Di dalam naskah, terdapat empat puluh pokok/subjek meditasi, beberapa di antaranya dapat digunakan sebagai latihan dasar samatha untuk melaksanakan latihan vipassana. Empat puluh pokok/subjek meditasi itu adalah :
-
10 kasina (alat permenungan)
-
10 asubha (ketidakmurnian)
-
10 anussati (perenungan)
-
4 Brahma vihara (sikap batin luhur)
-
4 arupa (tahapan arupa – jhana)
-
1 Ahare-patikula-sanna (perenungan atas makanan yang menjijikan)
-
1 Catu-dhatu-vavatthana (analisis empat unsur)
Sepuluh kasina terdiri dari :
-
Kasina tanah (Pathavi)
-
Kasina air (Apo)
-
Kasina api (Tejo)
-
Kasina udara (Vayo)
-
Kasina warna biru gelap (Nila)
-
Kasina warna kuning (Pita)
-
Kasina warna merah darah (Lohita)
-
Kasina warna putih (Odata)
-
Kasina cahaya (Aloka)
-
Kasina ruang terbatas (Akasa)
Sepuluh Asubha terdiri dari :
-
Sebuah mayat membiru (Vinilaka)
-
Sebuah Mayat membengkak (Uddhumataka)
-
Sebuah Mayat terinfeksi/bernanah (Vipubbaka)
-
Sebuah Mayat terbelah dua (Vicchiddaka)
-
Sebuah mayat yang telah digigit binatang buas (Vikkhayittaka)
-
Sebuah mayat yang terserak hancur (Hatavikkhittaka)
-
Sebuah mayat yang terpotong-potong dan berserakan (Vikkhittaka)
-
Sebuah mayat yang berdarah (Lohitaka)
-
Sebuah mayat yang terinfeksi cacing/belatung (Puluvaka)
-
Sebuah tengkorak (Atthika)
Sepuluh Anussati terdiri dari :
-
Perenungan terhadap kualitas-kualitas Buddha (Buddhanusati)
-
Perenungan terhadap kualitas-kualitas Dhamma (Dhammanussati)
-
Perenungan terhadap kualitas-kualitas Sangha (Sanghanussati)
-
Perenungan terhadap kemoralan seseorang (Silanussati)
-
Perenungan terhadap kemurah-hatian seseorang (Caganussati)
-
Perenungan terhadap kualitas untuk tumimbal lahir sebagai dewa (Devatanussati), yaitu keyakinan teguh (saddha), kemoralan (sila), kemauan belajar dan mendengarkan Dhamma (suta), kemurah-hatian (cage) dan kebijaksanaan (panna)
-
Perenungan terhadap Nibbana (Upasamanussati)
-
Perenungan akan kepastian kematian (Marananussati)
-
Perenungan atas 32 (tiga puluh dua) bagian tubuh (Kayagatasati), seperti : rambut, bulu tubuh, kuku, gigi, kulit, dan seterusnya.
-
Perenungan terhadap kaluar dan masuknya nafas (Anapanasati)
Empat Brahma Vihara terdiri dari :
-
Cinta kasih yang universal terhadap semua makhluk (metta)
-
Belas kasih terhadap makhluk menderita (karuna)
-
Simpati atas keberhasilan / pencapaian makhluk lain (mudita)
-
Keseimbangan batin sempurna (upekkha)
“ ..... Berdiam dengan batin yang dipenuhi oleh cinta kasih universal yang diarahkan ke arah pertama, kemudian ke arah kedua. Kemudian ke arah ketiga. Kemudian ke arah keempat, demikan pula, ke atas, ke bawah, dan ke sekeliling dan ke segala penjuru kepada semua makhluk, seperti terhadap dirinya. Ia memancarkan ke segenap dunia dengan batin dipenuhi oleh cinta kasih universal, batin yang lapang, berkembang, tanpa batas, terbebas dari kebencian dan niat jahat ……. dengan batin yang dipenuhi oleh belas kasihan, oleh sikap simpati terhadap pencapaian/keberhasilan mahluk lain, dan oleh keseimbangan yang sempurna ......” (Jivaka Sutta, Majjhima Nikaya, Sutta Pitaka).
Empat Arupa, terdiri dari :
-
Berdiam dalam permenungan atas kondisi ruangan yang tanpa batas (Akasanancayatana)
-
Berdiam dalam permenungan atas alam kesadaran yang tak terbatas (Vinnanancayatana)
-
Berdiam dalam permenungan atas alam kekosongan (Akincannayatana)
-
Berdiam dalam permenungan atas kondisi alam bukan pencerapan juga bukan pencerapan (Nevasannanasannayaatana)
1. PATHAVI KASINA
Siswa yang ingin mencapai Jhana melalui latihan kasinathana, pertama-tama harus bertempat tinggal di suatu vihara yang sesuai, atau untuk seorang ummat awam, bertempat tinggal di tempat yang sesuai dan kondusif bagi pencapaian samadhi.
Kemudian ia harus membebaskan dirinya dari semua rintangan-rintangan, bahkan yang paling kecil sekalipun; ia harus memotong rambut janggut dan kukunya, memakai jubah yang bersih dan tidak bernoda, membersihkan mangkok makanannya dengan baik-baik. Ia harus membersihkan tempat tidur, tempat tuang air dan barang-barang lainnya dan mengatur mereka pada tempat yang sebenarnya.
Setelah melakukan semua hal ini dan menyelesaikan makanan-makanannya, ia harus duduk yang enak pada suatu tempat yang sunyi , dan kemudian, dengan penuh perhatian ia menatap pada kasinathana yang telah dipersiapkannya.
Praktek ini diterangkan sebagai berikut :
“ Ia yang mempelajari kasinathana mengambil nimittathana, baik itu disiapkan dengan ukuran, bukan tanpa ukuran terbatas, dengan tanda-tanda, bukan tanpa tanda-tanda, dengan batas-batas, bukan ukuran suatu bulatan kipas angina, sebuah mangkok sup, atau seperti ukuran piring ceper.
Ia harus mempelajari nimitta itu dengan baik-baik, mencatat dan menentukannya dengan baik-baik. Selanjutnya ia harus merenungkan keuntungan-keuntungan darinya dengan menganggapnya sebagai sebuah permata ( Ratanasani ), mencintainya dengan ketetapan-ketetapan yang teguh, “dengan melalui praktik ini semoga saya menjadi bebas dari kelapukan dan kematian.”
Apabila seseorang dalam kehidupan lampaunya pernah membuat kebajikan-kebajikan ( Paramitha ) yang berasal dari ajaran seorang Buddha, atau telah mencapai tingkatan sebagai seorang petapa suci, maka dengan demikian ia mampu masuk ke dalam Jhana ke-empat dan kelima. Baginya tidak perlu untuk membuat kasinathana karena sebidang tanah yang dibajak atau sebidang lantai tempat untuk menumbuk atau memberikan tujuan yang sama, tepat seperti apa yang dilakukan oleh Mallaka-Thera.
Diceritakan bahwa sewaktu Mallaka-Thera sedang melihat pada sebidang tanah yang dibajak, gambaran bathin timbul dengan ukuran tanah itu. Ia memperluasnya dan mencapai Jhana kelima, dan dengan mengembangkan pandangan terang dengan dasar itu, ia mencapai tingkat Arahat.
Tetapi bagi ia yang belum pernah mempunyai pengalaman di masa lampau, maka ia harus membuat kasinathana sesuai dengan Kammatthana yang diterima dari Gurunya, dengan menjaga untuk menghindarkan empat (4) kesalahan-kesalahan, yaitu ; ia harus BUKANLAH merupakan salah satu dari empat warna : biru, kuning, merah, dan putih.
Tanah yang dibentuk harus tidak berwarna salah satu dari empat warna-warna ini, karena mereka adalah dari kasina-kasina lainnya ( vanna-kasina ), tetapi itu harus berwarna merah muda seperti aruna, warna yang muncul di langit waktu fajar hari, atau warna tanah di dalam Sungai Gangga.
Rangka dimana bulatan tanah itu diletakkan haruslah tidak terlalu dekat dengan vihara, karena takut akan gangguan.
Tempat untuk bermeditasi harus dipilih pada bagian yang paling ujung dari daerah vihara, dan harus dinaungi dengan sebatang pohon atau oleh beberapa objek lain, atau dapat juga sebuah gua atau sebuah gubuk yang sementara terbuat dari daun.
Di sana ia harus membuat bingkai, baik yang dapat dipindahkan atau tidak, sesuai dengan kesenangannya. Apabila merupakan suatu bingkai yang dapat dipindahkan, bagian atas harus ditutupi dengan selembar kain atau selembar keset dan diatas tanah itu ditebarkan berkas-berkas rumput, akar-akar, kerikil-kerikil, dan pasir-pasir dibersihkan. Tanah itu harus dibersihkan. Tanah itu harus dihaluskan, diremas dan dikerjakan sampai merupakan suatu kepadatan yang cukup dan kemudian dibuat menjadi satu lingkaran suatu jengkal atau empat inci garis tengahnya.
Pada saat latihan permulaan, ia harus meletakkannya di atas tanah dan kemudian menatapnya. Apabila bingkai itu terpaku diatas tanah, itu harus kecil dibawahnya dan lebar diatasnya, seperti tempat benih bunga teratai. Apabila tidak mungkin untuk mendapatkan tanah yang cukup dengan warna yang sesuai dengan lingkaran itu dapat dibuat dari tanah lainnya, dengan satu lapisan tanah yang berwarna aruna ditaburkan diatasnya.
Perhatian harus diperhatikan untuk mempertahankan ukuran-ukuran yang diberikan dan membuat permukaan tanah sehalus kulit sebuah tambur. Ruang di luar dareha lingkaran itu dapat juga berwarna putih. Air yang digunakan untuk menghaluskan tanah itu harus diambil dari suatu sumber air bening dan tanah itu harus benar-benar diatur dengan rata dan baik.
Setelah mempersiapkan alat kasinanya, siswa harus menyapu tempat meditasi, membersihkan dirinya, dan setelah itu ia harus duduk pada suatu tempat duduk yang telah diatur dengan baik, satu jengkal dan empat inchi tingginya dan pada suatu jarak dua setengah kubik dari bingkai itu.
Segera setelah duduk dengan enak , siswa harus mulai bermeditasi, pertama-tama ia harus merenungkan akibat-akibat buruk dari keingina-keinginan indria dengan beberapa cara antara lain demikian :
“ Keinginan-keinginan indria adalah tak mengenal rasa puas…, dll.” ( Diterangkan secara terinci dalam Majjhima Nikaya.I.85,130, dll ).
dan merasa bergembira di dalam kesunyian bathin ( Nekkhama ; pelepasan dari kemelekatan akan segala hal duniawi ) yang merupakan suatu cara untuk melepaskan diri dari penderitaan kehidupan. Kemudian ia harus meresapi pikirannya dengan kegembiraan dan merenungkan kebajikan-kebajikan Sang Tiratana ( Ti=Tri= Tiga ; Ratana = Ratna = Berlian, mutiara ) , ialah : Sang Buddha, Dhamma dan Sangha
Kemudian ia harus berbalik pada praktik yang harus dilakukannya dengan merenungkan bahwa ini adalah jalan yang telah ditempuh oleh semua Buddha, Pacceka Buddha dan siswa mulia mereka, mengatakan didalam hatinya :
“ Dengan praktik ini pasti saya akan menikmati kebahagiaan Nibbana yang disebut Paviveka, kebebasan yang mutlak.”
Setelah mempersiapkan bathinnya di dalam cara ini ia harus mempraktikkan kasina, mengambl nimittanya, melihat pada kasina itu dengan suatu pandangan yang teliti. Tetapi ia jangan membiarkan matanya terbuka terlampau lama, supaya ia jangan menjadi bingung. Lingkaran itu harus dilihat, tetapi jangan erlalu jelas karena sebaliknya nimitta tidak akan timbul.
Ia janganlah terlampau keras atau terlampau lemah melihatnya, tetapi tepat seperti seseorang melihat dirinya sendiri di dalam sebuah kaca, tidak memperhatikan bentuk, warna atau keadaan kaca itu sendiri. Demikianlah ia harus menatap pada lingkaran itu tanpa memperhatikan warnanya atau keadaan-keadaan lainnya.
Dengan melepaskan semua pertimbangan terhadap warna dan materi yang digunakan untuk membuat lingkaran itu, ia harus berjuang untuk memperhatikan dalam pikirannya konsep tanah, yang hanya merupakan kasina, yang sebenarnya hanyalah symbol.
Tetapi tidaklah cukup hanya semata-mata memikirkan tentang tanah saja yang membentuk lingkaran itu. Ia juga harus menyamakan dirinya dengan tanah, mengingat-ingat bahwa bagian-bagian yang kasar dank eras dari badannya sendiri juga terdiri dari unsure itu. Untuk tujuan ini ia harus memilih salah satu dari nama-nama yang diberikan pada tanah, yaitu :
1. Pathavi ( Pertiwi ),
2. Mahi,
3. Medini,
4. Bhumi,
5. dll.
Tetapi karena pada umumnya nama yang digunakan adalah Pathavi, maka ia harus bermeditasi dengan penuh perhatian terhadap Pathavi ( Pertiwi ) ini. Sering mengulang-ulang Pathavi sampai memperoleh Nimitta. Ia harus merenungkan pada lingkaran, kadang-kadang dengan mata terbuka, kadang-kadang dengan mata tertutup, sekali pun latihan ini telah diulang untuk beratus-ratus kali atau bahkan beribu-ribu kali. Apabila lingkaran muncul di dalam pikiran sewaktu mata tertutup sejelas apabila mata terbuka, maka tanda itu disebut Uggaha-nimitta, gambaran bathin yang telah dikembangkan dengan baik.
Sekali seorang yogi telah memperoleh nimitta, yogi tersebut tidak boleh tetap duduk di tempat yang sama, tetapi ia harus bangkit dan masuk kedalam tempat tinggalnya sendiri dan disana ia harus duduk kembali untuk bermeditasi pada nimitta itu. Seandainya konsentrasi ini yang masih berada di dalam suatu keadaan yang belum masak menjadi hilang karena gangguan dari beberapa pikiran yang berlawanan, ia harus kembali ke tempat alat itu disimpan dan membentuk nimitta baru lagi. Setelah timbul nimitta lagi, ia pergi ke tempat tinggalnya dan sekali lagi mendudukkan dirinya dengan enak, ia harus mengembangkan dengan perhatian sepenuh hatinya. Menurut Abhidhammatthasangaha, proses ini dsebut “Parikamma”, “Permulaan”, dan konsentrasi yang dihasilkan disebut “Parikamma-Samadhi”.
Di dalam proses perkembangan secara berangsur-angsur dari Samadhi ini, disebabkan oleh Uggaha nimitta maka lima nivarana terkendalikan, kekotoran-kekotoran bathin menghilang dan pikiran diseimbangkan oleh “Upacara-Samadhi”. Kemudian timbul “Pathibhaga-Nimitta” atau nimitta yang “sebanding” yang seratus kali bahkan seribu kali lebih jelas dari Uggaha-nimitta, cacat-cacat nimitta lingkaran kasina masih dapat terlihat dan yang selanjutnya tidak ada lagi.
Pathibhaga-nimitta mempunyai permukaan seperti sebuah kaca yang bersih, atau lingkaran bulan purnama sewaktu baru saja keluar dari awan-awan. Namun, tidak memiliki warna atau permukaan yang pada, sebaliknya akan dapat dikenali oleh indria penglihatan, seperti sesuatu bentuk materi yang kasar yang akan lebih sesuai untuk perenungan terhadap Ti-lakkhana. Bagi seorang siswa meditasi Pathibhaga-nimitta ini hanyalah suatu bentuk pikiran yang timbul dari pencerapan semata-mata. Nimitta ini disebut “Pathibhaga” dalam arti suatu perwujudan bathin dari sifat utama objek, dalam hal ini unsure tanah, yang kosong dari kenyataan mutlak.
Dari saat timbulnya nimitta, nivarana-nivarana tetap ditekan, kekotoran-kekotoran dihancurkan dan pikiran seluruhnya terpusatkan dalam keadaan “Upacara-Samadhi”. Konsentrasi ini disebut : Upacara-samadhi, karena dekat dengan Appana-samadhi atau Jhana-samadhi dan tetap berada pada garis batas antara Kammavacara dan Rupavacara. Karena itu disebut “Kammavacara-samadhi” ( Cf.hal.46 diatas ).
Dalam meditasi Kasina, Upacara-samadhi ini yang mendahului Appana, adalah lemah, karena factor-faktor penyertanya tidak kuat. Tepat seperti seorang bayi, apabila diletakkan pada kakinya akan jatuh dengan cepat, demikian pula pikiran dalam Upacara-Samadhi menetap untuk sesaat pada objek Pathibhaga dan kemudian masuk ke dalam Bhavanga, arus bawah sadar, atau kesadaran yang pasif. Tetapi sekali pikiran telah bangkit dari Bhavanga pada ketinggian Appana-samadhi, yang amat kuat karena itu berhubungan dengan factor-faktor Jhana, pikiran dapat menetap pada objek untuk sepanjang siang dan malam, yang berlangusng dalam suatu rangkaian pikiran-pikiran baik ( Kusala-citta ).
Apabila siswa dalam mengembangkan nimitta memperoleh kemampuan untuk mencapai Jhana dalam proses meditasi dan saat duduk yang sama, maka hal itu adalah terbaik dan sempurna. Apabila tidak, maka ia harus menjaga nimitta dengan semangat yang paling besar, seakan-akan suatu embryo dari seorang raja dunia. Terdapatlah tujuh hal yang harus diikuti dengan hati-hati oleh seorang siswa yang ingin menjaga Kasina-nimittanya :
1. Tempat-tinggal :
Tempat-tinggalnya harus bebas dari apa yang bertentangan dengan kehidupan meditasinya.
2. Desa yang dikunjunginya :
Desa yang ia kunjungi sewaktu pergi mencari makan tidak boleh terlalu jauh, suatu tempat yang ia tidak akan mendapatkan kesukaran dan melelahkan mencari makan.
3. Percakapan
Ia tidak terlibat dalam salah satu dari tiga-puluh-dua (32) macam percakapan yang bersifat keduniawian ( Digha-Nikaya.I.7,dll) yang akan membawa lenyapnya Nimitta.
4. Pergaulan :
Ia tidak bergaul dengan orang-orang yang terlibat percakapan-percakapan keduniawian, sekalipun percakapan itu tentang hal-hal yang diizinkan sebagai pokok-pokok percakapan. Ia hanya boleh bergaul dengan mereka yang tekun bersamadhi.
5. Makanan :
Ia yang menjadi seorang siswa meditasi harus memakan makanan yang tidak merangsang, tetapi yang paling sesuai baginya ( dalam artian, sesuai bagi ketenangan batin dan jasmani ).
6. Musim :
Bagi beberapa orang musim dingin lebih sesuai, sedangkan bagi orang-orang lainnya musim panas adalah yang lebih sesuai, setidak-tidaknya waktu yang paling sesuai bagi si siswa itu harus dipilih untuk latihan.
7. Sikap-sikap :
Sikap atau posisi dari badan jasmani harus dipilih, dengan maksud yang paling sesuai baginya, apakah itu berjalan, berbaging, berdiri, atau duduk. Untuk menemukan apakah yang paling sesuai dan cocok baginya, ia harus mempraktekkan masing-masing sikap selama tiga hari.
Apabila siswa mempraktekkan Samadhi-nimitta dengan patuh pada perintah-perintah ini, maka dalam jangka waktu yang pendek akan mencapa Appana.
Apabila sebaliknya dari praktik ini, maka ia tidak akan berhasil. Untuk mencapai Appana ia harus mengikuti latihan untuk pencapaian Appana yang terdiri atas sepuluh (10) factor-faktor yang disebut “Appana-kosalla”.
Sekalipun latihan ini mungkin tidak berhasil bagi beberapa orang pada permulaannya. Tetapi seorang yang demikian karena itu janganlah berhenti untuk berjuang, karena untuk memenangkan kebahagiaan spiritual adalah sukar bagi orang-orang duniawi yang terlelap di dalam lautan nafsu-nafsu yang dalam selama kehidupan-kehidupan yang tak terhitung banyaknya. Karena itu ia harus melanjutkan prakteknya dengan bersemangat, memberikan perhatian dengan hati-hati pada keadaan bathinnya, menggiatkan bathin apabila melemah dan mengontrolnya apabila terlalu bersemangat. Setelah mempraktekkan nimitta yang sama demikian , mengulang-ulang kata “Pathavi, pathavi… “, batin secara berangsur-angsur menjadi siap sedia, pada saatnya akan mencapai Appana-samadhi.
Dalam cara ini ia akan mencapai Jhana pertama dari Pathavi-kasina menjadi seorang demikian seperti yang diterangkan dalam kitab-kitab suci,
“Bebas dari nafsu-nafsu keinginan, bebas dari pikiran-pikiran jahat, dengan Vitakka dan Vicara, dengan piti dan sukha yang timbul dari kesunyian batin, ia berdiam ( dalam ketenangan ) setelah mencapai Jhana pertama dari Kasina-Pathavi “ ( Dhammasangani.160,hal.31 ).
Buddhagosa Thera memberikan suatu komentar yang panjang tentang rumusan Dhammasangani ini. Siswa yang secara berangsur-angsur mengembangkan nimitta Pathavi-kasina bahkan dapat mencapai pada Jhana kelima dengan metode yang telah saya terangkan pada halaman “Samadhi” di blog ini juga.
Keuntungan Dari Praktek Meditasi “Pathavi-Kasina” :
Sehubungan dengan meditasi Pathavi-Kasina, Visuddhimagga memberikan suatu uraian yang utama berkenaan dengan keuntungan-keuntungan khusus yang dapat diharapkan oleh siswa.
Dengan praktek dari Pathavi Kasina ia akan memperoleh berbagai jenis kekuatan batin ( Abhinna ) berupa “Iddhividdhi”, yaitu :
1. Mampu memperbanyak dirinya dari satu muncul menjadi banyak.
2. Mampu menciptakan kepadatan dari tanah di dalam udara atau pada air,
3. Mampu berjalan, duduk, berdiri atau berbaring di udara atau di permukaan air,
4. Mampu menguasai objek-objek materi ( Abhibhayatana ) baik secara terbatas maupun tak terbatas.
II.2. APO-KASINA
Siswa yang ingin bermeditasi terhadap Apo-kasina harus memperoleh nimitta di dalam air, baik yang disiapkan maupun yang tidak disiapkan. Di sini juga, ia yang sebelumnya pernah mengalami dalam kehidupan yang lalu akan mendapatkan nimitta yang muncul dalam air secara alami, seperti sebuah kolam, danau, sungai, atau laut.
Siswa yang tidak berpengalaman harus mempersiapkan kasina dengan menghindarkan “kesalahan dari kasina”, seperti empat warna.
Dia harus mengambil sebuah jambangan yang dipenuhi dengan air hujan, yang jatuh dengan segar dari udara dan dikumpulkan dengan selembar kain bersih sebelum jatuh ke tanah, atau apabila gagal untuk memperoleh ini, ia harus mengambil air murni lainnya.
Dengan meletakkannya di suatu tempat sunyi, seperti halnya Pathavi kasina, kemudian ia harus duduk dengan enak dan memulai meditasinya. Ia janganlah mempehatikan pada warnanya atau pada corak-coraknya, tetapi hanya sadar terhadap unsure-unsur yang dilambangkan. Dalam bathin ia harus mengulang-ulang salah satu dari kata-kata “ambu”, “udakam”,”vari”, “salilan”, atau “apo”.
Setelah ia mempraktikkannyam berangsur-angsur dua nimitta akan timbul. Apabila terdapat pergerakan di dalam air atau muncul buih-buih, gambaran yang sama dapat timbul dalam Uggaha-nimitta. Akan tetapi, di dalam Patibhaga-nimitta, gambaran tidak akan bergerak, dan seperti sebuah kipas yang diberi permata atau suatu kaca yang ditempatkan di udara. Apabila ini telah benar-benar dikembangkan ia akan mampu mencapai bahkan sampai pada Jhana keempat dan kelima.
Keuntungan Dari Praktek Meditasi “Apo-Kasina” :
Sehubungan dengan meditasi Apo-Kasina, Visuddhimagga memberikan suatu uraian yang utama berkenaan dengan keuntungan-keuntungan khusus yang dapat diharapkan oleh siswa.
Dengan praktek dari Apo Kasina ia akan memperoleh berbagai jenis kekuatan batin ( Abhinna ) berupa “Iddhividdhi”, yaitu :
1. Mampu menyelam ke dalam tanah seakan-akan ia menyelam kedalam air,
2. Mampu menciptakan hujan, air sungai, dan air laut,
3. Mampu mengguncangkan tanah dan karang,
4. Bertempat tinggal di dalam tanah dan karang secara terpisah
5. Menimbulkan air memancar dari setiap bagian tubuhnya seperti yang ia kehendaki.
II.3. TEJO-KASINA
Siswa yang ingin mempraktekkan Tejo-kasina atau symbol-api, harus memperoleh nimitta dalam api, baik yang dipersiapkan atau tidak dipersiapkan. Bagi ia yang sebelumnya pernah mengalami nimitta akan muncul ketika ia memandang nyala sebuah lampu atau kompor untuk memasak, atau sebuah hutan yang terbakar. Seperti apa yang dilakukan oleh Cittagutta Thera. Thera masuk ruangan tempat berkumpul pada hari yang ditentukan untuk memberi khotbah tentang Dhamma, dan ketika ia melihat pada nyala sebuah lampu, Kasina-nimitta muncul padanya.
Dan juga kit abaca di dalam komentar dari Therigatha, bahwa Their Upalavanna menyalakan lampu di gedung pertemuan Uposatha dan mengambil nyala api itu sebagai Nimitta. Dengan merenungkannya ia mencapai Jhana dengan cara symbol api yang menjilat-jilat.
Dengan menjadikan ini sebagai dasar (padaka) secara berangsur-angsur ia mencapai tingkat Arahat ( Therigatha,A.190,Psalms of the Sisters, hal.112 ).
Tetapi ia yang tidak mempunyai keuntungan dari pengalaman yang lampau harus membuat api buatan sebagai berikut :
“ Mengambil kayu api yang telah dipotong dan dikeringkan dengan baik-baik, kemudian dikumpulkan dalam satu ikatan dan harus dibawa pada suatu tempat yang bersih dan tenang, di bawah suatu pohon atau di dalam suatu naungan, lalu membakarnya hingga terjadi suatu nyala api. Dia mengambil sebuah tikar atau selembar kain yang telah dilubangi satu jengkal atau empat inchi garis tengahnya. Tikar atau kain itu ditegakkan seperti sebuah tabir di hadapan api. Dia harus duduk dalam cara yang telah diterangkan di ats dan memandang api melalui lubang itu. “
Dengan tidak memperhatikan rumput-rumputan atau berkas-berkas di bawah atau awan dari asap di atas, ia harus mengambul nimitta dalam pertengahan isi api melalui lubang tersebut. Tanpa memperhatikan warnanya, ia harus memusatkan pikiran padanya. Apabila symbol bathin dan dasar fisik dari nyala api itu didapatkan dalam suatu warna, maka ia harus tetap memusatkan pikirannya pada api sebagai suatu konsep dan bermeditasi dengan mengulang kata-kata “Tejo…, Tejo…”, atau salah satu dari nama-nama api lainnya seperti ; “Pavaka”, “Kanhavattani”, “Jataveda”, atau “Hutasana”.
Setelah ia bermeditasi demikian, dua tanda akan muncul berangsur-angsur. Salah satu dari Uggaha-nimitta itu ( yaitu, symbol api ), muncul padanya sebagai suatu rangkaian nyala api yang membara menjadi nyala api sesaat dan kemudian menjadi padam.
Apabila seorang siswa telah memperoleh nimitta dalam suatu api yang biasa, yaitu, api yang tidak dipersiapkan sebelumnya untuk tujuan ini, cacat dari kasina itu juga akan muncul berupa sebatang kayu terbakar, suatu arang yang terbakar, abu atau asap.
Apabila sekali hal itu telah dikembangkan menjadi Pathibhaga-nimitta, maka nimitta itu nampak seperti selembar selimut merah, suatu kipas yang berwarna keemas-emasan atau seperti suatu tiang yang diletakkan di udara. Dengan kemunculan ini, siswa telah mencapai Upacara-samadhi dan selanjutnya akan dapat mencapai Jhana keempat atau Jhana kelima.
Keuntungan Dari Praktek Meditasi “Tejo-Kasina” :
Sehubungan dengan meditasi Tejo-Kasina, Visuddhimagga memberikan suatu uraian yang utama berkenaan dengan keuntungan-keuntungan khusus yang dapat diharapkan oleh siswa.
Dengan praktek dari Tejo Kasina ia akan memperoleh berbagai jenis kekuatan batin ( Abhinna ) berupa “Iddhividdhi”, yaitu :
1. Menimbulkan asap keluar dari setiap bagian tubuhnya dan api untuk turn dari langit seperti suatu curahan
2. Dengan panas yang memancar dari badannya ia dapat menguasai panas yang keluar dari orang lain,
3. Ia dapat menyebabkan segala sesuatu terbakar dengan seketika,
4. Menciptakan suatu sinar untuk melihat bentuk-bentuk seakan-akan dengan mata-Dewa,
5. Disaat kematian ia dapat membakar tubuhnya sendiri secara langsung dengan unsure panas.
II.4. VAYO-KASINA
Siswa yang ingin mempraktikkan kasina-udara, harus mengambil nimitta di udara, baik dengan pandangan atau dengan sentuhan. Hal ini telah dinyatakan dalam komentar-komentar :
“ Ia yang mempelajari vayo-kasina mengambil nimitta dalam udara, dan mencatat goncangan-goncangan dan ayunan-ayunan dari ujung pohon tebu, atau ujung pohon bamboo, ujung suatu pohon atau seikat rambut, atau ia mencatat udara yang menyentuh badannya. “
Karena itu siswa harus mengambil kasina udara dengan memandang pada pohon tebu atau tanaman lainnya dengan daun-daunan yang lebat,, suatu pohon bamboo atau suatu pohon yang berdiri sejajar dengan pucuknya dan bergoncangan karena pergerakan dari udara. Ia terutama harus mencatat titik dimana angina itu menyentuh dan mengambil bagian ini sebagai symbol.
Apabila ia mengambil udara yang menyentuh jasmaninya, yang masuk melalui jendela, atau suatu lubang di dinding, ia harus mencatat bagian jasmaninya yang disentuh oleh angina. Jadi sadar terhadap angina, ia harus meditasi dengan mengulang kata , “Vayo…vayo… .”, atau beberapa nama serupa lainnya untuk udara, seperti “Vata”, “Maluta”, “Pavana”, atau “Anila”.
Dalam meditasi ini Uggaha-nimitta akan muncul bergoyang, seperti bulatan asap yang naik dari nasi bubur apabila baru saja diangkat dari atas tungku, tetapi Pathibhaga-nimitta tetap dan terang. Hal yang sama dapat dikatakan berkenaan dengan pencapaian Jhana seperti kasina-kasina lainnya.
Keuntungan Dari Praktek Meditasi “Vayo-Kasina” :
Sehubungan dengan meditasi Vayo-Kasina, Visuddhimagga memberikan suatu uraian yang utama berkenaan dengan keuntungan-keuntungan khusus yang dapat diharapkan oleh siswa.
Dengan praktek dari Vayo Kasina ia akan memperoleh berbagai jenis kekuatan batin ( Abhinna ) berupa “Iddhividdhi”, yaitu :
1. Menggerakkan dirinya seperti angin,
2. Menyebabkan angina menghembus dan hujan jatuh dimanapun ia inginkan,
3. Menyebabkan suatu barang (unsure) berpindah sendiri dari suatu tempat ke tempat lainnya.
II.5. NILA-KASINA
Dari empat kasina-warna, siswa yang ingin mempraktekkan kasina biru ( Nila : biru kehijau-hijauan ) harus memperoleh nimitta dalam bunga atau kain biru, atau dalam suatu unsure yang berwarna biru, seperti batu atau logam biru.
Bagi seseorang yang memiliki keuntungan dari pengalaman lampau, tanda akan muncul ketika ia memandang suatu bunga atau tanaman-tanaman bunga yang demikian, atau beberapa objek seperti selembar kain atau permata. Akan tetapi, bagi siswa yang baru mulai, harus mengambil seikat bunga-bunga teratai biru atau Clitoria dan mengatur mereka di dalam sebuah pot atau naman bundar, sehingga mereka dapat membentuk suatu lingkaran, lebat, objek biru, dan harus diperhatikan supaya tak ada serbuk sari atau tangkai-tangkai yang dapat terlihat.
Gagal untuk mendapatkan ini, ia harus membuat suatu alat dari sebuah logam yang berwarna biru, selembar daun yang berwarna biru, atau kolirium biru ( obat untuk mata ). Atau benda-benda lain, sebuah lingkaran dicat biru mempunyai garis tengah satu jengkal atau empat inchi dengan dibatasi oleh beberapa warna lain.
Kasina ini dapat juga dibuat tidak tetap atau dibuat tetap dengan rangka seperti Pathavi kasina atau ditetapkan pada sebuah dinding. Ia kemudian harus merenungkan terhadap warna itu dengan mengulang kata-kata secara batiniah, “Nilam…, nilam!”.
Juga dalam hal ini Uggaha-nimitta memiliki “cacat-cacat” dari symbol aslinya, seperti misalnya urat-urat di daun bunga, bermacam-macam bayangan sekilas, atau bingkai itu. Tetapi Pathibhaga-nimitta muncul bebas dari semua cacat ini, murni dan bersih seperti sebuah kipas yang terbuat dari suatu permata biru.
Mengenai pencapaian Jhana-Jhana, dapat dikatakan sama seperti halnya kasina-kasina lainnya.
Keuntungan Dari Praktek Meditasi “Nila-Kasina” :
Sehubungan dengan meditasi Nila-Kasina, Visuddhimagga memberikan suatu uraian yang utama berkenaan dengan keuntungan-keuntungan khusus yang dapat diharapkan oleh siswa.
Dengan praktek dari Nila Kasina ia akan memperoleh berbagai jenis kekuatan batin ( Abhinna ) berupa “Iddhividdhi”, yaitu :
1. Memancari dunia dalam batas kemampuannya dengan warna biru,
2. Menciptakan bentuk-bentuk biru,
3. Menimbulkan kegelapan,
4. Memperoleh kemampuan terhadap objek-objek yang berwarna biru, baik yang bersih maupun yang tidak bersih bentuknya
5. Mencapai kebebasan dengan kegiuran ( Subhavimokkha ).
II.6. PITA-KASINA
Dalam kasina ini nimitta akan diambil oleh seorang siswa yang telah berpengalaman dalam meditasu suatu bunga kuning atau kain kuning, atau suatu unsure yang berwarna itu. Akan tetapi, bagi siswa yang baru mulai, harus membuat alat seperti yang telah diterangkan diatas dengan menggunakan suatu bunga yang berwarna kuning atau suatu kain kuning, logam atau permata. Meditasi berlangsung dengan pengulangan kata-kata, “Pitakam…,Pitakam… .”. Selanjutnya harus dimengerti seperti kasina-kasina yang lainnya.
Keuntungan Dari Praktek Meditasi “Pita-Kasina” :
Sehubungan dengan meditasi Pita-Kasina, Visuddhimagga memberikan suatu uraian yang utama berkenaan dengan keuntungan-keuntungan khusus yang dapat diharapkan oleh siswa.
Dengan praktek dari Pita Kasina ia akan memperoleh berbagai jenis kekuatan batin ( Abhinna ) berupa “Iddhividdhi”, yaitu :
1. Memancarkan warna kuning dari jasmaninya dan memancarkan ke seluruh dunia,
2. Menciptakan bentuk-bentuk kuning ,
3. Mengubah suatu barang apapun menjadi emas,
4. Memperoleh penguasaan terhadap objek-objek yang berwarna kuning dengan metode di atas dan mencapai kebebasan dengan kegiuran.
II.7. LOHITA-KASINA
Disini juga, siswa yang telah berpengalaman dalam meditasi akan memperoleh nimitta ketika ia memandang suatu bunga yang berwarna merah atau beberapa objek lainnya yang berwarna itu. Tetapi siswa yang baru saja mulai meditasi harus mengambil gambaran batin dari suatu bunga yang berwarna merah, yang dipilih untuk tujuan itu, selembar kain merah atau suatu unsure yang berwarna itu. Apabila ia bermeditasi dengan mengulang, “ Lohitakam…Lohitakam…, Lohitakam… .” , atau, “Merah…Merah…Merah… “. Maka secara berangsur-angsur kedua nimitta akan muncul. Praktek lebih jauh sama seperti kasina-kasina sebelumnya , sampau hal itu membawa pada Jhana keempat dan kelima.
Keuntungan Dari Praktek Meditasi “Lohita-Kasina” :
Sehubungan dengan meditasi Lohita-Kasina, Visuddhimagga memberikan suatu uraian yang utama berkenaan dengan keuntungan-keuntungan khusus yang dapat diharapkan oleh siswa.
Dengan praktek dari Lohita Kasina ia akan memperoleh berbagai jenis kekuatan batin ( Abhinna ) berupa “Iddhividdhi”, yaitu :
1. Menunjukkan warna merah dengan cara yang sama seperti kasina-kasina warna sebelumnya,
2. Memperoleh penguasaan serta kebebasan dengan kegiuran ( Subhavimokkha ).
II.8. ODATA-KASINA
Berkenaan dengan kasina-putih, siswa yang berpengalaman mampu mengambil nimitta ketika ia memandang suatu bunga yang berwarna putih, seperti bunga melati, atau suatu tanaman bunga yang berwarna putih atau selembar kain putih.
Nimitta itu dapat juga timbul pada seseorang yang demikian dalam suatu lingkaran kuningan, perak atau bulan. Bagi orang-orang lain yang belum berpengalaman sebelumnya harus menyiapkan alat dengan bunga putih, bunga teratai putih, bunga lily putih misalnya, atau bila tidak dapat menyiapkan hal-hal ini, selembar kain putih atau alat-alat lainnya.
Kemudian ia melangsungkan meditasi dengan mengulang-ulang kata-kata, “Odatam…Odatam…Odatam… “. Selanjutnya seperti kasina-kasina sebelumnya.
Keuntungan Dari Praktek Meditasi “Odata-Kasina” :
Sehubungan dengan meditasi Odata-Kasina, Visuddhimagga memberikan suatu uraian yang utama berkenaan dengan keuntungan-keuntungan khusus yang dapat diharapkan oleh siswa.
Dengan praktek dari Odata Kasina ia akan memperoleh berbagai jenis kekuatan batin ( Abhinna ) berupa “Iddhividdhi”, yaitu :
1. Menciptakan bentuk-bentuk putih,
2. Mengusir rasa kantuk, kemalasan, dan kelambanan,
3. Mengusir kegelapan,
4. Menciptakan sinar untuk melihat bentuk seakan-akan dengan mata dewa,
5. Memperoleh penguasaan terhadap objek-objek berwarna putih dan kebebasan dengan kegiuran.
II.9. ALOKA-KASINA
Ia yang menginginkan untuk praktik dengan Aloka-kasina, atau symbol sinar, harus mengambil tanda di dalam sinar yang masuk melalui suatu celah di dingding, sebuah lubang kunci, atau suatu jendela yang terbuka.
Tetapi bagi mereka yang telah mempunyai pengalaman sebelumnya tentang kasina ini, nimitta akan muncul ketika ia melihat pada dinding atau tanah yang mempunyai suatu bulatan dari sebidang sinar matahari atau sinar bulan yang masuk melalui suatu lubang di dinding atau atap. Nimitta ini juga dapat dilihatnya ketika ia memandang pada sebidang bulatan di tanah yang dibuat oleh sinar yang memancar melalui celah-celah daun dari suatu pohon.
Siswa yang baru saja mulai harus juga mengambil nimitta dengan melihat pada suatu bidang lingkaran demikian , dan melakukan meditasi pada saat itu dengan mengatakan “ Obhaso…Obhaso… “ atau “Aloko…Aloko… .”.
Ia yang tak mampu melakukan ini harus menyalakan suatu lampu atau lilin yang ditempatkan di dalam sebuah tabung yang tertutup salah satu lubangnya dari lubang yang tidak tertutup menghadap ke tembok. Sinar lampu yang keluar dari lubang akan memancarkan sinar bulatan pada dinding. Cara ini lebih baik Karena cahaya dapat lebih lama daripada yang lainnya. Siswa harus merenungkan cahaya itu dengan mengucap kata, “Aloko…Aloko… “.
Disini Uggaha-nimitta akan mengambil bentuk dari lingkaran yang dibuat pada dinding akan tetapi Pathibhagga-nimitta akan muncul sebagai suatu kumpulan sinar yang terang. Perkembangan yang selanjutnya adalah seperti kasina-kasina yang lainnya yang sudah diterangkan diatas.
Keuntungan Dari Praktek Meditasi “Alo-Kasina” :
Sehubungan dengan meditasi Alo-Kasina, Visuddhimagga memberikan suatu uraian yang utama berkenaan dengan keuntungan-keuntungan khusus yang dapat diharapkan oleh siswa.
Dengan praktek dari Alo Kasina ia akan memperoleh berbagai jenis kekuatan batin ( Abhinna ) berupa “Iddhividdhi”, yaitu :
1. Menciptakan sinra,
2. Menjadikan benda-benda materi yang berbentuk menjadi bersinar,
3. Mengusir kemalasan dan kelambanan,
4. Menciptakan sinar untuk melihat bentuk-bentuk seakan dengan mata-dewa.
II.10. PARICCHINNA-AKASA-KASINA
Berkenaan dengan kasina ini, komentar mengatakan :
“ Ia yang mempelajari akasa-kasina, mengambil nimitta dalam ruang yang dibatasi oleh suatu celah di dinding, suatu lubang kunci atau ruang jendela. Siswa yang tidak dapat mengambil nimitta dalam salah satu dari kesemuanya ini, ia harus membuat lubang yang lebarnya satu jengkal dan empat inchi lebarnya, baik dalam suatu tanda yang tertutup dengan baik atau pavilion, suatu tikar atau benda-benda lain yang serupa. Dengan mengulang kata-kata, “Akaso…Akaso…” ketika ia bermeditasi, ia akan mendapatkan uggaha-nimitta muncul dalam bentuk suatu celah atau suatu lubang kunci dan lain-lain, tetapi tidak dapat diperluas. Akan tetapi, Pathibhagga-nimitta muncul tanpa batas-batas ( seperti sisi-sisi dari suatu dinding atau lubang kunci ), sebesar lingkaran langit dan cenderung berkembang terus menerus. Selanjutnya praktekkan sesuai dengan yang telah diterangkan dalam penjelasan mengenai Pathavi-kasina.
Keuntungan Dari Praktek Meditasi “Akasa-Kasina” :
Sehubungan dengan meditasi Akasa-Kasina, Visuddhimagga memberikan suatu uraian yang utama berkenaan dengan keuntungan-keuntungan khusus yang dapat diharapkan oleh siswa.
Dengan praktek dari Akasa Kasina ia akan memperoleh berbagai jenis kekuatan batin ( Abhinna ) berupa “Iddhividdhi”, yaitu :
1. Menemukan objek-objek yang disembunyikan,
2. Menyebabkan benda-benda muncul karena hilang atau disembunyikan,
3. Melihat ke dalam pertengahan batu karang atau tanah,
4. Menembus tanah dan batu karang dan menciptakan ruang di dalamnya,
5. Berjalan melalui dinding dan barang-barang lain yang padat.