Buka Lembaran Baru Dalam Hidup Mu

"Selembut apapun Angin berhembus, pernah juga menerbangkan Abu ataupun mengugurkan daun"

Sabtu, 22 Agustus 2009

DHAMMAPADA ATTAKATHA(DHAMMAPADA XXVI, 32) KISAH SIVALI THERA


Putri Suppavasa dari Kundakoliya sedang hamil selama tujuh tahun dan kemudian selama tujuh hari Ia mengalami kesakitan pada saat melahirkan Anak-Nya. Ia terus merenungkan Sifat-Sifat Khusus Sang Buddha, Dhamma dan Sangha. Ia menyuruh Suami-Nya pergi menemui Sang Buddha untuk memberikan Penghormatan dengan membungkukkan badan demi kepentingan-Nya dan untuk memberitahu Beliau tentang keadaan-Nya dengan berkata: "Sebelum Saya meninggal, Saya akan memohon sesuatu. Suami-Ku pergi dan ceritakanlah keadaan-Ku kepada Sang Guru dan undanglah dan apa yang di Katakan-Nya ingat baik-baik dan katakanlah kepada-Ku apa yang dipesankan Sang Guru".

Ketika diberitahu mengenai keadaan Putri tersebut, Sang Buddha berkata, "Semoga Suppavasa bebas dari bahaya dan penderitaan, semoga Ia melahirkan Anak yang sehat dan mulia dengan selamat".

Ketika Kata-Kata ini sedang diucapkan, Suppavasa melahirkan Anak di rumah-Nya. Pada hari itu juga, segera setelah Kelahiran Anak tersebut, Sang Buddha beserta beberapa Bhikku diundang untuk datang ke rumah-Nya. Dana makanan diberikan disana dan bayi yang baru saja lahir memberikan air yang sudah disaring kepada Sang Buddha dan Para Bhikku. Pada upacara Pemberian Nama, Putra tersebut diberi Nama Sivali, yang berarti 'Yang Menguntungkan'.

Untuk merayakan Kelahiran Bayi tersebut, Orang tua-Nya mengundang Sang Buddha dan Para Bhikku ke rumah Mereka untuk memberikan dana makanan selama tujuh hari.

Setelah 7 hari sejak Kelahiran-Nya, Ia dapat melakukan apa saja. Yang Arya Sariputra, Sang Dharmasenapati (Jenderal Dharma), berbicara kepada-Nya pada hari itu dengan berkata, "Tidakkah itu menunjukkan Sikap Seseorang yang telah mengatasi penderitaan seperti telah Engkau lakukan untuk meninggalkan duniawi?"

"Bhante, Saya akan meninggalkan duniawi". Gumam Sivali. Putri Suppavasa melihat Mereka berbicara dan menanyakan kepada Sariputra Thera, apa yang telah Mereka bicarakan. "Kami berbicara tentang penderitaan panjang yang telah diatasi oleh Sivali. Dengan izin-Mu, Saya akan menahbiskan-Nya", jawab Sariputra Thera. Putri Suppavasa berkata, "Itu baik, Yang Arya, tahbiskanlah Anak-Ku Sivali". Dan pada saat ditahbiskan, Yang Arya Sariputra Thera berkata, "Sivali, Engkau tidak menginginkan Nasehat lainnya selain sebab dari dukkha yang panjang yang telah Engkau atasi ? Pikirkanlah itu." "Bhante, Kata-Kata Bhante merupakan beban bagi penahbisan-Ku tetapi Saya akan menemukan apa yang pandai Saya lakukan", kata Sivali.

Ketika Anak-Nya tumbuh dewasa, Ia diterima dalam Pasamuan dan sebagai Bhikku, Ia dikenal dengan Nama Arya Sivali Thera.
Pada saat pertama Rambut-Nya dipotong, Dia mendapat hasil pada Jalan Pertama (Sotapatti-phala), saat yang kedua dipotong, Ia mencapai Jalan Kedua (Sakadagami-phala).
Ia mencapai tingkat Kesucian Arahat segera setelah Kepala-Nya dicukur. Kemudian, Ia menjadi terkenal sebagai Seorang Bhikku yang dengan mudah selalu menerima pemberian berjumlah besar, kendatipun Ia melakukan Pindapatta di desa yang sangat miskin sekalipun. Sebagai Bhikku penerima dana, Ia tidak terbandingkan sehingga Ia terkenal sebagai Bhikku Murah Rezeki.

Setelah Sariputra Thera menahbiskan-Nya, Bhikku Sivali pergi pada hari yang sama dan membuat tempat kediaman-Nya di gubuk serta bermeditasi pada keterlambatan Kelahiran-Nya yang sengsara. Dengan cara ini, Pengetahuan-Nya mencapai kedewasaan. Beliau masuk kedalam Pandangan Benar menghilangkan semua racun dalam pikiran, Beliau telah mencapai Arahat. Setelah mengalami kebahagiaan kebebasan, Beliau dalam Kebahagiaan mengucapkan Syair berikut:"Sekarang telah berhasil baik, semua Tujuan Tertinggi-Ku dalam mengasingkan Diri. Adat pengetahuan yang suci dan pembebasan, permintaan-Ku, semua kesombongan tersembunyi telah Kusingkirkan".

Pada suatu kesempatan, Para Bhikku bertanya kepada Sang Buddha, mengapa Sivali, dengan memiliki bekal menjadi Seorang Arahat, dilahirkan di dalam rahim Ibu-Nya selama tujuh tahun.

Kepada Mereka Sang Buddha menjawab, "Para Bhikku ! Dalam salah satu Kelahiran-Nya yang terdahulu, Sivali adalah Anak dari Raja yang kehilangan Kerajaan-Nya karena direbut oleh Raja lain. Dalam usaha-Nya untuk memperoleh kembali Kerajaan Mereka, Ia (Sivali) telah mengepung Kota Kerajaan atas nasehat Ibu-Nya. Sebagai akibat-Nya, orang-orang didalam kota itu kehabisan makanan dan air selama tujuh hari. Karena perbuatan jahat itulah, maka Sivali terkurung dalam rahim Ibu-Nya selama tujuh tahun. Tetapi sekarang, Sivali telah sampai pada akhir semua dukkha, Ia telah merealisasikan Nirvana".

Kemudian Sang Buddha membabarkan Syair 414 berikut:

"Yo' mam palipatham duggam samsaram mohamaccaga tinno parangato jhayi anejo akathamkathi anupadaya Nibbuto tamaham brumi Brahmanam."
Orang yang telah menyeberangi lautan kehidupan (samsara) yang kotor, berbahaya dan bersifat maya, yang telah menyeberang dan mencapai 'pantai seberang' (Nirwana), yang selalu bersamadhi, tenang, dan bebas dari keragu-raguan, yang tidak terikat pada sesuatu apapun dan telah mencapai Nirwana, maka Ia Kusebut Seorang 'Brahmana'.

Namo Arahato Sivali Vandana Gatha

Sivali ca mahathero devata nara pujito soraho paccaya dimhi
Sivali ca mahathero yakkha devabhi pujito soraho paccaya dimhi ahang vandami sabbada
Sivali terasa etang gunang savasti labhang bhavantu me

Senin, 10 Agustus 2009

EMPAT PULUH POKOK/SUBJEK MEDITASI

Di dalam naskah, terdapat empat puluh pokok/subjek meditasi, beberapa di antaranya dapat digunakan sebagai latihan dasar samatha untuk melaksanakan latihan vipassana. Empat puluh pokok/subjek meditasi itu adalah :
  1. 10 kasina (alat permenungan)
  2. 10 asubha (ketidakmurnian)
  3. 10 anussati (perenungan)
  4. 4 Brahma vihara (sikap batin luhur)
  5. 4 arupa (tahapan arupa – jhana)
  6. 1 Ahare-patikula-sanna (perenungan atas makanan yang menjijikan)
  7. 1 Catu-dhatu-vavatthana (analisis empat unsur)
Sepuluh kasina terdiri dari :
  1. Kasina tanah (Pathavi)
  2. Kasina air (Apo)
  3. Kasina api (Tejo)
  4. Kasina udara (Vayo)
  5. Kasina warna biru gelap (Nila)
  6. Kasina warna kuning (Pita)
  7. Kasina warna merah darah (Lohita)
  8. Kasina warna putih (Odata)
  9. Kasina cahaya (Aloka)
  10. Kasina ruang terbatas (Akasa)
Sepuluh Asubha terdiri dari :
  1. Sebuah mayat membiru (Vinilaka)
  2. Sebuah Mayat membengkak (Uddhumataka)
  3. Sebuah Mayat terinfeksi/bernanah (Vipubbaka)
  4. Sebuah Mayat terbelah dua (Vicchiddaka)
  5. Sebuah mayat yang telah digigit binatang buas (Vikkhayittaka)
  6. Sebuah mayat yang terserak hancur (Hatavikkhittaka)
  7. Sebuah mayat yang terpotong-potong dan berserakan (Vikkhittaka)
  8. Sebuah mayat yang berdarah (Lohitaka)
  9. Sebuah mayat yang terinfeksi cacing/belatung (Puluvaka)
  10. Sebuah tengkorak (Atthika)
Sepuluh Anussati terdiri dari :
  1. Perenungan terhadap kualitas-kualitas Buddha (Buddhanusati)
  2. Perenungan terhadap kualitas-kualitas Dhamma (Dhammanussati)
  3. Perenungan terhadap kualitas-kualitas Sangha (Sanghanussati)
  4. Perenungan terhadap kemoralan seseorang (Silanussati)
  5. Perenungan terhadap kemurah-hatian seseorang (Caganussati)
  6. Perenungan terhadap kualitas untuk tumimbal lahir sebagai dewa (Devatanussati), yaitu keyakinan teguh (saddha), kemoralan (sila), kemauan belajar dan mendengarkan Dhamma (suta), kemurah-hatian (cage) dan kebijaksanaan (panna)
  7. Perenungan terhadap Nibbana (Upasamanussati)
  8. Perenungan akan kepastian kematian (Marananussati)
  9. Perenungan atas 32 (tiga puluh dua) bagian tubuh (Kayagatasati), seperti : rambut, bulu tubuh, kuku, gigi, kulit, dan seterusnya.
  10. Perenungan terhadap kaluar dan masuknya nafas (Anapanasati)
Empat Brahma Vihara terdiri dari :
  1. Cinta kasih yang universal terhadap semua makhluk (metta)
  2. Belas kasih terhadap makhluk menderita (karuna)
  3. Simpati atas keberhasilan / pencapaian makhluk lain (mudita)
  4. Keseimbangan batin sempurna (upekkha)
“ ..... Berdiam dengan batin yang dipenuhi oleh cinta kasih universal yang diarahkan ke arah pertama, kemudian ke arah kedua. Kemudian ke arah ketiga. Kemudian ke arah keempat, demikan pula, ke atas, ke bawah, dan ke sekeliling dan ke segala penjuru kepada semua makhluk, seperti terhadap dirinya. Ia memancarkan ke segenap dunia dengan batin dipenuhi oleh cinta kasih universal, batin yang lapang, berkembang, tanpa batas, terbebas dari kebencian dan niat jahat ……. dengan batin yang dipenuhi oleh belas kasihan, oleh sikap simpati terhadap pencapaian/keberhasilan mahluk lain, dan oleh keseimbangan yang sempurna ......” (Jivaka Sutta, Majjhima Nikaya, Sutta Pitaka).
Empat Arupa, terdiri dari :
  1. Berdiam dalam permenungan atas kondisi ruangan yang tanpa batas (Akasanancayatana)
  2. Berdiam dalam permenungan atas alam kesadaran yang tak terbatas (Vinnanancayatana)
  3. Berdiam dalam permenungan atas alam kekosongan (Akincannayatana)
  4. Berdiam dalam permenungan atas kondisi alam bukan pencerapan juga bukan pencerapan (Nevasannanasannayaatana)

1. PATHAVI KASINA
Siswa yang ingin mencapai Jhana melalui latihan kasinathana, pertama-tama harus bertempat tinggal di suatu vihara yang sesuai, atau untuk seorang ummat awam, bertempat tinggal di tempat yang sesuai dan kondusif bagi pencapaian samadhi.
Kemudian ia harus membebaskan dirinya dari semua rintangan-rintangan, bahkan yang paling kecil sekalipun; ia harus memotong rambut janggut dan kukunya, memakai jubah yang bersih dan tidak bernoda, membersihkan mangkok makanannya dengan baik-baik. Ia harus membersihkan tempat tidur, tempat tuang air dan barang-barang lainnya dan mengatur mereka pada tempat yang sebenarnya.
Setelah melakukan semua hal ini dan menyelesaikan makanan-makanannya, ia harus duduk yang enak pada suatu tempat yang sunyi , dan kemudian, dengan penuh perhatian ia menatap pada kasinathana yang telah dipersiapkannya.

Praktek ini diterangkan sebagai berikut :
“ Ia yang mempelajari kasinathana mengambil nimittathana, baik itu disiapkan dengan ukuran, bukan tanpa ukuran terbatas, dengan tanda-tanda, bukan tanpa tanda-tanda, dengan batas-batas, bukan ukuran suatu bulatan kipas angina, sebuah mangkok sup, atau seperti ukuran piring ceper.
Ia harus mempelajari nimitta itu dengan baik-baik, mencatat dan menentukannya dengan baik-baik. Selanjutnya ia harus merenungkan keuntungan-keuntungan darinya dengan menganggapnya sebagai sebuah permata ( Ratanasani ), mencintainya dengan ketetapan-ketetapan yang teguh, “dengan melalui praktik ini semoga saya menjadi bebas dari kelapukan dan kematian.”
Apabila seseorang dalam kehidupan lampaunya pernah membuat kebajikan-kebajikan ( Paramitha ) yang berasal dari ajaran seorang Buddha, atau telah mencapai tingkatan sebagai seorang petapa suci, maka dengan demikian ia mampu masuk ke dalam Jhana ke-empat dan kelima. Baginya tidak perlu untuk membuat kasinathana karena sebidang tanah yang dibajak atau sebidang lantai tempat untuk menumbuk atau memberikan tujuan yang sama, tepat seperti apa yang dilakukan oleh Mallaka-Thera.
Diceritakan bahwa sewaktu Mallaka-Thera sedang melihat pada sebidang tanah yang dibajak, gambaran bathin timbul dengan ukuran tanah itu. Ia memperluasnya dan mencapai Jhana kelima, dan dengan mengembangkan pandangan terang dengan dasar itu, ia mencapai tingkat Arahat.
Tetapi bagi ia yang belum pernah mempunyai pengalaman di masa lampau, maka ia harus membuat kasinathana sesuai dengan Kammatthana yang diterima dari Gurunya, dengan menjaga untuk menghindarkan empat (4) kesalahan-kesalahan, yaitu ; ia harus BUKANLAH merupakan salah satu dari empat warna : biru, kuning, merah, dan putih.
Tanah yang dibentuk harus tidak berwarna salah satu dari empat warna-warna ini, karena mereka adalah dari kasina-kasina lainnya ( vanna-kasina ), tetapi itu harus berwarna merah muda seperti aruna, warna yang muncul di langit waktu fajar hari, atau warna tanah di dalam Sungai Gangga.
Rangka dimana bulatan tanah itu diletakkan haruslah tidak terlalu dekat dengan vihara, karena takut akan gangguan.
Tempat untuk bermeditasi harus dipilih pada bagian yang paling ujung dari daerah vihara, dan harus dinaungi dengan sebatang pohon atau oleh beberapa objek lain, atau dapat juga sebuah gua atau sebuah gubuk yang sementara terbuat dari daun.
Di sana ia harus membuat bingkai, baik yang dapat dipindahkan atau tidak, sesuai dengan kesenangannya. Apabila merupakan suatu bingkai yang dapat dipindahkan, bagian atas harus ditutupi dengan selembar kain atau selembar keset dan diatas tanah itu ditebarkan berkas-berkas rumput, akar-akar, kerikil-kerikil, dan pasir-pasir dibersihkan. Tanah itu harus dibersihkan. Tanah itu harus dihaluskan, diremas dan dikerjakan sampai merupakan suatu kepadatan yang cukup dan kemudian dibuat menjadi satu lingkaran suatu jengkal atau empat inci garis tengahnya.
Pada saat latihan permulaan, ia harus meletakkannya di atas tanah dan kemudian menatapnya. Apabila bingkai itu terpaku diatas tanah, itu harus kecil dibawahnya dan lebar diatasnya, seperti tempat benih bunga teratai. Apabila tidak mungkin untuk mendapatkan tanah yang cukup dengan warna yang sesuai dengan lingkaran itu dapat dibuat dari tanah lainnya, dengan satu lapisan tanah yang berwarna aruna ditaburkan diatasnya.
Perhatian harus diperhatikan untuk mempertahankan ukuran-ukuran yang diberikan dan membuat permukaan tanah sehalus kulit sebuah tambur. Ruang di luar dareha lingkaran itu dapat juga berwarna putih. Air yang digunakan untuk menghaluskan tanah itu harus diambil dari suatu sumber air bening dan tanah itu harus benar-benar diatur dengan rata dan baik.
Setelah mempersiapkan alat kasinanya, siswa harus menyapu tempat meditasi, membersihkan dirinya, dan setelah itu ia harus duduk pada suatu tempat duduk yang telah diatur dengan baik, satu jengkal dan empat inchi tingginya dan pada suatu jarak dua setengah kubik dari bingkai itu.
Segera setelah duduk dengan enak , siswa harus mulai bermeditasi, pertama-tama ia harus merenungkan akibat-akibat buruk dari keingina-keinginan indria dengan beberapa cara antara lain demikian :
“ Keinginan-keinginan indria adalah tak mengenal rasa puas…, dll.” ( Diterangkan secara terinci dalam Majjhima Nikaya.I.85,130, dll ).
dan merasa bergembira di dalam kesunyian bathin ( Nekkhama ; pelepasan dari kemelekatan akan segala hal duniawi ) yang merupakan suatu cara untuk melepaskan diri dari penderitaan kehidupan. Kemudian ia harus meresapi pikirannya dengan kegembiraan dan merenungkan kebajikan-kebajikan Sang Tiratana ( Ti=Tri= Tiga ; Ratana = Ratna = Berlian, mutiara ) , ialah : Sang Buddha, Dhamma dan Sangha
Kemudian ia harus berbalik pada praktik yang harus dilakukannya dengan merenungkan bahwa ini adalah jalan yang telah ditempuh oleh semua Buddha, Pacceka Buddha dan siswa mulia mereka, mengatakan didalam hatinya :
“ Dengan praktik ini pasti saya akan menikmati kebahagiaan Nibbana yang disebut Paviveka, kebebasan yang mutlak.”
Setelah mempersiapkan bathinnya di dalam cara ini ia harus mempraktikkan kasina, mengambl nimittanya, melihat pada kasina itu dengan suatu pandangan yang teliti. Tetapi ia jangan membiarkan matanya terbuka terlampau lama, supaya ia jangan menjadi bingung. Lingkaran itu harus dilihat, tetapi jangan erlalu jelas karena sebaliknya nimitta tidak akan timbul.
Ia janganlah terlampau keras atau terlampau lemah melihatnya, tetapi tepat seperti seseorang melihat dirinya sendiri di dalam sebuah kaca, tidak memperhatikan bentuk, warna atau keadaan kaca itu sendiri. Demikianlah ia harus menatap pada lingkaran itu tanpa memperhatikan warnanya atau keadaan-keadaan lainnya.
Dengan melepaskan semua pertimbangan terhadap warna dan materi yang digunakan untuk membuat lingkaran itu, ia harus berjuang untuk memperhatikan dalam pikirannya konsep tanah, yang hanya merupakan kasina, yang sebenarnya hanyalah symbol.
Tetapi tidaklah cukup hanya semata-mata memikirkan tentang tanah saja yang membentuk lingkaran itu. Ia juga harus menyamakan dirinya dengan tanah, mengingat-ingat bahwa bagian-bagian yang kasar dank eras dari badannya sendiri juga terdiri dari unsure itu. Untuk tujuan ini ia harus memilih salah satu dari nama-nama yang diberikan pada tanah, yaitu :
1. Pathavi ( Pertiwi ),
2. Mahi,
3. Medini,
4. Bhumi,
5. dll.
Tetapi karena pada umumnya nama yang digunakan adalah Pathavi, maka ia harus bermeditasi dengan penuh perhatian terhadap Pathavi ( Pertiwi ) ini. Sering mengulang-ulang Pathavi sampai memperoleh Nimitta. Ia harus merenungkan pada lingkaran, kadang-kadang dengan mata terbuka, kadang-kadang dengan mata tertutup, sekali pun latihan ini telah diulang untuk beratus-ratus kali atau bahkan beribu-ribu kali. Apabila lingkaran muncul di dalam pikiran sewaktu mata tertutup sejelas apabila mata terbuka, maka tanda itu disebut Uggaha-nimitta, gambaran bathin yang telah dikembangkan dengan baik.
Sekali seorang yogi telah memperoleh nimitta, yogi tersebut tidak boleh tetap duduk di tempat yang sama, tetapi ia harus bangkit dan masuk kedalam tempat tinggalnya sendiri dan disana ia harus duduk kembali untuk bermeditasi pada nimitta itu. Seandainya konsentrasi ini yang masih berada di dalam suatu keadaan yang belum masak menjadi hilang karena gangguan dari beberapa pikiran yang berlawanan, ia harus kembali ke tempat alat itu disimpan dan membentuk nimitta baru lagi. Setelah timbul nimitta lagi, ia pergi ke tempat tinggalnya dan sekali lagi mendudukkan dirinya dengan enak, ia harus mengembangkan dengan perhatian sepenuh hatinya. Menurut Abhidhammatthasangaha, proses ini dsebut “Parikamma”, “Permulaan”, dan konsentrasi yang dihasilkan disebut “Parikamma-Samadhi”.
Di dalam proses perkembangan secara berangsur-angsur dari Samadhi ini, disebabkan oleh Uggaha nimitta maka lima nivarana terkendalikan, kekotoran-kekotoran bathin menghilang dan pikiran diseimbangkan oleh “Upacara-Samadhi”. Kemudian timbul “Pathibhaga-Nimitta” atau nimitta yang “sebanding” yang seratus kali bahkan seribu kali lebih jelas dari Uggaha-nimitta, cacat-cacat nimitta lingkaran kasina masih dapat terlihat dan yang selanjutnya tidak ada lagi.
Pathibhaga-nimitta mempunyai permukaan seperti sebuah kaca yang bersih, atau lingkaran bulan purnama sewaktu baru saja keluar dari awan-awan. Namun, tidak memiliki warna atau permukaan yang pada, sebaliknya akan dapat dikenali oleh indria penglihatan, seperti sesuatu bentuk materi yang kasar yang akan lebih sesuai untuk perenungan terhadap Ti-lakkhana. Bagi seorang siswa meditasi Pathibhaga-nimitta ini hanyalah suatu bentuk pikiran yang timbul dari pencerapan semata-mata. Nimitta ini disebut “Pathibhaga” dalam arti suatu perwujudan bathin dari sifat utama objek, dalam hal ini unsure tanah, yang kosong dari kenyataan mutlak.
Dari saat timbulnya nimitta, nivarana-nivarana tetap ditekan, kekotoran-kekotoran dihancurkan dan pikiran seluruhnya terpusatkan dalam keadaan “Upacara-Samadhi”. Konsentrasi ini disebut : Upacara-samadhi, karena dekat dengan Appana-samadhi atau Jhana-samadhi dan tetap berada pada garis batas antara Kammavacara dan Rupavacara. Karena itu disebut “Kammavacara-samadhi” ( Cf.hal.46 diatas ).
Dalam meditasi Kasina, Upacara-samadhi ini yang mendahului Appana, adalah lemah, karena factor-faktor penyertanya tidak kuat. Tepat seperti seorang bayi, apabila diletakkan pada kakinya akan jatuh dengan cepat, demikian pula pikiran dalam Upacara-Samadhi menetap untuk sesaat pada objek Pathibhaga dan kemudian masuk ke dalam Bhavanga, arus bawah sadar, atau kesadaran yang pasif. Tetapi sekali pikiran telah bangkit dari Bhavanga pada ketinggian Appana-samadhi, yang amat kuat karena itu berhubungan dengan factor-faktor Jhana, pikiran dapat menetap pada objek untuk sepanjang siang dan malam, yang berlangusng dalam suatu rangkaian pikiran-pikiran baik ( Kusala-citta ).
Apabila siswa dalam mengembangkan nimitta memperoleh kemampuan untuk mencapai Jhana dalam proses meditasi dan saat duduk yang sama, maka hal itu adalah terbaik dan sempurna. Apabila tidak, maka ia harus menjaga nimitta dengan semangat yang paling besar, seakan-akan suatu embryo dari seorang raja dunia. Terdapatlah tujuh hal yang harus diikuti dengan hati-hati oleh seorang siswa yang ingin menjaga Kasina-nimittanya :
1. Tempat-tinggal :
Tempat-tinggalnya harus bebas dari apa yang bertentangan dengan kehidupan meditasinya.
2. Desa yang dikunjunginya :
Desa yang ia kunjungi sewaktu pergi mencari makan tidak boleh terlalu jauh, suatu tempat yang ia tidak akan mendapatkan kesukaran dan melelahkan mencari makan.
3. Percakapan
Ia tidak terlibat dalam salah satu dari tiga-puluh-dua (32) macam percakapan yang bersifat keduniawian ( Digha-Nikaya.I.7,dll) yang akan membawa lenyapnya Nimitta.
4. Pergaulan :
Ia tidak bergaul dengan orang-orang yang terlibat percakapan-percakapan keduniawian, sekalipun percakapan itu tentang hal-hal yang diizinkan sebagai pokok-pokok percakapan. Ia hanya boleh bergaul dengan mereka yang tekun bersamadhi.
5. Makanan :
Ia yang menjadi seorang siswa meditasi harus memakan makanan yang tidak merangsang, tetapi yang paling sesuai baginya ( dalam artian, sesuai bagi ketenangan batin dan jasmani ).
6. Musim :
Bagi beberapa orang musim dingin lebih sesuai, sedangkan bagi orang-orang lainnya musim panas adalah yang lebih sesuai, setidak-tidaknya waktu yang paling sesuai bagi si siswa itu harus dipilih untuk latihan.
7. Sikap-sikap :
Sikap atau posisi dari badan jasmani harus dipilih, dengan maksud yang paling sesuai baginya, apakah itu berjalan, berbaging, berdiri, atau duduk. Untuk menemukan apakah yang paling sesuai dan cocok baginya, ia harus mempraktekkan masing-masing sikap selama tiga hari.
Apabila siswa mempraktekkan Samadhi-nimitta dengan patuh pada perintah-perintah ini, maka dalam jangka waktu yang pendek akan mencapa Appana.
Apabila sebaliknya dari praktik ini, maka ia tidak akan berhasil. Untuk mencapai Appana ia harus mengikuti latihan untuk pencapaian Appana yang terdiri atas sepuluh (10) factor-faktor yang disebut “Appana-kosalla”.
Sekalipun latihan ini mungkin tidak berhasil bagi beberapa orang pada permulaannya. Tetapi seorang yang demikian karena itu janganlah berhenti untuk berjuang, karena untuk memenangkan kebahagiaan spiritual adalah sukar bagi orang-orang duniawi yang terlelap di dalam lautan nafsu-nafsu yang dalam selama kehidupan-kehidupan yang tak terhitung banyaknya. Karena itu ia harus melanjutkan prakteknya dengan bersemangat, memberikan perhatian dengan hati-hati pada keadaan bathinnya, menggiatkan bathin apabila melemah dan mengontrolnya apabila terlalu bersemangat. Setelah mempraktekkan nimitta yang sama demikian , mengulang-ulang kata “Pathavi, pathavi… “, batin secara berangsur-angsur menjadi siap sedia, pada saatnya akan mencapai Appana-samadhi.
Dalam cara ini ia akan mencapai Jhana pertama dari Pathavi-kasina menjadi seorang demikian seperti yang diterangkan dalam kitab-kitab suci,
“Bebas dari nafsu-nafsu keinginan, bebas dari pikiran-pikiran jahat, dengan Vitakka dan Vicara, dengan piti dan sukha yang timbul dari kesunyian batin, ia berdiam ( dalam ketenangan ) setelah mencapai Jhana pertama dari Kasina-Pathavi “ ( Dhammasangani.160,hal.31 ).
Buddhagosa Thera memberikan suatu komentar yang panjang tentang rumusan Dhammasangani ini. Siswa yang secara berangsur-angsur mengembangkan nimitta Pathavi-kasina bahkan dapat mencapai pada Jhana kelima dengan metode yang telah saya terangkan pada halaman “Samadhi” di blog ini juga.

Keuntungan Dari Praktek Meditasi “Pathavi-Kasina” :
Sehubungan dengan meditasi Pathavi-Kasina, Visuddhimagga memberikan suatu uraian yang utama berkenaan dengan keuntungan-keuntungan khusus yang dapat diharapkan oleh siswa.
Dengan praktek dari Pathavi Kasina ia akan memperoleh berbagai jenis kekuatan batin ( Abhinna ) berupa “Iddhividdhi”, yaitu :
1. Mampu memperbanyak dirinya dari satu muncul menjadi banyak.
2. Mampu menciptakan kepadatan dari tanah di dalam udara atau pada air,
3. Mampu berjalan, duduk, berdiri atau berbaring di udara atau di permukaan air,
4. Mampu menguasai objek-objek materi ( Abhibhayatana ) baik secara terbatas maupun tak terbatas.

II.2. APO-KASINA
Siswa yang ingin bermeditasi terhadap Apo-kasina harus memperoleh nimitta di dalam air, baik yang disiapkan maupun yang tidak disiapkan. Di sini juga, ia yang sebelumnya pernah mengalami dalam kehidupan yang lalu akan mendapatkan nimitta yang muncul dalam air secara alami, seperti sebuah kolam, danau, sungai, atau laut.
Siswa yang tidak berpengalaman harus mempersiapkan kasina dengan menghindarkan “kesalahan dari kasina”, seperti empat warna.
Dia harus mengambil sebuah jambangan yang dipenuhi dengan air hujan, yang jatuh dengan segar dari udara dan dikumpulkan dengan selembar kain bersih sebelum jatuh ke tanah, atau apabila gagal untuk memperoleh ini, ia harus mengambil air murni lainnya.
Dengan meletakkannya di suatu tempat sunyi, seperti halnya Pathavi kasina, kemudian ia harus duduk dengan enak dan memulai meditasinya. Ia janganlah mempehatikan pada warnanya atau pada corak-coraknya, tetapi hanya sadar terhadap unsure-unsur yang dilambangkan. Dalam bathin ia harus mengulang-ulang salah satu dari kata-kata “ambu”, “udakam”,”vari”, “salilan”, atau “apo”.
Setelah ia mempraktikkannyam berangsur-angsur dua nimitta akan timbul. Apabila terdapat pergerakan di dalam air atau muncul buih-buih, gambaran yang sama dapat timbul dalam Uggaha-nimitta. Akan tetapi, di dalam Patibhaga-nimitta, gambaran tidak akan bergerak, dan seperti sebuah kipas yang diberi permata atau suatu kaca yang ditempatkan di udara. Apabila ini telah benar-benar dikembangkan ia akan mampu mencapai bahkan sampai pada Jhana keempat dan kelima.

Keuntungan Dari Praktek Meditasi “Apo-Kasina” :
Sehubungan dengan meditasi Apo-Kasina, Visuddhimagga memberikan suatu uraian yang utama berkenaan dengan keuntungan-keuntungan khusus yang dapat diharapkan oleh siswa.
Dengan praktek dari Apo Kasina ia akan memperoleh berbagai jenis kekuatan batin ( Abhinna ) berupa “Iddhividdhi”, yaitu :
1. Mampu menyelam ke dalam tanah seakan-akan ia menyelam kedalam air,
2. Mampu menciptakan hujan, air sungai, dan air laut,
3. Mampu mengguncangkan tanah dan karang,
4. Bertempat tinggal di dalam tanah dan karang secara terpisah
5. Menimbulkan air memancar dari setiap bagian tubuhnya seperti yang ia kehendaki.

II.3. TEJO-KASINA
Siswa yang ingin mempraktekkan Tejo-kasina atau symbol-api, harus memperoleh nimitta dalam api, baik yang dipersiapkan atau tidak dipersiapkan. Bagi ia yang sebelumnya pernah mengalami nimitta akan muncul ketika ia memandang nyala sebuah lampu atau kompor untuk memasak, atau sebuah hutan yang terbakar. Seperti apa yang dilakukan oleh Cittagutta Thera. Thera masuk ruangan tempat berkumpul pada hari yang ditentukan untuk memberi khotbah tentang Dhamma, dan ketika ia melihat pada nyala sebuah lampu, Kasina-nimitta muncul padanya.
Dan juga kit abaca di dalam komentar dari Therigatha, bahwa Their Upalavanna menyalakan lampu di gedung pertemuan Uposatha dan mengambil nyala api itu sebagai Nimitta. Dengan merenungkannya ia mencapai Jhana dengan cara symbol api yang menjilat-jilat.
Dengan menjadikan ini sebagai dasar (padaka) secara berangsur-angsur ia mencapai tingkat Arahat ( Therigatha,A.190,Psalms of the Sisters, hal.112 ).
Tetapi ia yang tidak mempunyai keuntungan dari pengalaman yang lampau harus membuat api buatan sebagai berikut :
“ Mengambil kayu api yang telah dipotong dan dikeringkan dengan baik-baik, kemudian dikumpulkan dalam satu ikatan dan harus dibawa pada suatu tempat yang bersih dan tenang, di bawah suatu pohon atau di dalam suatu naungan, lalu membakarnya hingga terjadi suatu nyala api. Dia mengambil sebuah tikar atau selembar kain yang telah dilubangi satu jengkal atau empat inchi garis tengahnya. Tikar atau kain itu ditegakkan seperti sebuah tabir di hadapan api. Dia harus duduk dalam cara yang telah diterangkan di ats dan memandang api melalui lubang itu. “
Dengan tidak memperhatikan rumput-rumputan atau berkas-berkas di bawah atau awan dari asap di atas, ia harus mengambul nimitta dalam pertengahan isi api melalui lubang tersebut. Tanpa memperhatikan warnanya, ia harus memusatkan pikiran padanya. Apabila symbol bathin dan dasar fisik dari nyala api itu didapatkan dalam suatu warna, maka ia harus tetap memusatkan pikirannya pada api sebagai suatu konsep dan bermeditasi dengan mengulang kata-kata “Tejo…, Tejo…”, atau salah satu dari nama-nama api lainnya seperti ; “Pavaka”, “Kanhavattani”, “Jataveda”, atau “Hutasana”.
Setelah ia bermeditasi demikian, dua tanda akan muncul berangsur-angsur. Salah satu dari Uggaha-nimitta itu ( yaitu, symbol api ), muncul padanya sebagai suatu rangkaian nyala api yang membara menjadi nyala api sesaat dan kemudian menjadi padam.
Apabila seorang siswa telah memperoleh nimitta dalam suatu api yang biasa, yaitu, api yang tidak dipersiapkan sebelumnya untuk tujuan ini, cacat dari kasina itu juga akan muncul berupa sebatang kayu terbakar, suatu arang yang terbakar, abu atau asap.
Apabila sekali hal itu telah dikembangkan menjadi Pathibhaga-nimitta, maka nimitta itu nampak seperti selembar selimut merah, suatu kipas yang berwarna keemas-emasan atau seperti suatu tiang yang diletakkan di udara. Dengan kemunculan ini, siswa telah mencapai Upacara-samadhi dan selanjutnya akan dapat mencapai Jhana keempat atau Jhana kelima.

Keuntungan Dari Praktek Meditasi “Tejo-Kasina” :
Sehubungan dengan meditasi Tejo-Kasina, Visuddhimagga memberikan suatu uraian yang utama berkenaan dengan keuntungan-keuntungan khusus yang dapat diharapkan oleh siswa.
Dengan praktek dari Tejo Kasina ia akan memperoleh berbagai jenis kekuatan batin ( Abhinna ) berupa “Iddhividdhi”, yaitu :
1. Menimbulkan asap keluar dari setiap bagian tubuhnya dan api untuk turn dari langit seperti suatu curahan
2. Dengan panas yang memancar dari badannya ia dapat menguasai panas yang keluar dari orang lain,
3. Ia dapat menyebabkan segala sesuatu terbakar dengan seketika,
4. Menciptakan suatu sinar untuk melihat bentuk-bentuk seakan-akan dengan mata-Dewa,
5. Disaat kematian ia dapat membakar tubuhnya sendiri secara langsung dengan unsure panas.

II.4. VAYO-KASINA
Siswa yang ingin mempraktikkan kasina-udara, harus mengambil nimitta di udara, baik dengan pandangan atau dengan sentuhan. Hal ini telah dinyatakan dalam komentar-komentar :
“ Ia yang mempelajari vayo-kasina mengambil nimitta dalam udara, dan mencatat goncangan-goncangan dan ayunan-ayunan dari ujung pohon tebu, atau ujung pohon bamboo, ujung suatu pohon atau seikat rambut, atau ia mencatat udara yang menyentuh badannya. “
Karena itu siswa harus mengambil kasina udara dengan memandang pada pohon tebu atau tanaman lainnya dengan daun-daunan yang lebat,, suatu pohon bamboo atau suatu pohon yang berdiri sejajar dengan pucuknya dan bergoncangan karena pergerakan dari udara. Ia terutama harus mencatat titik dimana angina itu menyentuh dan mengambil bagian ini sebagai symbol.
Apabila ia mengambil udara yang menyentuh jasmaninya, yang masuk melalui jendela, atau suatu lubang di dinding, ia harus mencatat bagian jasmaninya yang disentuh oleh angina. Jadi sadar terhadap angina, ia harus meditasi dengan mengulang kata , “Vayo…vayo… .”, atau beberapa nama serupa lainnya untuk udara, seperti “Vata”, “Maluta”, “Pavana”, atau “Anila”.
Dalam meditasi ini Uggaha-nimitta akan muncul bergoyang, seperti bulatan asap yang naik dari nasi bubur apabila baru saja diangkat dari atas tungku, tetapi Pathibhaga-nimitta tetap dan terang. Hal yang sama dapat dikatakan berkenaan dengan pencapaian Jhana seperti kasina-kasina lainnya.

Keuntungan Dari Praktek Meditasi “Vayo-Kasina” :
Sehubungan dengan meditasi Vayo-Kasina, Visuddhimagga memberikan suatu uraian yang utama berkenaan dengan keuntungan-keuntungan khusus yang dapat diharapkan oleh siswa.
Dengan praktek dari Vayo Kasina ia akan memperoleh berbagai jenis kekuatan batin ( Abhinna ) berupa “Iddhividdhi”, yaitu :
1. Menggerakkan dirinya seperti angin,
2. Menyebabkan angina menghembus dan hujan jatuh dimanapun ia inginkan,
3. Menyebabkan suatu barang (unsure) berpindah sendiri dari suatu tempat ke tempat lainnya.

II.5. NILA-KASINA
Dari empat kasina-warna, siswa yang ingin mempraktekkan kasina biru ( Nila : biru kehijau-hijauan ) harus memperoleh nimitta dalam bunga atau kain biru, atau dalam suatu unsure yang berwarna biru, seperti batu atau logam biru.
Bagi seseorang yang memiliki keuntungan dari pengalaman lampau, tanda akan muncul ketika ia memandang suatu bunga atau tanaman-tanaman bunga yang demikian, atau beberapa objek seperti selembar kain atau permata. Akan tetapi, bagi siswa yang baru mulai, harus mengambil seikat bunga-bunga teratai biru atau Clitoria dan mengatur mereka di dalam sebuah pot atau naman bundar, sehingga mereka dapat membentuk suatu lingkaran, lebat, objek biru, dan harus diperhatikan supaya tak ada serbuk sari atau tangkai-tangkai yang dapat terlihat.
Gagal untuk mendapatkan ini, ia harus membuat suatu alat dari sebuah logam yang berwarna biru, selembar daun yang berwarna biru, atau kolirium biru ( obat untuk mata ). Atau benda-benda lain, sebuah lingkaran dicat biru mempunyai garis tengah satu jengkal atau empat inchi dengan dibatasi oleh beberapa warna lain.
Kasina ini dapat juga dibuat tidak tetap atau dibuat tetap dengan rangka seperti Pathavi kasina atau ditetapkan pada sebuah dinding. Ia kemudian harus merenungkan terhadap warna itu dengan mengulang kata-kata secara batiniah, “Nilam…, nilam!”.
Juga dalam hal ini Uggaha-nimitta memiliki “cacat-cacat” dari symbol aslinya, seperti misalnya urat-urat di daun bunga, bermacam-macam bayangan sekilas, atau bingkai itu. Tetapi Pathibhaga-nimitta muncul bebas dari semua cacat ini, murni dan bersih seperti sebuah kipas yang terbuat dari suatu permata biru.
Mengenai pencapaian Jhana-Jhana, dapat dikatakan sama seperti halnya kasina-kasina lainnya.

Keuntungan Dari Praktek Meditasi “Nila-Kasina” :
Sehubungan dengan meditasi Nila-Kasina, Visuddhimagga memberikan suatu uraian yang utama berkenaan dengan keuntungan-keuntungan khusus yang dapat diharapkan oleh siswa.
Dengan praktek dari Nila Kasina ia akan memperoleh berbagai jenis kekuatan batin ( Abhinna ) berupa “Iddhividdhi”, yaitu :
1. Memancari dunia dalam batas kemampuannya dengan warna biru,
2. Menciptakan bentuk-bentuk biru,
3. Menimbulkan kegelapan,
4. Memperoleh kemampuan terhadap objek-objek yang berwarna biru, baik yang bersih maupun yang tidak bersih bentuknya
5. Mencapai kebebasan dengan kegiuran ( Subhavimokkha ).

II.6. PITA-KASINA
Dalam kasina ini nimitta akan diambil oleh seorang siswa yang telah berpengalaman dalam meditasu suatu bunga kuning atau kain kuning, atau suatu unsure yang berwarna itu. Akan tetapi, bagi siswa yang baru mulai, harus membuat alat seperti yang telah diterangkan diatas dengan menggunakan suatu bunga yang berwarna kuning atau suatu kain kuning, logam atau permata. Meditasi berlangsung dengan pengulangan kata-kata, “Pitakam…,Pitakam… .”. Selanjutnya harus dimengerti seperti kasina-kasina yang lainnya.

Keuntungan Dari Praktek Meditasi “Pita-Kasina” :
Sehubungan dengan meditasi Pita-Kasina, Visuddhimagga memberikan suatu uraian yang utama berkenaan dengan keuntungan-keuntungan khusus yang dapat diharapkan oleh siswa.
Dengan praktek dari Pita Kasina ia akan memperoleh berbagai jenis kekuatan batin ( Abhinna ) berupa “Iddhividdhi”, yaitu :
1. Memancarkan warna kuning dari jasmaninya dan memancarkan ke seluruh dunia,
2. Menciptakan bentuk-bentuk kuning ,
3. Mengubah suatu barang apapun menjadi emas,
4. Memperoleh penguasaan terhadap objek-objek yang berwarna kuning dengan metode di atas dan mencapai kebebasan dengan kegiuran.

II.7. LOHITA-KASINA
Disini juga, siswa yang telah berpengalaman dalam meditasi akan memperoleh nimitta ketika ia memandang suatu bunga yang berwarna merah atau beberapa objek lainnya yang berwarna itu. Tetapi siswa yang baru saja mulai meditasi harus mengambil gambaran batin dari suatu bunga yang berwarna merah, yang dipilih untuk tujuan itu, selembar kain merah atau suatu unsure yang berwarna itu. Apabila ia bermeditasi dengan mengulang, “ Lohitakam…Lohitakam…, Lohitakam… .” , atau, “Merah…Merah…Merah… “. Maka secara berangsur-angsur kedua nimitta akan muncul. Praktek lebih jauh sama seperti kasina-kasina sebelumnya , sampau hal itu membawa pada Jhana keempat dan kelima.

Keuntungan Dari Praktek Meditasi “Lohita-Kasina” :
Sehubungan dengan meditasi Lohita-Kasina, Visuddhimagga memberikan suatu uraian yang utama berkenaan dengan keuntungan-keuntungan khusus yang dapat diharapkan oleh siswa.
Dengan praktek dari Lohita Kasina ia akan memperoleh berbagai jenis kekuatan batin ( Abhinna ) berupa “Iddhividdhi”, yaitu :
1. Menunjukkan warna merah dengan cara yang sama seperti kasina-kasina warna sebelumnya,
2. Memperoleh penguasaan serta kebebasan dengan kegiuran ( Subhavimokkha ).

II.8. ODATA-KASINA
Berkenaan dengan kasina-putih, siswa yang berpengalaman mampu mengambil nimitta ketika ia memandang suatu bunga yang berwarna putih, seperti bunga melati, atau suatu tanaman bunga yang berwarna putih atau selembar kain putih.
Nimitta itu dapat juga timbul pada seseorang yang demikian dalam suatu lingkaran kuningan, perak atau bulan. Bagi orang-orang lain yang belum berpengalaman sebelumnya harus menyiapkan alat dengan bunga putih, bunga teratai putih, bunga lily putih misalnya, atau bila tidak dapat menyiapkan hal-hal ini, selembar kain putih atau alat-alat lainnya.
Kemudian ia melangsungkan meditasi dengan mengulang-ulang kata-kata, “Odatam…Odatam…Odatam… “. Selanjutnya seperti kasina-kasina sebelumnya.

Keuntungan Dari Praktek Meditasi “Odata-Kasina” :
Sehubungan dengan meditasi Odata-Kasina, Visuddhimagga memberikan suatu uraian yang utama berkenaan dengan keuntungan-keuntungan khusus yang dapat diharapkan oleh siswa.
Dengan praktek dari Odata Kasina ia akan memperoleh berbagai jenis kekuatan batin ( Abhinna ) berupa “Iddhividdhi”, yaitu :
1. Menciptakan bentuk-bentuk putih,
2. Mengusir rasa kantuk, kemalasan, dan kelambanan,
3. Mengusir kegelapan,
4. Menciptakan sinar untuk melihat bentuk seakan-akan dengan mata dewa,
5. Memperoleh penguasaan terhadap objek-objek berwarna putih dan kebebasan dengan kegiuran.

II.9. ALOKA-KASINA
Ia yang menginginkan untuk praktik dengan Aloka-kasina, atau symbol sinar, harus mengambil tanda di dalam sinar yang masuk melalui suatu celah di dingding, sebuah lubang kunci, atau suatu jendela yang terbuka.
Tetapi bagi mereka yang telah mempunyai pengalaman sebelumnya tentang kasina ini, nimitta akan muncul ketika ia melihat pada dinding atau tanah yang mempunyai suatu bulatan dari sebidang sinar matahari atau sinar bulan yang masuk melalui suatu lubang di dinding atau atap. Nimitta ini juga dapat dilihatnya ketika ia memandang pada sebidang bulatan di tanah yang dibuat oleh sinar yang memancar melalui celah-celah daun dari suatu pohon.
Siswa yang baru saja mulai harus juga mengambil nimitta dengan melihat pada suatu bidang lingkaran demikian , dan melakukan meditasi pada saat itu dengan mengatakan “ Obhaso…Obhaso… “ atau “Aloko…Aloko… .”.
Ia yang tak mampu melakukan ini harus menyalakan suatu lampu atau lilin yang ditempatkan di dalam sebuah tabung yang tertutup salah satu lubangnya dari lubang yang tidak tertutup menghadap ke tembok. Sinar lampu yang keluar dari lubang akan memancarkan sinar bulatan pada dinding. Cara ini lebih baik Karena cahaya dapat lebih lama daripada yang lainnya. Siswa harus merenungkan cahaya itu dengan mengucap kata, “Aloko…Aloko… “.
Disini Uggaha-nimitta akan mengambil bentuk dari lingkaran yang dibuat pada dinding akan tetapi Pathibhagga-nimitta akan muncul sebagai suatu kumpulan sinar yang terang. Perkembangan yang selanjutnya adalah seperti kasina-kasina yang lainnya yang sudah diterangkan diatas.

Keuntungan Dari Praktek Meditasi “Alo-Kasina” :
Sehubungan dengan meditasi Alo-Kasina, Visuddhimagga memberikan suatu uraian yang utama berkenaan dengan keuntungan-keuntungan khusus yang dapat diharapkan oleh siswa.
Dengan praktek dari Alo Kasina ia akan memperoleh berbagai jenis kekuatan batin ( Abhinna ) berupa “Iddhividdhi”, yaitu :
1. Menciptakan sinra,
2. Menjadikan benda-benda materi yang berbentuk menjadi bersinar,
3. Mengusir kemalasan dan kelambanan,
4. Menciptakan sinar untuk melihat bentuk-bentuk seakan dengan mata-dewa.

II.10. PARICCHINNA-AKASA-KASINA
Berkenaan dengan kasina ini, komentar mengatakan :
“ Ia yang mempelajari akasa-kasina, mengambil nimitta dalam ruang yang dibatasi oleh suatu celah di dinding, suatu lubang kunci atau ruang jendela. Siswa yang tidak dapat mengambil nimitta dalam salah satu dari kesemuanya ini, ia harus membuat lubang yang lebarnya satu jengkal dan empat inchi lebarnya, baik dalam suatu tanda yang tertutup dengan baik atau pavilion, suatu tikar atau benda-benda lain yang serupa. Dengan mengulang kata-kata, “Akaso…Akaso…” ketika ia bermeditasi, ia akan mendapatkan uggaha-nimitta muncul dalam bentuk suatu celah atau suatu lubang kunci dan lain-lain, tetapi tidak dapat diperluas. Akan tetapi, Pathibhagga-nimitta muncul tanpa batas-batas ( seperti sisi-sisi dari suatu dinding atau lubang kunci ), sebesar lingkaran langit dan cenderung berkembang terus menerus. Selanjutnya praktekkan sesuai dengan yang telah diterangkan dalam penjelasan mengenai Pathavi-kasina.

Keuntungan Dari Praktek Meditasi “Akasa-Kasina” :
Sehubungan dengan meditasi Akasa-Kasina, Visuddhimagga memberikan suatu uraian yang utama berkenaan dengan keuntungan-keuntungan khusus yang dapat diharapkan oleh siswa.
Dengan praktek dari Akasa Kasina ia akan memperoleh berbagai jenis kekuatan batin ( Abhinna ) berupa “Iddhividdhi”, yaitu :
1. Menemukan objek-objek yang disembunyikan,
2. Menyebabkan benda-benda muncul karena hilang atau disembunyikan,
3. Melihat ke dalam pertengahan batu karang atau tanah,
4. Menembus tanah dan batu karang dan menciptakan ruang di dalamnya,
5. Berjalan melalui dinding dan barang-barang lain yang padat.

Sabtu, 25 Juli 2009

HUKUM SEBAB-MUSABAB YANG SALING BERGANTUNGAN

” Yo paticcasamuppadam passati, so Dhammam passati. Yo Dhammam passati, so paticcasamuppadam passati.”

(Ia yang melihat Paticcasamuppada, juga melihat Dhamma. Ia yang melihat Dhamma, juga melihat Paticcasamuppada)

~ Maha-hatthipadopama Sutta; Majjhima Nikaya 28 ~


ARTI DARI GAMBAR PATICCASAMUPPADA

  1. Seekor ayam ; melambangkan keserakahan,
  2. Seekor ular ; melambangkan kebencian,
  3. Seekor babi ; melambangkan kegelapan-batin.

Makna dari gambar tersebut adalah, keserakahan dan kebencian selalu muncul bersama-sama dengan kegelapan batin. Ketiganya [ keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kegelapan batin (moha) ] merupakan sebab akar buruk yang menyebabkan tumimbal lahir.

Makna dari Jalan “Putih” dan Jalan “Hitam”

Di sebelah luar dari pusat tersebut, terdapat jalan berwarna putih, dan jalan berwarna hitam. Di jalan berwarna putih, orang-orang berjalan dengan benar di dalam cara-cara latihan yang bermanfaat ( kusala kamma ), baik Bhikkhu maupun upasaka-upasika. Sedangkan di jalan berwarna hitam, orang-orang telanjang ( symbol tidak tahu malu akibat berbuat jahat / ahirika dan tidak takut akan akibat perbuatan jahat / anottappa ) jatuh kebawah akibat perbuatan-perbuatan jahatnya ( akusala kamma ).

Dari jalan yang putih, dapat memasuki dua alam yang menyenangkan, namun dari jalan yang hitam jatuh ke dalam alam-alam menyedihkan. Selama ketiga-akar [ dosa, lobha, dan moha] masih ada, maka semua makhluk akan selalu berputar-putar melalui jalan “putih” dan “hitam”.

Alam-alam Menyenangkan

Alam-alam yang menyenangkan ditunjukkan pada gambar di sebelah atas di dalam lingkaran. Alam atas sebelah kanan melambangkan alam surga. Pada gambaran ini, terdapat alam-alam para Brahma bercahaya, alam istana para dewa yang cemerlang, alam istana para dewa yang meredup, di sebelah bawahnya terdapat gambar asura-deva yang sedang berperang dengan para dewa.

Di sebelah kiri alam dewa, digambarkan alam manusia. Ada rumah sakit ( palang merah ), ada gereja, ada Sang Buddha sedang membabarkan Dhamma kepada lima orang petapa, ada dewa sedang mendengarkan khotbah ( di sekitar pohon ), ada mesjid, ada tank baja untuk berperang, dan sebagainya. Dari mulut Sang Buddha keluar Dhamma yang berupa jalur teratai yang melintasi mata rantai “Jati” dan “Jara-marana”. Selama masa kehidupan, kita dapat memotong rantai untuk merealisasi Nibbana melalui Jalan Ariya Beruas Dealapan.

Alam Para Hantu ( Peta )

Alam para hantu digambarkan di sebelah kanan bawah. Ada hantu bermulut sebesar lubang jarum, ada

, ada hantu yang bergelimpangan di ng bergelimpangan di limpangan di kotoran, ada hantu yang kepanasan ( dalam gambar matahari sepotong ), ada hantu yang mengerubuti se

kotoran, ada hantu yang kepanasan ( dalam gambar matahari sepotong ), ada hantu yang mengerubuti sesajian di meja Puja / sembahyang, ada hantu yang mengganggu pelimpahan jasa, ada hantu yang semua makanan yang dimakannya berubah menjadi api, dan berbagai jenis hantu.

Alam Binatang

Alam binatang ada dibawah alam manusia. Ada sapi sedang meluku sawah, ada ikan ( ada orang yang memancingnya ), ada burung, ada pemburu sedang membidik burung, ada kambing dan pintu kandang, ada kapal selam, ada ikan besar memakan ikan kecil, ular dimakan burung, dan sebagainya. Kehidupan binatang serba tidak tenang.

Alam Neraka

Di dasar lingkaran, digambarkan alam neraka. Ada makhluk yang menggelepar di sungai darah yang mendidih, ada yang tubuhnya tak kuasa dicabik-cabik binatang,tak terhindarkan tertusuk-tusuk batang pohon berduri, ada yang tersirami air panas, dan sebagainya, yang semuanya mengalami sensasi sangat tidak menyenangkan yang tak terhindarkan akibat kamma-buruknya.

Makna dari Rantai yang Mengitari Ke-31 Alam Kehidupan

“]Gbr.Paticcasamuppada [sumber : Majalah Dhammacakka, 2006 ]

Gbr.Paticcasamuppada [sumber : Majalah Dhammacakka, 2006


Mengitari alam-alam tersebut diatas ( representasi dari ke-31 alam kehidupan ) adalah rantai sebab-musabab yang saling bergantung ( paticcasamuppada ), dengan simbolisasi 12 mata rantai. Penjelasan dimulai dari mata rantai sebelah kanan mulut raksasa :

  1. Mata rantai pertama ; dengan gambar pria buta tua sedang bersandar pada tongkatnya, bingung menentukan arah. Ada tonggak-tonggak yang menghadang di depannya. Gambar ini melambangkan Avijja ( kegelapan batin ).
  2. Mata rantai kedua ; dengan gambar pembuat periuk. Di sebelah belakangnya ada periuk yang sudah dibuat, ada yang masih utuh, ada yang besar, kecil, gendut, ada yang sudah pecah, sementara ia masih terus membuat periuk. Gambar tersebut melambangkan perbuatan-perbuatan lampau yang dilakukan ( sankhara ), yang baik maupun yang jelek, ada yang sudah berbuah ( pecah ), ada yang belum berbuah ( masih utuh ), dan tetap orang itu melakukan kamma terus-menerus ( membuat pot / periuk ).
  3. Mata rantai ketiga ; dengan gambar seekor kera yang sedang meloncat dari dahan pohon yang sudah kering tanpa daun buah ke pohon yang masih lebat dan banyak buah. Gambar kera tersebut melambangkan kesadaran (vinnana), yaitu kesadaran melihat, mendengar, mencium bau, mengecap rasa kecapan, mengalami sentuhan, memikirkan, kesadaran tumimbal lahir yang merupakan penerusan dari “kehidupan yang lampau” ( pohon kering ) ke “kehidupan yang baru” ( pohon yang masih hijau dan lebat buahnya ), sehingga terjadilah “makhluk-baru”.
  4. Mata rantai keempat ; dengan gambar pemuda dan pemudi (sepasang) sedang duduk di dalam perahu yang sama mendayung sampan bersama. Gambar tersebut melambangkan batin dan jasmani ( nama-rupa ) yang bersatu dalam berproses (bekerja bersama-sama) terombang-ambing di tengah-tengah lautan kehidupan.
  5. Mata rantai kelima ; dengan gambar rumah yang memiliki lima (5) jendela dan satu (1) pintu. Gambar tersebut melambangkan bahwa di dalam batin dan jasmani (rumah) ini terdapat lima pintu indera dan satu pintu pikiran ( enam landasan indera / salayatana ).
  6. Mata rantai keenam ; dengan gambar sepasang muda-mudi sedang duduk di malam hari dengan bulan sabitnya, tangan pemuda sedang kontak dengan pemudi. Gambar tersebut melambangkan kontak ( Phassa ) antara enam landasan indera dengan objek-objeknya yang bersesuaian.
  7. Mata rantai ketujuh ; dengan gambar orang terjatuh karena kedua matanya terkena panah. Gambar tersebut melambangkan perasaan ( vedana ). Perasaan akan membutkan seseorang bila orang tersebut tidak memiliki pengendalian diri dan perhatian murni ( Sati ).
  8. Mata rantai kedelapan ; dengan gambar malam hari dengan bulan sabitnya orang masih makan, minum-minuman keras. Gambar tersebut melambangkan nafsu ( tanha ) yang membuat seseorang lupa daratan, mabuk kepayang.
  9. Mata rantai kesembilan ; dengan gambar orang sedang memetik buah-buahan. Walaupun keranjang telah terisi penuh buah, namun ia tetap masih memetik sehingga ada banyak buah tercecer di sekitar keranjang. Gambar tersebut melambangkan kemelekatan ( upadana ).
  10. Mata rantai kesepuluh ; dengan gambar seorang wanita hamil. Gambar tersebut melambangkan suatu proses menjadi (bhava) yang memiliki kekuatan untuk diteruskan di dalam kelahiran selanjutnya dan menyebabkan penderitaan menjadi lebih panjang.
  11. Mata rantai kesebelas ; dengan gambar seorang wanita sedang melahirkan. Gambar tersebut melambangkan proses kelahiran kembali/tumimbal lahir ( Jati ).
  12. Mata rantai keduabelas ; dengan gambar seorang tua renta sedang berjalan dan seonggok mayat sedang terbujur kaku. Gambar tersebut melambangkan proses penuaan ( jara ) dan kematian ( marana ) yang menimpa setiap makhluk yang dilahirkan. Antara kelahiran dan kematian, selama masih ada avijja dan tanha maka selalu terjadi proses-proses kamma dan berlanjutlah proses paticcasamuppada ini.

Semua kehidupan kita merupakan proses dari dua belas mata-rantai tersebut. Rantai melingkar itu dicengkeram oleh RAKSASA “KALA” / BATHARA “KALA” ( waktu ), melambangkan ketidak-kekalan ( adanya batasan waktu ). Semua diputar oleh kaki dan tangan bathara ‘kala’ (waktu) tersebut.

Di atas kepala raksasa tersebut terdapat mahkota dengan lima buah tengkorak kepala, yang melambangkan bahwa makhluk-makhluk dalam samsara ini mengagungkan mahkota lima kelompok perpaduan ( Pancakkhandha ) yang membahayakan, dan membentuk “diri” kita. Padahal , kelima kelompok perpaduan ( pancakhada ) tersebut pada hakekatnya adalah tidak-kekal ( anicca ), derita ( dukkhaa ) dan anatta ( tanpa-aku ).

Seluruh alam, rantai melingkar , dan raksasa itu dikelilingi oleh lidah api, yang panas. Api yang membakar ini melambangkan panasnya dosa (kebencian/kemarahan), lobha (keserakahan akan keindriyaan ), dan moha ( kegelapan/kebodohan batin).

Dibawah rantai tersebut, terdapat ekor raksasa yang panjang sekali, hingga tak terlihat ujungnya. Hal ini melambangkan kelahiran dan kematian kita yang tak dapat ditelusuri awal-mulanya. Setiap pertanyaan tentang yang “awal” ( prima-causa ) itu akan mengundang spekulasi menyesatkan dan sangat tidak bermanfaat dalam upaya menghancurkan penyebab penderitaan.

Di sisi sebelah kiri atas, ada gambar jalan Dhamma yang telah dibabarkan dengan sempurna oleh Sang Buddha, dilambangkan dengan gambar teratai delapan (8) buah dimulai dari mulut beliau menuju As roda dhamma yang berjari-jari delapan (8) buah.

Delapan teratai dijalani oleh para Bhikkhu dan para upasaka-upasika. Delapan bunga teratai melambangkan “Jalan Ariya Beruas Delapan” ( Ariya Atthangika Magga ), sedangkan jari-jari roda melambangkan kondisi dunia ( Lokadhamma 8, yaitu untung-rugi, dicela-dipuji, terhormat-tidak terhormat, suka-duka ).

Di luar jari-jari terdapat empat (4) kali tiga (3) buah teratai, yang melambangkan empat kesunyataan mulia dalam tiga tahap perkembangan batin yang merealisasinya ( tiga tahap dua belas segi pandangan seperti dibahas dalam Dhammacakkappavattana Sutta ), As roda dhamma sudah tidak berputar (diam), melambangkan Nibbana. Jalur teratai itu keluar dari mulut Sang Buddha di alam manusia melintasi mata rantai jati dan jara-marana.

Di sisi kanan atas, terdapat Buddha sedang menunjukkan Nibbana yang berada di tepi seberang, Beliau yang telah selamat, terbebas dari sakitnya pengembaraan, dan memperingatkan kita yang masih jatuh bangun di dasar jurang gelap yang membahayakan dan menghadapi kita dimanapun.

Gbr.3

Melalui gambar tersebut, bisa kita pahami, bahwa semua makhluk yang belum “terbebas” , akan berputar-putar dalam arus samsara, selalu bertumimbal-lahir ; bisa di alam neraka, alam para hantu / setan, alam binatang, alam para jin ; atau jika karma baiknya mencukupi, bisa terlahir di alam manusia, alam2 surga Kammadhatu, alam Rupa-Brahma hingga Arupa-Brahma. Hanya jika kita telah “terbebas”, maka kita tidak akan terlahir lagi di ke-31 alam kehidupan tersebut, yaitu saat merealisasi “Nibbana”, yang pada gambar tersebut digambarkan dengan “as” roda dhamma yang sudah tidak berputar (diam),

PEMBAHASAN POKOK : PATICCASAMUPPADA

Paticcasampuppada, adalah hukum sebab-musabab yang saling bergantungan. Pemahaman hukum ini merupakan hal yang sangat mendasar dalam pengajaran Buddha-Dhamma. Hukum ini, telah ada di alam semesta tanpa kemunculan seorang Buddha sekalipun. Hukum ini , bukanlah “ciptaan” / “rekayasa” seorang Samma-Sambuddha. Namun, sebagaimana semua Dhamma, memang hanyalah seorang Samma-Sambuddha yang mampu menyingkapkannya. Sebelum kemunculan seorang Samma-Sambuddha, hukum Paticcasamuppada belum pernah terdengar , dalam pengajaran manapun. Dalam Kitab Ti-pitaka Pali, banyak diterangkan, bagaimana detik-detik proses pencapaian pencerahan-sempurna Sang Buddha yang dilewati dengan penembusan akan hukum paticcasamuppada ini.

Pembabaran paticcasamuppada ini adalah untuk memperlihatkan kebenaran dari keadaan yang sebenarnya, dimana tidak ada sesuatu itu timbul tanpa sebab. Bila kita mempelajari Hukum Paticcasamuppada ini dengan sungguh-sungguh, kita akan terbebas dan pandangan salah dan dapat melihat hidup dan kehidupan ini dengan sewajarnya.

Paticcasamuppada ini adalah merupakan obyek dasar dari Vipassana Bhavana termasuk salah satu obyek dari keenam obyek dasar Vipassana Bhavana, yaitu :

  1. Khanda 5/Pancakkhanda
  2. Dhatu 18
  3. Ayatana 12
  4. Indriya 22
  5. Paticcasamuppada
  6. Ariya Sacca/Cattari Ariya Saccani

Gbr.4

Secara singkat, hukum paticcasamuppada dapat dirumuskan sebagai berikut :

“ Imasming Sati Idang Hoti,

Imassuppada Idang Uppajjati,

Imasming Asati Idang Na Hoti,

Imassa Nirodha Idang Nirsujjati “

Artinya =

“ Dengan adanya ini, maka adalah itu,

Dengan timbulnya ini, maka timbullah itu,

Dengan tidak adanya ini, maka tidak adalah itu,

Dengan padamnya ini, maka padamlah itu.”

Rumusan singkat diatas, mengandung makna yang sangat dalam. Dalam rumusan diatas, kata “timbul” tidak sama dengan kata “ada”, dan kata “padam” tidak sama dengan kata “tidak-ada”. Apabila salah satu kalimat diatas tidak-ada, maka rumusan tersebut tidak mencerminkan kaidah Paticcasamuppada secara tepat.

Di dalam Nidana Vagga, Samyutta Nikaya I : 1 : 1, Sutta Pitaka, Paticcasamuppada diuraikan di dalam dua model sebagai kemunculan dukkha dan padamnya dukkha. Berdasarkan prinsip dari saling menjadikan, relatifitas dan saling bergantungan ini, maka seluruh kelangsungan dan kelanjutan hidup dan juga berhentinya hidup dapat diterangkan dalam formula dari duabelas nidana (sebabmusabab):

a). Proses Kemunculan yang saling bergantungan ( Anuloma ) :

  1. Avijja (1) Paccaya Sankharang (2)
    Dengan adanya Avijja (ketidaktahuan/kebodohan), maka muncullah Sankhara (bentuk-bentuk perbuatan/kamma).
  2. Sankhara (2) Paccaya Vinnanang (3)
    Dengan adanya Sankhara (bentuk-bentuk perbuatan/kamma), maka muncullah Vinnana (kesadaran).
  3. Vinnana (3) Paccaya Nama-Rupang (4)
    Dengan adanya Vinnana (kesadaran), maka muncullah Nama-Rupa (batin dan jasmani).
  4. Nama-Rupa (4) Paccaya Salayatanang (5)
    Dengan adanya Nama-Rupang (batin dan jasmani), maka muncullah Salayatana (enam indera).
  5. Salayatana (5) Paccaya Phassa (6)
    Dengan adanya Salayatana (enam indera), maka muncullah Phassa (kesan-kesan).
  6. Phassa (6) Paccaya Vedana (7)
    Dengan adanya Passa (kesan-kesan), maka muncullah Vedana (perasaan)
  7. Vedana (7) Paccaya Tanha (8)
    Dengan adanya Vedana (perasaan), maka muncullah Tanha (keinginan/kehausan).
  8. Tanha (8) Paccaya Upadanang (9)
    Dengan adanya Tanha (keinginan/kehausan), maka muncullah Upadana (kemelekatan).
  9. Upadana (9) Paccaya Bhavo (10)
    Dengan adanya Upadana (kemelekatan), maka muncullah Bhava (proses tumimbal lahir).
  10. Bhava (10) Paccaya Jati (11)
    Dengan adanya Bhava (proses tumimbal lahir), maka muncullah Jati (kelahiran kembali).
  11. Jati (11) Paccaya Jaramaranang (12)
    Dengan adanya Jati ( kelahiran kembali), maka muncullah
    Jaramaranag
    (kelapukan, kematian, keluh-kesah, sakit, dan sebagainya).

Gbr.5

b). Proses kepadaman yang saling bergantungan ( Patiloma ) :

  • Dengan padamnya avijja (1), maka padamlah sankhara(2).
  • Dengan padamnya sankhara (2) maka padamlah vinnana (3).
  • Dengan padamnya vinnana (3) maka padamlah nama-rupa (4).
  • Dengan padamnya nama-rupa (4) maka padamlah salayatana (5).
  • Dengan padamnya salayatana (5) maka padamlah phassa (6).
  • Dengan padamnya phassa (6) maka padamlah vedana (7).
  • Dengan padamnya vedana (7) maka padamlah tanha (8).
  • Dengan padamnya tanha (8) maka padamlah upadana (9).
  • Dengan padamnya upadana (9) maka padamlah bhava (10).
  • Dengan padamnya bhava (10) maka padamlah jati (11).
  • Dengan padamnya jati (11) maka padamlah jara-marana (12).

Saudara-saudari, dan para sahabat yang tercinta, rumusan diatas merupakan rumusan umum yang sering dibahas. Sebenarnya, di dalam mempelajari Paticcasamuppada ini, terdapat beberapa sudut pandang pembahasan, yaitu =

1. Dipandang dari 12 faktor / Dvadasangani ( nidana 12 ).

Dvadasangani adalah 12 faktor, yaitu Avijja, Sankhara, Vinnana, Nama-Rupa, Salayatana, Phassa, Vedana, Tanha, Upadana, Bhava, Jati dan Jara marana.

2. Dipandang dari 3 periode ( tayo-addha 3 )

Tayo-Addha adalah 3 masa, yaitu Avijja dan Sankhara faktor ini termasuk Atita-Addha (masa yang lampau). Jati dan Jara-marana 2 faktor ini termasuk Anagata addha (masa yang akan datang). Sedangkan selebihnya dibagian tengah ada 8 faktor (vinnana, nama-rupa, salayatana, phassa, vedana, tanha, upadana dan bhava) termasuk Paccuppanna-addha (masa yang sekarang)

3. Dipandang dari 3 hubungan ( ti-sandhi )

Tisandhi adalah 3 hubungan, yaitu Sankhara dengan Vinnana menjadi 1 hubungan, Vedana dengan Tanha menjadi 1 hubungan Bhava dengan Jati menjadi 1 hubungan.

4. Dipandang dari 2 akar ( dve-mulani )

Dvemulani adalah 2 akar, yaitu Avijja dan Tanha.

5. Dipandang dari 3 lingkaran ( tini-vattani )

Tini-Vattani adalah 3 lingkaran, yaitu :

  1. Avijja, Tanha dan Upadana jumlah 3 faktor ini menjadi Kilesa-Vatta.
  2. Sankhara dan Bhava (khusus Kamma-Bhava) jumlah 2 faktor ini menjadi Kamma-Vatta.
  3. Vinnana, Nama-Rupa, Salayatana, Phassa, Vedana dan Bhava (khusus Uppati-Bhava), Jati dan Jaramarana jumlah 8 faktor ini menjadi Vipaka- Vatta.

6. Dipandang dari 4 bagian ( cattu-sankhepa )

  1. Avijja dan Sankhara jumlah 2 faktor ini menjadi 1 bagian.
  2. Vinna, Nama-Rupa, Salayatana, Phassa dan Vedana jumlah 5 faktor ini menjadi 1 bagian.
  3. Tanha, Upadana dan Bhava jumlah 3 faktor ini menjadi 1 bagian.
  4. Jati dan Jara-marana jumlah 2 faktor ini menjadi 1 bagian.

7. Dipandang dari 4 fase 5 sebab akibat ( visatakara )

a. Keadaan yang menjadi sebab yang lampau (atitahetu) ada 5 faktor, yaitu Avijja, Sankhara, Tanha, Upadana dan Bhava.

  1. Keadaan yang menjadi akibat yang sekarang (paccuppanna-phala) ada 5 faktor yaitu, Vinnana, Nama-Rupa, Salayatana, Phassa dan Vedana.

c. Keadaan yang menjadi sebab yang sekarang (paccuppanna-hetu) ada 5 faktor, yaitu Tanha, Upadana, Bhava, Avijja dan Sankhara.

d. Keadaan yang menjadi akibat yang akan datang (anagata-phala) ada 5 faktor, yaitu Vinnana, Nama Rupa, Salayatana, Phassa dan Vedana.

Pada kesempatan pembahasan kali ini, kami hanya akan membahas sudut pandang yang pertama, yaitu dari sudut pandang 12 faktor ( nidana 12 ). Namun, jika kita telah mempelajari dan mengerti sudut pandang ini, kita jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan, karena kita harus mempelajari ke-6 sudut pandang yang lainnya sesuai tersebut diatas. Bila kita tergesa-gesa mengambil kesimpulan, dapat mengakibatkan munculnya pandangan salah, yaitu pandangan salah yang menyatakan bahwa sebab pertama adalah Avijja ( kebodohan batin ). Pernyataan ini sebagai akibat pengaruh ajaran lain yang menyatakan bahwa ada suatu ‘ujung’ dari segala sebab, yaitu factor “X”, dan ternyata factor “X” ini di dalam Buddha-Dhamma adalah “Avijja”. Padahal, tidak demikianlah sesungguhnya, Avijja bukanlah sebab pertama.

PATICCASAMUPPADA DAN TUMIMBAL-LAHIR

Gbr.6

Paticcasamuppada berkaitan erat dengan proses tumimbal-lahir. Ia menerangkan segala fenomena hidup dan kehidupan, proses “mengada”.

Untuk memudahkan pemahaman, disini kami menggunakan ilustrasi gambar Paticcasamuppada yang sudah sangat dikenal dikalangan para siswa Sang Buddha. Bagi yang tidak beragama Buddha, jangan salah pengertian, gambar tersebut bukanlah alat “tolak-bala”, atau “cap jie shio”, atau untuk ditempelkan di jidat vampire dalam film klasik Tiongkok :D . Nanti , kami akan menjelaskan apa arti dari gambar tersebut. Sekarang, mari kita membahas satu-demi-satu mata-rantai dalam Paticcasamuppada ini.

Rantai Pertama : Avijja

Ketidaktahuan ( avijja ) tentang kesunyataan adanya penderitaan, sebab, akhir, dan jalan untuk mengakhiri, merupakan sebab utama yang menggerakkan roda kehidupan semua makhluk. Avijja, adalah ketidaktahuan akan “sesuatu” sebagai mana adanya, atau diri sendiri ( “Aku” / “Atman” ) sebagai mana adanya. Ketidaktahuan ini merupakan “kegelapan-batin”, bagaikan kabut pekat yang menyelimuti batin semua makhluk, menghalau pemahaman terhadap semua pengertian benar.

“ Ketidak-tahuan merupakan khayalan yang kuat, tempat kita berkelana begitu lama disini, di kehidupan ini “ , demikian Sabda Sang Buddha.

Saat kita mencapai Pencerahan-Sempurna, ketidaktahuan akan dihancurkan dan berubah menjadi pemahaman benar, semua hubungan sebab akibat pun hancur.

Sang Buddha bersabda,” Mereka yang telah menghancurkan khayalan dan menembus kegelapan yang tebal, tak akan mengembara lagi; sebab akibat tiada lagi pada mereka “.

Ketidaktahuan terhadap yang lampau, yang akan datang, baik masa lampau maupun yang akan datang, baik masa lalu maupun yang akan datang serta Paticcasamuppada juga dipandang sebagai Avijja.

Rantai Kedua : Samkhara

Disebabkan oleh ketidaktahuan timbullah kegiatan yang dipersiapkan ( Samkhara ). Samkhara mempunyai arti beraneka-ragam, harus dimengerti berdasarkan konteksnya. Samkhara berarti kehendak ( cetana ) tidak baik ( akusala ), baik ( kusala ) dan tak tergoyahkan ( anenja ) yang merupakan Kamma penghasil tumimbal lahir. Yang pertama, akusala, mencakup semua kehendak dari 12 bentuk kesadaran yang tidak baik; yang kedua, kusala , mencakup semua kehendak dalam 8 bentuk kesadaran yang indah ( sobhana ) dan 5 macam Rupa-Jhana yang baik; yang ketiga, anenja, mencakup semua kehendak dalam 4 bentuk kesadaran Arupa-Jhana yang baik.

Semua pikiran,ucapan dan perbuatan, baik atau buruk, termasuk dalam samkhara.

Perbuatan baik atau buruk, yang langsung atau tak langsung, berakar pada ketidaktahuan ( avijja ), yang tentunya menghasilkan akibat, cenderung untuk memperpanjang pengembaraan dalam Samsara.

Walaupun begitu, perbuatan baik yang bebas dari ketamakan, kebencian dan khayalan, diperlukan untuk membebaskan diri dari penderitaan kehidupan.

Ketidaktahuan menonjol dalam perbuatan tak baik, ia tertutup oleh perbuatan baik. Oleh karena itu baik perbuatan baik maupun buruk dinilai sebagai akibat ketidaktahuan. Seorang Yang-Tercerahkan-Sempurna, Yang-Tersadar, tidak lagi memiliki tunas-tunas perbuatan baik dan perbuatan buruk, oleh karenanya ia tidak akan terlahir dalam rahim manapun juga, baik alam surga ( alam para dewa ), alam manusia, apalagi alam binatang dan alam setan.

Rantai Ketiga : Patisandhi – Vinnana

Bergantung pada perbuatan yang dipersiapkan pada waktu lampau ( samkhara ) muncul kesadaran penyambung atau tumimbal lahir ( patisandhi vinnana ) dalam kehidupan berikut. Disebut begitu karena ia menghubungkan masa lampau dan saat ini, serta merupakan kesadaran awal yang dialami seseorang pada saat pembentukan.

Janin dalam rahim seorang ibu dibentuk oleh perpaduan antara kesadaran penyambung dengan sperma dan sel telur orang tuanya. Dalam kesadaran itu terpendam semua kesan dari kehidupan sebelumnya, ciri-ciri dan kecenderungan dari aliran kehidupan pribadi yang bersangkutan. Kesadaran tumimbal lahir ini dinilai bersih karena ia bebas dari akar kejahatan; keserakahan, kebencian, dan khayalan/nafsu, maupun dari akar kebaikan.

Rantai Keempat : Nama dan Rupa

Bersamaan dengan timbulnya kesadaran penyambung muncullah batin dan jasmani ( nama-rupa ), atau beberapa orang terpelajar lebih suka menyebutnya sebagai,” organisme untuk memenuhi kebutuhan badaniah.”

Unsur ke-2 dan ke-3 ( samkhara dan vinnana ) menyinggung kehidupan masa lalu dan saat ini. Unsur ke-3 dan ke-4 ( vinnana dan nama-rupa ) sebaliknya berada dalam satu masa.

Perpaduan nama-rupa harus dimengerti sebagai nama ( batin ) saja, rupa ( jasmani ) saja, maupun nama-rupa ( batin dan jasmani ) secara bersamaan. Dalam kasus Alam tak berbentuk ( Arupa ) hanya muncul batin dalam hal Alam tanpa batin ( Asanna ) hanya jasmani saja, dalam hal keindriaan ( kama ) dan alam berbentuk terdapat batin dan jasmani.

Nama menunjukkan tiga ( 3 ) kelompok : perasaan ( vedana ), persepsi ( sanna ) dan keadaan mental ( samkhara ), yang muncul bersamaan dengan kesadaran penyambung.

Rupa menunjukkan tiga ( 3 ) bagian; tubuh ( kaya ), sex ( bhava ), dan tempat kesadaran ( vatthu ), yang juga muncul bersamaan dengan kesadaran penyambung, dan ditentukan oleh kamma masa lampau.

Bagian tubuh terdiri dari empat ( 4 ) unsur, yaitu : 1.unsur padat, tanah ( pathavi ), 2.unsur cair, air ( apo ), 3.unsur panas, api ( tejo ), 4.unsur gerak, udara ( vayo ); dengan enam ( 6 ) hal yang mengikuti ( upada rupa ), yaitu : 5.warna ( vanna ), 6.bau ( gandha ), 7.rasa ( rasa ), 8.pokok yang utama ( oja ), 9.tenaga hidup ( jivitindria ), 10.tubuh ( kaya ).

Sex (terdiri atas 10 bagian) dan dasar kehidupan (yang terdiri atas 10 bagian), juga berturut-turut terdiri dari 9 hal pertama serta sex ( bhava ) dan tempat kesadaran ( vatthu ).

Jadi dari penjelasan itu jelas sex ditentukan oleh kamma masa lampau pada saat terjadi pembuahan.

Kaya, berarti bagian tubuh yang peka ( pasada ).

Sex tidak berkembang pada saat pembentukan, tetapi pada kemampuan terpendam ke arah itu. Bukan jantung maupun otak, yang dianggap sebagai tempat kesadaran, tapi kemampuan tempat itulah yang terpendam, berkembang sejak terjadinya pembuahan.

Rantai Kelima : Salayatana

Pada masa pembentukan janin, enam ( 6 ) dasar indria ( salayatana ) secara bertahap berkembang dengan pesat dari perwujudan batin dan jasmani yang latent. Bintik sangat kecil yang tak berarti, sekarang berkembang menjadi peralatan enam ( 6 ) indria yang kompleks.

Enam landasan indria ini muncul bersamaan dengan “nama-rupa”. Enam landasan indria ini merupakan akibat (vipaka) kamma kehidupan yang lampau.

Peralatan manusia sangat sederhana pada awalnya tetapi sangat rumit pada akhirnya. Sebaliknya, peralatan biasa, sangat rumit pada awalnya tetapi sangat sederhana pada akhirnya.

Rantai Keenam : Sentuhan ( Phassa )

Sekarang peralatan enam ( 6 ) indria manusia bekerja secara mekanis tanpa sesuatu yang bertindak sebagai penggerak. Ke-6 indria, mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan batin, berturut-turut mempunyai objek dan fungsi sendiri. Enam ( 6 ) objek indria seperti bentuk, suara, bau, rasa enak, yang dapat diraba dan objek mental yang bersentuhan dengan alat indria, masing-masing memberikan 6 macam kesadaran. Perpaduan antara alat indria, objek indria dan hasil kesadaran yaitu sentuhan ( phassa ) yang murni bersifat subjektif, tak bersangkut paut dengan orang tertentu.

Sang Buddha mengatakan, “ Karena mata dan bentuk, timbul kesadaran melihat; sentuhan merupakan perpaduan ketiga hal itu. Karena telinga dan suara, timbul kesadaran mendengar; karena hidung dan bau, timbul kesadaran penciuman; karena lidah dan lezat, timbul kesadaran kelezatan; karena tubuh dan objek yang biasa disentuh, timbul kesadaran sentuhan; karena pikiran dan objek mental, timbul kesadaran pikiran. Perpaduan ketiga hal itu adalah sentuhan. “

Sehingga, phassa / kesan-kesan kontak tersebut adalah sebagai berikut ;

  1. kesan/kontak mata
  2. kesan/kontak telingga
  3. kesan/kontak hidung
  4. kesan/kontak lidah
  5. kesan/kontak jasmani
  6. kesan/kontak pikiran

Rantai Ketujuh : Perasaan ( Vedana )

Jangan dianggap bahwa hanya dengan bersinggungan timbul sentuhan ( na sangatimatto eva phasso ). Begantung pada sentuhan muncul perasaan ( vedana ). Sesungguhnya, perasaan inilah yang meresapi suatu objek pada saat terjadi sentuhan dengan indria. Perasaan inilah yang mengenyam hasil suatu tindakan menyenangkan atau tak menyenangkan dalam kehidupan ini atau yang lalu. Selain keadaan mental ini tak ada jiwa atau sesuatu yang lain yang merasakan hasil perbuatan.

Perasaan atau kesan, merupakan keadaan mental yang menyertai semua bentuk kesadaran. Ada tiga ( 3 ) jenis utama perasaan, yaitu : i.menyenangkan ( somanassa ), ii.tidak menyenangkan ( domanassa ), iii.netral ( adhukkhamasukha ). Ditambah dengan penderitaan jasmani ( dukkha ) dan kebahagiaan jasmani ( sukkha ), semuanya ada lima ( 5 ) macam perasaan. Perasaan netral disebut juga upekkha yang berarti acuh tak acuh atau seimbang.

Harus diketahui, kebahagiaan Nirvana/Nibbana tidak berhubungan dengan perasaan bentuk manapun. Kebahagiaan tertinggi ini merupakan kebahagiaan karena bebas dari penderitaan, bukannya suatu kenikmatan objek menyenangkan yang manapun.

Rantai Kedelapan : Nafsu Keinginan ( tanha )

Bergantung pada perasaan timbul nafsu keinginan ( tanha ), seperti halnya ketidaktahuan, merupakan faktor penting dalam “ Paticcasamuppada “. Cinta, kehausan, kemelekatan merupakan terjemahan dari kata Pali – “tanha” – ini.

Nafsu keinginan dibedakan menjadi tiga ( 3 ), yaitu :

  1. Kama-tanha, ialah kehausan terhadap kesenangan-kesenangan indera yaitu kehausan pada :
    1. bentuk yang indah
    2. suara yang merdu
    3. bau yang wangi semerbak
    4. rasa yang enak dan nikmat
    5. sentuhan yang empuk dan halus
    6. bentuk-bentuk bathin yang menyenangkan
    7. Bhava-tanha, ialah kehausan untuk menjelma berdasarkan kepercayaan tentang adanya “aku” yang kekal dan terpisah (attavada).
    8. Vibhava-tanha, ialah kehausan untuk memusnahkan diri berdasarkan kepercayaan yang salah, yang menganggap bahwa setelah mati tamatlah atau habislah riwayat tiap manusia/makhluk (ucchedavada). Ini adalah sudut pandang kaum materialis.

Bhavatanha dan vibhavatanha juga diterjemahkan sebagai kemelekatan pada Alam yang Berbentuk ( rupabhava ) dan Alam yang Tak Berbentuk ( Arupabhava ). Biasanya istilah ini juga diterjemahkan sebagai napsu keinginan untuk keberadaan dan tidak keberadaan.

Ada enam ( 6 ) macam napsu keinginan yang berhubungan dengan enam ( 6 ) objek indria seperti bentuk, suara dan sebagainya. Mereka menjadi 12 jika diperlukan sebagai bagian dalam dan luar. Mereka dihitung menjadi 36 jika ditinjau dari sudut masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Jika dikalikan dengan 3 macam napsu yang mendahului, mereka berjumlah 108.

Sangat wajar bagi makhluk duniawi untuk mengembangkan napsu keinginan akan kesenangan indria. Mengatasi keinginan indria sangatlah sulit. Unsur terkuat roda kehidupan ( paticcasamuppada ) adalah ketidaktahuan dan napsu keinginan, dua sebab utama paticcasamuppada. Ketidaktahuan ditunjukkan sebagai sebab masa lalu yang membentuk saat ini, dan napsu keinginan, sebab saat ini yang membentuk masa yang akan datang.

Rantai Kesembilan : Upadana

Bergantung pada napsu keinginan muncul kemelekatan ( upadana ) yaitu napsu keinginan yang terus menerus. Tanha bagaikan dalam gelap mencari benda untuk dicuri. Upadana berhubungan dengan pencurian barang itu. Kemeleketan ditimbulkan oleh napsu keinginan dan kesalahan. Ia menimbulkan gagasan yang salah tentang “ aku “ dan “ milikku “.

Ada empat ( 4 ) macam kemelekatan, yaitu :

  1. Kamupadana, ialah kemelekatan pada bentuk, suara, bau, rasa, sentuhan dan kesan pikiran. Atau kemelekatan pada kesenangan indera.
  2. Ditthupadana, ialah kemelekatan pada pandangan yang salah, yaitu : yang benar dikatakan salah, yang baik dikatakan buruk, yang berguna dikatakan tidak berguna dan lain-Iainnya.
  3. Silabbatupadana, ialah kemelekatan pada upacara agama, yang menganggap bahwa upacara agama dapat menghasilkan kesucian.
  4. Attavadupadana, ialah kemelekatan pada kepercayaan tentang adanya “aku” atau “atta” yang kekal dan terpisah.

Rantai Kesepuluh : bhava

Bergantung pada kemelekatan timbul bhava, yang secara harafiah berarti “menjadi” ( Inggris : being ).

Bhava, ini merupakan perbuatan baik ataupun buruk yang membentuk Kamma ( kammabhava ) – proses aktif untuk menjadi – dan berbagai alam kehidupan ( upattibhava ) – proses menjadi yang pasif.

Kammabhava, ialah proses kamma yaitu munculnya bentuk -bentuk karma yang menyebabkan tumimbal lahir.

Upattibhava, ialah proses tumimbal-Iahir, yaitu buah-buah kamma yang lalu (vipaka-kamma).

Perbedaan kecil antara samkhara dan kammabhava yaitu yang pertama menunjukkan masa lalu sedangkan yang kedua menunjukkan kehidupan saat ini. Keduanya menunjukkan kekuatan Kamma, hanya saja kammabhava yang membentuk kelahiran yang akan datang.
Rantai Kesebelas : Jati

Bergantung pada proses menjadi muncul kelahiran ( jati ) dalam kehidupan berikutnya.

Yang dimaksudkan dengan kelahiran adalah munculnya perwujudan batin dan jasmani ( khandhanam patubhavo ).

Rantai Keduabelas : Jaramarana

Usia tua dan kematian ( jaramarana ) merupakan hasil kelahiran yang tidak dapat dielakkan. Jara-marana, ialah ketuaan dan kematian, yang merupakan rangkaian penderitaan, seperti kesakitan, susah hati, kesedihan, ratap tangis, putus asa, kecewa, kematian dan lain-Iainnya.

MEMBALIK URUTAN PATICCASAMUPPADA

Urutan Paticcasamuppada secara terbalik akan memperjelas permasalahan proses tumimbal-lahir ini. Berikut ini adalah jika urutan tersebut dibalik :

“ Usia tua dan kematian hanya dimungkinkan terjadi pada organisme batin-jasmani, yaitu suatu “mesin” dengan 6 indria. Organisme semacam itu harus dilahirkan, oleh karena itu perlu adanya kelahiran.

Kelahiran merupakan akibat yang tak dapat dielakkan dari Kamma atau perbuatan masa lalu, yang dibentuk oleh kemelekatan karena adanya napsu keinginan. Napsu keinginan muncul jika ada perasaan. Perasaan merupakan hasil sentuhan indria dengan objeknya.

Oleh karena itu ia menduga adanya alat indria yang tak mungkin ada jika tidak terdapat batin dan jasmani. Batin berakar dari kesadaran tumimbal lahir, yang dibentuk oleh perbuatan-perbuatan, karena tidak mengetahui segala sesuatu sebagaimana adanya. “

Jadi, rumusan selengkapnya adalah sebagai berikut :

1. Bergantung pada ketidaktahuan ( avijja ) muncul kegiatan yang terbatas ( samkhara ) .

2. Bergantung pada kegiatan yang terbatas ( samkhara ) muncul kesadaran penyambung ( pattisandi-vinnana ) .

3. Bergantung pada kesadaran penyambung ( pattisandi-vinnana ) muncul batin dan jasmani ( nama dan rupa ).

4. Bergantung pada batin dan jasmani ( nama dan rupa ) muncul 6 landasan indria ( salayatana ).

5. Bergantung pada 6 landasan indria ( salayatana ) muncul sentuhan ( Phassa ).

6. Bergantung pada sentuhan ( Phassa ) muncul perasaan ( Vedana ).

7. Bergantung pada perasaan ( vedana ) muncul napsu keinginan ( tanha ).

8. Bergantung pada napsu keinginan ( tanha ) muncul kemelekatan ( Upadana ).

9. Bergantung pada kemelekatan ( Upadana ) muncul perbuatan ( kammabhava ).

10. Bergantung pada perbuatan ( Kammabhava ) muncul kelahiran ( Jati ).

11. Bergantung pada kelahiran ( Jati ) muncullah

12. usia tua, kematian, penderitaan, penyesalan, kegetiran, kesedihan, dan kekecewaan ( Jaramarana ).

Demikianlah paticcasamuppada menerangkan timbulnya keseluruhan kelompok penderitaan ( dukkha ).

( Sumber Pustaka : “Sang Buddha dan Ajaran-ajaran-Nya”, Bhante Narada Mahathera ; Majalah Dhammacakka, no.43/XII/Agustus-Oktober 2006 ).

Salam Damai dan Cinta Kasih…,

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajja hontu, Anigha Hontu, Sukhi attanam Pariharantu “

( “Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari penderitaan, bebas dari kebencian/permusuhan/pertentangan/niat jahat, bebas dari kesakitan, bebas dari kesukaran, semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaan mereka masing-masing” )

 
Design by Free WP Themes | Blogger Theme by Lasantha - Premium Blogger Themes | Open Office