

Meskipun ada beberapa agama yang tidak disebarkan melalui senjata atau kekerasan, tetapi mereka telah menyebabkan terjadinya perang antar agama. Hal ini menyebabkan agama tersebut tidak bisa dianggap sebagai agama yang suci atau bebas dari pertumpahan darah.

6. Agama Buddha adalah agama yang damai dan tanpa monopoli kedudukan

Dalam Dhammapada, Buddha bersabda, “Seseorang yang membuang pikiran untuk menaklukkan orang lain akan merasakan kedamaian.” Pada saat yang sama, Beliau memuji upaya menaklukkan diri sendiri. Beliau berkata, “Seseorang yang menaklukkan ribuan orang dalam perang bukanlah penakluk sejati. Tetapi seseorang yang hanya menaklukkan seorang saja yaitu dirinya sendiri, dialah pemenang tertinggi.”

Di sini, menaklukkan diri sendiri terletak pada bagaimana mengatasi kilesa (kekotoran batin). Andaikan semua orang menjadi umat Buddha, maka diharapkan manusia akan beroleh perdamaian dan kebahagiaan. Buddha mengatakan bahwa semua makhluk harus dianggap sebagai sahabat atau saudara dalam kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian. Beliau juga mengajarkan semua umat Buddha untuk tidak menjadi musuh orang-orang tak seagama atau pun menganggap mereka sebagai orang yang berdosa. Beliau mengatakan bahwa siapa saja yang hidup dengan benar, tak peduli agama apapun yang dianutnya, mempunyai harapan yang sama untuk beroleh kebahagiaan di kehidupan sekarang dan kehidupan yang akan datang. Sebaliknya, siapapun yang menganut agama Buddha tetapi tidak mempraktikkannya, hanya akan beroleh sedikit harapan akan pembebasan dan kebahagiaan.

Dalam agama Buddha, setiap orang memiliki hak yang sama untuk mencapai kedudukan yang tinggi. Dengan kata lain, setiap orang dapat mencapai Kebuddhaan. Dalam agama lain, tiada siapapun bisa menjadi Tuhan selain Tuhan sendiri, tidak peduli sebaik apapun pengikutnya bertindak. Seseorang takkan pernah mencapai tingkat yang sama dengan Tuhan. Bahkan pemimpin agama pun takkan pernah mencapai ketuhanan.

7. Agama Buddha mengajarkan hukum sebab dan akibat

Buddha mengajarkan bahwa segala sesuatu muncul dari suatu sebab. Tiada suatu apapun yang muncul tanpa alasan.

Kebodohan, ketamakan, keuntungan, kedudukan, pujian, kegembiraan, kerugian, penghinaan, celaan, penderitaan –semua adalah akibat dari keadaan-keadaan yang memiliki sebab.

Akibat-akibat baik muncul dari keadaan-keadaan yang baik, dan akibat buruk muncul dari penyebab-penyebab buruk pula. Kita sendiri yang menyebabkan keberuntungan dan ketidakberuntungan kita sendiri. Tidak ada Tuhan atau siapapun yang dapat melakukannya untuk kita. Oleh karena itu, kita harus mencari keberuntungan kita sendiri, bukan membuang-buang waktu menunggu orang lain melakukannya untuk kita. Jika seseorang mengharapkan kebaikan, maka dia hanya akan berbuat kebaikan dan berusaha menghindari pikiran dan perbuatan jahat.

Prinsip-prinsip sebab dan akibat; suatu kondisi yang pada mulanya sebagai akibat akan menjadi sebab dari kondisi yang lain, dan seterusnya seperti mata rantai. Prinsip ini sejalan dengan pengetahuan modern yang membuat agama Buddha tidak ketinggalan jaman daripada agama-agama lain di dunia.

 
Design by Free WP Themes | Blogger Theme by Lasantha - Premium Blogger Themes | Open Office