Buka Lembaran Baru Dalam Hidup Mu

"Selembut apapun Angin berhembus, pernah juga menerbangkan Abu ataupun mengugurkan daun"

Sabtu, 25 Juli 2009

HUKUM SEBAB-MUSABAB YANG SALING BERGANTUNGAN

” Yo paticcasamuppadam passati, so Dhammam passati. Yo Dhammam passati, so paticcasamuppadam passati.”

(Ia yang melihat Paticcasamuppada, juga melihat Dhamma. Ia yang melihat Dhamma, juga melihat Paticcasamuppada)

~ Maha-hatthipadopama Sutta; Majjhima Nikaya 28 ~


ARTI DARI GAMBAR PATICCASAMUPPADA

  1. Seekor ayam ; melambangkan keserakahan,
  2. Seekor ular ; melambangkan kebencian,
  3. Seekor babi ; melambangkan kegelapan-batin.

Makna dari gambar tersebut adalah, keserakahan dan kebencian selalu muncul bersama-sama dengan kegelapan batin. Ketiganya [ keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kegelapan batin (moha) ] merupakan sebab akar buruk yang menyebabkan tumimbal lahir.

Makna dari Jalan “Putih” dan Jalan “Hitam”

Di sebelah luar dari pusat tersebut, terdapat jalan berwarna putih, dan jalan berwarna hitam. Di jalan berwarna putih, orang-orang berjalan dengan benar di dalam cara-cara latihan yang bermanfaat ( kusala kamma ), baik Bhikkhu maupun upasaka-upasika. Sedangkan di jalan berwarna hitam, orang-orang telanjang ( symbol tidak tahu malu akibat berbuat jahat / ahirika dan tidak takut akan akibat perbuatan jahat / anottappa ) jatuh kebawah akibat perbuatan-perbuatan jahatnya ( akusala kamma ).

Dari jalan yang putih, dapat memasuki dua alam yang menyenangkan, namun dari jalan yang hitam jatuh ke dalam alam-alam menyedihkan. Selama ketiga-akar [ dosa, lobha, dan moha] masih ada, maka semua makhluk akan selalu berputar-putar melalui jalan “putih” dan “hitam”.

Alam-alam Menyenangkan

Alam-alam yang menyenangkan ditunjukkan pada gambar di sebelah atas di dalam lingkaran. Alam atas sebelah kanan melambangkan alam surga. Pada gambaran ini, terdapat alam-alam para Brahma bercahaya, alam istana para dewa yang cemerlang, alam istana para dewa yang meredup, di sebelah bawahnya terdapat gambar asura-deva yang sedang berperang dengan para dewa.

Di sebelah kiri alam dewa, digambarkan alam manusia. Ada rumah sakit ( palang merah ), ada gereja, ada Sang Buddha sedang membabarkan Dhamma kepada lima orang petapa, ada dewa sedang mendengarkan khotbah ( di sekitar pohon ), ada mesjid, ada tank baja untuk berperang, dan sebagainya. Dari mulut Sang Buddha keluar Dhamma yang berupa jalur teratai yang melintasi mata rantai “Jati” dan “Jara-marana”. Selama masa kehidupan, kita dapat memotong rantai untuk merealisasi Nibbana melalui Jalan Ariya Beruas Dealapan.

Alam Para Hantu ( Peta )

Alam para hantu digambarkan di sebelah kanan bawah. Ada hantu bermulut sebesar lubang jarum, ada

, ada hantu yang bergelimpangan di ng bergelimpangan di limpangan di kotoran, ada hantu yang kepanasan ( dalam gambar matahari sepotong ), ada hantu yang mengerubuti se

kotoran, ada hantu yang kepanasan ( dalam gambar matahari sepotong ), ada hantu yang mengerubuti sesajian di meja Puja / sembahyang, ada hantu yang mengganggu pelimpahan jasa, ada hantu yang semua makanan yang dimakannya berubah menjadi api, dan berbagai jenis hantu.

Alam Binatang

Alam binatang ada dibawah alam manusia. Ada sapi sedang meluku sawah, ada ikan ( ada orang yang memancingnya ), ada burung, ada pemburu sedang membidik burung, ada kambing dan pintu kandang, ada kapal selam, ada ikan besar memakan ikan kecil, ular dimakan burung, dan sebagainya. Kehidupan binatang serba tidak tenang.

Alam Neraka

Di dasar lingkaran, digambarkan alam neraka. Ada makhluk yang menggelepar di sungai darah yang mendidih, ada yang tubuhnya tak kuasa dicabik-cabik binatang,tak terhindarkan tertusuk-tusuk batang pohon berduri, ada yang tersirami air panas, dan sebagainya, yang semuanya mengalami sensasi sangat tidak menyenangkan yang tak terhindarkan akibat kamma-buruknya.

Makna dari Rantai yang Mengitari Ke-31 Alam Kehidupan

“]Gbr.Paticcasamuppada [sumber : Majalah Dhammacakka, 2006 ]

Gbr.Paticcasamuppada [sumber : Majalah Dhammacakka, 2006


Mengitari alam-alam tersebut diatas ( representasi dari ke-31 alam kehidupan ) adalah rantai sebab-musabab yang saling bergantung ( paticcasamuppada ), dengan simbolisasi 12 mata rantai. Penjelasan dimulai dari mata rantai sebelah kanan mulut raksasa :

  1. Mata rantai pertama ; dengan gambar pria buta tua sedang bersandar pada tongkatnya, bingung menentukan arah. Ada tonggak-tonggak yang menghadang di depannya. Gambar ini melambangkan Avijja ( kegelapan batin ).
  2. Mata rantai kedua ; dengan gambar pembuat periuk. Di sebelah belakangnya ada periuk yang sudah dibuat, ada yang masih utuh, ada yang besar, kecil, gendut, ada yang sudah pecah, sementara ia masih terus membuat periuk. Gambar tersebut melambangkan perbuatan-perbuatan lampau yang dilakukan ( sankhara ), yang baik maupun yang jelek, ada yang sudah berbuah ( pecah ), ada yang belum berbuah ( masih utuh ), dan tetap orang itu melakukan kamma terus-menerus ( membuat pot / periuk ).
  3. Mata rantai ketiga ; dengan gambar seekor kera yang sedang meloncat dari dahan pohon yang sudah kering tanpa daun buah ke pohon yang masih lebat dan banyak buah. Gambar kera tersebut melambangkan kesadaran (vinnana), yaitu kesadaran melihat, mendengar, mencium bau, mengecap rasa kecapan, mengalami sentuhan, memikirkan, kesadaran tumimbal lahir yang merupakan penerusan dari “kehidupan yang lampau” ( pohon kering ) ke “kehidupan yang baru” ( pohon yang masih hijau dan lebat buahnya ), sehingga terjadilah “makhluk-baru”.
  4. Mata rantai keempat ; dengan gambar pemuda dan pemudi (sepasang) sedang duduk di dalam perahu yang sama mendayung sampan bersama. Gambar tersebut melambangkan batin dan jasmani ( nama-rupa ) yang bersatu dalam berproses (bekerja bersama-sama) terombang-ambing di tengah-tengah lautan kehidupan.
  5. Mata rantai kelima ; dengan gambar rumah yang memiliki lima (5) jendela dan satu (1) pintu. Gambar tersebut melambangkan bahwa di dalam batin dan jasmani (rumah) ini terdapat lima pintu indera dan satu pintu pikiran ( enam landasan indera / salayatana ).
  6. Mata rantai keenam ; dengan gambar sepasang muda-mudi sedang duduk di malam hari dengan bulan sabitnya, tangan pemuda sedang kontak dengan pemudi. Gambar tersebut melambangkan kontak ( Phassa ) antara enam landasan indera dengan objek-objeknya yang bersesuaian.
  7. Mata rantai ketujuh ; dengan gambar orang terjatuh karena kedua matanya terkena panah. Gambar tersebut melambangkan perasaan ( vedana ). Perasaan akan membutkan seseorang bila orang tersebut tidak memiliki pengendalian diri dan perhatian murni ( Sati ).
  8. Mata rantai kedelapan ; dengan gambar malam hari dengan bulan sabitnya orang masih makan, minum-minuman keras. Gambar tersebut melambangkan nafsu ( tanha ) yang membuat seseorang lupa daratan, mabuk kepayang.
  9. Mata rantai kesembilan ; dengan gambar orang sedang memetik buah-buahan. Walaupun keranjang telah terisi penuh buah, namun ia tetap masih memetik sehingga ada banyak buah tercecer di sekitar keranjang. Gambar tersebut melambangkan kemelekatan ( upadana ).
  10. Mata rantai kesepuluh ; dengan gambar seorang wanita hamil. Gambar tersebut melambangkan suatu proses menjadi (bhava) yang memiliki kekuatan untuk diteruskan di dalam kelahiran selanjutnya dan menyebabkan penderitaan menjadi lebih panjang.
  11. Mata rantai kesebelas ; dengan gambar seorang wanita sedang melahirkan. Gambar tersebut melambangkan proses kelahiran kembali/tumimbal lahir ( Jati ).
  12. Mata rantai keduabelas ; dengan gambar seorang tua renta sedang berjalan dan seonggok mayat sedang terbujur kaku. Gambar tersebut melambangkan proses penuaan ( jara ) dan kematian ( marana ) yang menimpa setiap makhluk yang dilahirkan. Antara kelahiran dan kematian, selama masih ada avijja dan tanha maka selalu terjadi proses-proses kamma dan berlanjutlah proses paticcasamuppada ini.

Semua kehidupan kita merupakan proses dari dua belas mata-rantai tersebut. Rantai melingkar itu dicengkeram oleh RAKSASA “KALA” / BATHARA “KALA” ( waktu ), melambangkan ketidak-kekalan ( adanya batasan waktu ). Semua diputar oleh kaki dan tangan bathara ‘kala’ (waktu) tersebut.

Di atas kepala raksasa tersebut terdapat mahkota dengan lima buah tengkorak kepala, yang melambangkan bahwa makhluk-makhluk dalam samsara ini mengagungkan mahkota lima kelompok perpaduan ( Pancakkhandha ) yang membahayakan, dan membentuk “diri” kita. Padahal , kelima kelompok perpaduan ( pancakhada ) tersebut pada hakekatnya adalah tidak-kekal ( anicca ), derita ( dukkhaa ) dan anatta ( tanpa-aku ).

Seluruh alam, rantai melingkar , dan raksasa itu dikelilingi oleh lidah api, yang panas. Api yang membakar ini melambangkan panasnya dosa (kebencian/kemarahan), lobha (keserakahan akan keindriyaan ), dan moha ( kegelapan/kebodohan batin).

Dibawah rantai tersebut, terdapat ekor raksasa yang panjang sekali, hingga tak terlihat ujungnya. Hal ini melambangkan kelahiran dan kematian kita yang tak dapat ditelusuri awal-mulanya. Setiap pertanyaan tentang yang “awal” ( prima-causa ) itu akan mengundang spekulasi menyesatkan dan sangat tidak bermanfaat dalam upaya menghancurkan penyebab penderitaan.

Di sisi sebelah kiri atas, ada gambar jalan Dhamma yang telah dibabarkan dengan sempurna oleh Sang Buddha, dilambangkan dengan gambar teratai delapan (8) buah dimulai dari mulut beliau menuju As roda dhamma yang berjari-jari delapan (8) buah.

Delapan teratai dijalani oleh para Bhikkhu dan para upasaka-upasika. Delapan bunga teratai melambangkan “Jalan Ariya Beruas Delapan” ( Ariya Atthangika Magga ), sedangkan jari-jari roda melambangkan kondisi dunia ( Lokadhamma 8, yaitu untung-rugi, dicela-dipuji, terhormat-tidak terhormat, suka-duka ).

Di luar jari-jari terdapat empat (4) kali tiga (3) buah teratai, yang melambangkan empat kesunyataan mulia dalam tiga tahap perkembangan batin yang merealisasinya ( tiga tahap dua belas segi pandangan seperti dibahas dalam Dhammacakkappavattana Sutta ), As roda dhamma sudah tidak berputar (diam), melambangkan Nibbana. Jalur teratai itu keluar dari mulut Sang Buddha di alam manusia melintasi mata rantai jati dan jara-marana.

Di sisi kanan atas, terdapat Buddha sedang menunjukkan Nibbana yang berada di tepi seberang, Beliau yang telah selamat, terbebas dari sakitnya pengembaraan, dan memperingatkan kita yang masih jatuh bangun di dasar jurang gelap yang membahayakan dan menghadapi kita dimanapun.

Gbr.3

Melalui gambar tersebut, bisa kita pahami, bahwa semua makhluk yang belum “terbebas” , akan berputar-putar dalam arus samsara, selalu bertumimbal-lahir ; bisa di alam neraka, alam para hantu / setan, alam binatang, alam para jin ; atau jika karma baiknya mencukupi, bisa terlahir di alam manusia, alam2 surga Kammadhatu, alam Rupa-Brahma hingga Arupa-Brahma. Hanya jika kita telah “terbebas”, maka kita tidak akan terlahir lagi di ke-31 alam kehidupan tersebut, yaitu saat merealisasi “Nibbana”, yang pada gambar tersebut digambarkan dengan “as” roda dhamma yang sudah tidak berputar (diam),

PEMBAHASAN POKOK : PATICCASAMUPPADA

Paticcasampuppada, adalah hukum sebab-musabab yang saling bergantungan. Pemahaman hukum ini merupakan hal yang sangat mendasar dalam pengajaran Buddha-Dhamma. Hukum ini, telah ada di alam semesta tanpa kemunculan seorang Buddha sekalipun. Hukum ini , bukanlah “ciptaan” / “rekayasa” seorang Samma-Sambuddha. Namun, sebagaimana semua Dhamma, memang hanyalah seorang Samma-Sambuddha yang mampu menyingkapkannya. Sebelum kemunculan seorang Samma-Sambuddha, hukum Paticcasamuppada belum pernah terdengar , dalam pengajaran manapun. Dalam Kitab Ti-pitaka Pali, banyak diterangkan, bagaimana detik-detik proses pencapaian pencerahan-sempurna Sang Buddha yang dilewati dengan penembusan akan hukum paticcasamuppada ini.

Pembabaran paticcasamuppada ini adalah untuk memperlihatkan kebenaran dari keadaan yang sebenarnya, dimana tidak ada sesuatu itu timbul tanpa sebab. Bila kita mempelajari Hukum Paticcasamuppada ini dengan sungguh-sungguh, kita akan terbebas dan pandangan salah dan dapat melihat hidup dan kehidupan ini dengan sewajarnya.

Paticcasamuppada ini adalah merupakan obyek dasar dari Vipassana Bhavana termasuk salah satu obyek dari keenam obyek dasar Vipassana Bhavana, yaitu :

  1. Khanda 5/Pancakkhanda
  2. Dhatu 18
  3. Ayatana 12
  4. Indriya 22
  5. Paticcasamuppada
  6. Ariya Sacca/Cattari Ariya Saccani

Gbr.4

Secara singkat, hukum paticcasamuppada dapat dirumuskan sebagai berikut :

“ Imasming Sati Idang Hoti,

Imassuppada Idang Uppajjati,

Imasming Asati Idang Na Hoti,

Imassa Nirodha Idang Nirsujjati “

Artinya =

“ Dengan adanya ini, maka adalah itu,

Dengan timbulnya ini, maka timbullah itu,

Dengan tidak adanya ini, maka tidak adalah itu,

Dengan padamnya ini, maka padamlah itu.”

Rumusan singkat diatas, mengandung makna yang sangat dalam. Dalam rumusan diatas, kata “timbul” tidak sama dengan kata “ada”, dan kata “padam” tidak sama dengan kata “tidak-ada”. Apabila salah satu kalimat diatas tidak-ada, maka rumusan tersebut tidak mencerminkan kaidah Paticcasamuppada secara tepat.

Di dalam Nidana Vagga, Samyutta Nikaya I : 1 : 1, Sutta Pitaka, Paticcasamuppada diuraikan di dalam dua model sebagai kemunculan dukkha dan padamnya dukkha. Berdasarkan prinsip dari saling menjadikan, relatifitas dan saling bergantungan ini, maka seluruh kelangsungan dan kelanjutan hidup dan juga berhentinya hidup dapat diterangkan dalam formula dari duabelas nidana (sebabmusabab):

a). Proses Kemunculan yang saling bergantungan ( Anuloma ) :

  1. Avijja (1) Paccaya Sankharang (2)
    Dengan adanya Avijja (ketidaktahuan/kebodohan), maka muncullah Sankhara (bentuk-bentuk perbuatan/kamma).
  2. Sankhara (2) Paccaya Vinnanang (3)
    Dengan adanya Sankhara (bentuk-bentuk perbuatan/kamma), maka muncullah Vinnana (kesadaran).
  3. Vinnana (3) Paccaya Nama-Rupang (4)
    Dengan adanya Vinnana (kesadaran), maka muncullah Nama-Rupa (batin dan jasmani).
  4. Nama-Rupa (4) Paccaya Salayatanang (5)
    Dengan adanya Nama-Rupang (batin dan jasmani), maka muncullah Salayatana (enam indera).
  5. Salayatana (5) Paccaya Phassa (6)
    Dengan adanya Salayatana (enam indera), maka muncullah Phassa (kesan-kesan).
  6. Phassa (6) Paccaya Vedana (7)
    Dengan adanya Passa (kesan-kesan), maka muncullah Vedana (perasaan)
  7. Vedana (7) Paccaya Tanha (8)
    Dengan adanya Vedana (perasaan), maka muncullah Tanha (keinginan/kehausan).
  8. Tanha (8) Paccaya Upadanang (9)
    Dengan adanya Tanha (keinginan/kehausan), maka muncullah Upadana (kemelekatan).
  9. Upadana (9) Paccaya Bhavo (10)
    Dengan adanya Upadana (kemelekatan), maka muncullah Bhava (proses tumimbal lahir).
  10. Bhava (10) Paccaya Jati (11)
    Dengan adanya Bhava (proses tumimbal lahir), maka muncullah Jati (kelahiran kembali).
  11. Jati (11) Paccaya Jaramaranang (12)
    Dengan adanya Jati ( kelahiran kembali), maka muncullah
    Jaramaranag
    (kelapukan, kematian, keluh-kesah, sakit, dan sebagainya).

Gbr.5

b). Proses kepadaman yang saling bergantungan ( Patiloma ) :

  • Dengan padamnya avijja (1), maka padamlah sankhara(2).
  • Dengan padamnya sankhara (2) maka padamlah vinnana (3).
  • Dengan padamnya vinnana (3) maka padamlah nama-rupa (4).
  • Dengan padamnya nama-rupa (4) maka padamlah salayatana (5).
  • Dengan padamnya salayatana (5) maka padamlah phassa (6).
  • Dengan padamnya phassa (6) maka padamlah vedana (7).
  • Dengan padamnya vedana (7) maka padamlah tanha (8).
  • Dengan padamnya tanha (8) maka padamlah upadana (9).
  • Dengan padamnya upadana (9) maka padamlah bhava (10).
  • Dengan padamnya bhava (10) maka padamlah jati (11).
  • Dengan padamnya jati (11) maka padamlah jara-marana (12).

Saudara-saudari, dan para sahabat yang tercinta, rumusan diatas merupakan rumusan umum yang sering dibahas. Sebenarnya, di dalam mempelajari Paticcasamuppada ini, terdapat beberapa sudut pandang pembahasan, yaitu =

1. Dipandang dari 12 faktor / Dvadasangani ( nidana 12 ).

Dvadasangani adalah 12 faktor, yaitu Avijja, Sankhara, Vinnana, Nama-Rupa, Salayatana, Phassa, Vedana, Tanha, Upadana, Bhava, Jati dan Jara marana.

2. Dipandang dari 3 periode ( tayo-addha 3 )

Tayo-Addha adalah 3 masa, yaitu Avijja dan Sankhara faktor ini termasuk Atita-Addha (masa yang lampau). Jati dan Jara-marana 2 faktor ini termasuk Anagata addha (masa yang akan datang). Sedangkan selebihnya dibagian tengah ada 8 faktor (vinnana, nama-rupa, salayatana, phassa, vedana, tanha, upadana dan bhava) termasuk Paccuppanna-addha (masa yang sekarang)

3. Dipandang dari 3 hubungan ( ti-sandhi )

Tisandhi adalah 3 hubungan, yaitu Sankhara dengan Vinnana menjadi 1 hubungan, Vedana dengan Tanha menjadi 1 hubungan Bhava dengan Jati menjadi 1 hubungan.

4. Dipandang dari 2 akar ( dve-mulani )

Dvemulani adalah 2 akar, yaitu Avijja dan Tanha.

5. Dipandang dari 3 lingkaran ( tini-vattani )

Tini-Vattani adalah 3 lingkaran, yaitu :

  1. Avijja, Tanha dan Upadana jumlah 3 faktor ini menjadi Kilesa-Vatta.
  2. Sankhara dan Bhava (khusus Kamma-Bhava) jumlah 2 faktor ini menjadi Kamma-Vatta.
  3. Vinnana, Nama-Rupa, Salayatana, Phassa, Vedana dan Bhava (khusus Uppati-Bhava), Jati dan Jaramarana jumlah 8 faktor ini menjadi Vipaka- Vatta.

6. Dipandang dari 4 bagian ( cattu-sankhepa )

  1. Avijja dan Sankhara jumlah 2 faktor ini menjadi 1 bagian.
  2. Vinna, Nama-Rupa, Salayatana, Phassa dan Vedana jumlah 5 faktor ini menjadi 1 bagian.
  3. Tanha, Upadana dan Bhava jumlah 3 faktor ini menjadi 1 bagian.
  4. Jati dan Jara-marana jumlah 2 faktor ini menjadi 1 bagian.

7. Dipandang dari 4 fase 5 sebab akibat ( visatakara )

a. Keadaan yang menjadi sebab yang lampau (atitahetu) ada 5 faktor, yaitu Avijja, Sankhara, Tanha, Upadana dan Bhava.

  1. Keadaan yang menjadi akibat yang sekarang (paccuppanna-phala) ada 5 faktor yaitu, Vinnana, Nama-Rupa, Salayatana, Phassa dan Vedana.

c. Keadaan yang menjadi sebab yang sekarang (paccuppanna-hetu) ada 5 faktor, yaitu Tanha, Upadana, Bhava, Avijja dan Sankhara.

d. Keadaan yang menjadi akibat yang akan datang (anagata-phala) ada 5 faktor, yaitu Vinnana, Nama Rupa, Salayatana, Phassa dan Vedana.

Pada kesempatan pembahasan kali ini, kami hanya akan membahas sudut pandang yang pertama, yaitu dari sudut pandang 12 faktor ( nidana 12 ). Namun, jika kita telah mempelajari dan mengerti sudut pandang ini, kita jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan, karena kita harus mempelajari ke-6 sudut pandang yang lainnya sesuai tersebut diatas. Bila kita tergesa-gesa mengambil kesimpulan, dapat mengakibatkan munculnya pandangan salah, yaitu pandangan salah yang menyatakan bahwa sebab pertama adalah Avijja ( kebodohan batin ). Pernyataan ini sebagai akibat pengaruh ajaran lain yang menyatakan bahwa ada suatu ‘ujung’ dari segala sebab, yaitu factor “X”, dan ternyata factor “X” ini di dalam Buddha-Dhamma adalah “Avijja”. Padahal, tidak demikianlah sesungguhnya, Avijja bukanlah sebab pertama.

PATICCASAMUPPADA DAN TUMIMBAL-LAHIR

Gbr.6

Paticcasamuppada berkaitan erat dengan proses tumimbal-lahir. Ia menerangkan segala fenomena hidup dan kehidupan, proses “mengada”.

Untuk memudahkan pemahaman, disini kami menggunakan ilustrasi gambar Paticcasamuppada yang sudah sangat dikenal dikalangan para siswa Sang Buddha. Bagi yang tidak beragama Buddha, jangan salah pengertian, gambar tersebut bukanlah alat “tolak-bala”, atau “cap jie shio”, atau untuk ditempelkan di jidat vampire dalam film klasik Tiongkok :D . Nanti , kami akan menjelaskan apa arti dari gambar tersebut. Sekarang, mari kita membahas satu-demi-satu mata-rantai dalam Paticcasamuppada ini.

Rantai Pertama : Avijja

Ketidaktahuan ( avijja ) tentang kesunyataan adanya penderitaan, sebab, akhir, dan jalan untuk mengakhiri, merupakan sebab utama yang menggerakkan roda kehidupan semua makhluk. Avijja, adalah ketidaktahuan akan “sesuatu” sebagai mana adanya, atau diri sendiri ( “Aku” / “Atman” ) sebagai mana adanya. Ketidaktahuan ini merupakan “kegelapan-batin”, bagaikan kabut pekat yang menyelimuti batin semua makhluk, menghalau pemahaman terhadap semua pengertian benar.

“ Ketidak-tahuan merupakan khayalan yang kuat, tempat kita berkelana begitu lama disini, di kehidupan ini “ , demikian Sabda Sang Buddha.

Saat kita mencapai Pencerahan-Sempurna, ketidaktahuan akan dihancurkan dan berubah menjadi pemahaman benar, semua hubungan sebab akibat pun hancur.

Sang Buddha bersabda,” Mereka yang telah menghancurkan khayalan dan menembus kegelapan yang tebal, tak akan mengembara lagi; sebab akibat tiada lagi pada mereka “.

Ketidaktahuan terhadap yang lampau, yang akan datang, baik masa lampau maupun yang akan datang, baik masa lalu maupun yang akan datang serta Paticcasamuppada juga dipandang sebagai Avijja.

Rantai Kedua : Samkhara

Disebabkan oleh ketidaktahuan timbullah kegiatan yang dipersiapkan ( Samkhara ). Samkhara mempunyai arti beraneka-ragam, harus dimengerti berdasarkan konteksnya. Samkhara berarti kehendak ( cetana ) tidak baik ( akusala ), baik ( kusala ) dan tak tergoyahkan ( anenja ) yang merupakan Kamma penghasil tumimbal lahir. Yang pertama, akusala, mencakup semua kehendak dari 12 bentuk kesadaran yang tidak baik; yang kedua, kusala , mencakup semua kehendak dalam 8 bentuk kesadaran yang indah ( sobhana ) dan 5 macam Rupa-Jhana yang baik; yang ketiga, anenja, mencakup semua kehendak dalam 4 bentuk kesadaran Arupa-Jhana yang baik.

Semua pikiran,ucapan dan perbuatan, baik atau buruk, termasuk dalam samkhara.

Perbuatan baik atau buruk, yang langsung atau tak langsung, berakar pada ketidaktahuan ( avijja ), yang tentunya menghasilkan akibat, cenderung untuk memperpanjang pengembaraan dalam Samsara.

Walaupun begitu, perbuatan baik yang bebas dari ketamakan, kebencian dan khayalan, diperlukan untuk membebaskan diri dari penderitaan kehidupan.

Ketidaktahuan menonjol dalam perbuatan tak baik, ia tertutup oleh perbuatan baik. Oleh karena itu baik perbuatan baik maupun buruk dinilai sebagai akibat ketidaktahuan. Seorang Yang-Tercerahkan-Sempurna, Yang-Tersadar, tidak lagi memiliki tunas-tunas perbuatan baik dan perbuatan buruk, oleh karenanya ia tidak akan terlahir dalam rahim manapun juga, baik alam surga ( alam para dewa ), alam manusia, apalagi alam binatang dan alam setan.

Rantai Ketiga : Patisandhi – Vinnana

Bergantung pada perbuatan yang dipersiapkan pada waktu lampau ( samkhara ) muncul kesadaran penyambung atau tumimbal lahir ( patisandhi vinnana ) dalam kehidupan berikut. Disebut begitu karena ia menghubungkan masa lampau dan saat ini, serta merupakan kesadaran awal yang dialami seseorang pada saat pembentukan.

Janin dalam rahim seorang ibu dibentuk oleh perpaduan antara kesadaran penyambung dengan sperma dan sel telur orang tuanya. Dalam kesadaran itu terpendam semua kesan dari kehidupan sebelumnya, ciri-ciri dan kecenderungan dari aliran kehidupan pribadi yang bersangkutan. Kesadaran tumimbal lahir ini dinilai bersih karena ia bebas dari akar kejahatan; keserakahan, kebencian, dan khayalan/nafsu, maupun dari akar kebaikan.

Rantai Keempat : Nama dan Rupa

Bersamaan dengan timbulnya kesadaran penyambung muncullah batin dan jasmani ( nama-rupa ), atau beberapa orang terpelajar lebih suka menyebutnya sebagai,” organisme untuk memenuhi kebutuhan badaniah.”

Unsur ke-2 dan ke-3 ( samkhara dan vinnana ) menyinggung kehidupan masa lalu dan saat ini. Unsur ke-3 dan ke-4 ( vinnana dan nama-rupa ) sebaliknya berada dalam satu masa.

Perpaduan nama-rupa harus dimengerti sebagai nama ( batin ) saja, rupa ( jasmani ) saja, maupun nama-rupa ( batin dan jasmani ) secara bersamaan. Dalam kasus Alam tak berbentuk ( Arupa ) hanya muncul batin dalam hal Alam tanpa batin ( Asanna ) hanya jasmani saja, dalam hal keindriaan ( kama ) dan alam berbentuk terdapat batin dan jasmani.

Nama menunjukkan tiga ( 3 ) kelompok : perasaan ( vedana ), persepsi ( sanna ) dan keadaan mental ( samkhara ), yang muncul bersamaan dengan kesadaran penyambung.

Rupa menunjukkan tiga ( 3 ) bagian; tubuh ( kaya ), sex ( bhava ), dan tempat kesadaran ( vatthu ), yang juga muncul bersamaan dengan kesadaran penyambung, dan ditentukan oleh kamma masa lampau.

Bagian tubuh terdiri dari empat ( 4 ) unsur, yaitu : 1.unsur padat, tanah ( pathavi ), 2.unsur cair, air ( apo ), 3.unsur panas, api ( tejo ), 4.unsur gerak, udara ( vayo ); dengan enam ( 6 ) hal yang mengikuti ( upada rupa ), yaitu : 5.warna ( vanna ), 6.bau ( gandha ), 7.rasa ( rasa ), 8.pokok yang utama ( oja ), 9.tenaga hidup ( jivitindria ), 10.tubuh ( kaya ).

Sex (terdiri atas 10 bagian) dan dasar kehidupan (yang terdiri atas 10 bagian), juga berturut-turut terdiri dari 9 hal pertama serta sex ( bhava ) dan tempat kesadaran ( vatthu ).

Jadi dari penjelasan itu jelas sex ditentukan oleh kamma masa lampau pada saat terjadi pembuahan.

Kaya, berarti bagian tubuh yang peka ( pasada ).

Sex tidak berkembang pada saat pembentukan, tetapi pada kemampuan terpendam ke arah itu. Bukan jantung maupun otak, yang dianggap sebagai tempat kesadaran, tapi kemampuan tempat itulah yang terpendam, berkembang sejak terjadinya pembuahan.

Rantai Kelima : Salayatana

Pada masa pembentukan janin, enam ( 6 ) dasar indria ( salayatana ) secara bertahap berkembang dengan pesat dari perwujudan batin dan jasmani yang latent. Bintik sangat kecil yang tak berarti, sekarang berkembang menjadi peralatan enam ( 6 ) indria yang kompleks.

Enam landasan indria ini muncul bersamaan dengan “nama-rupa”. Enam landasan indria ini merupakan akibat (vipaka) kamma kehidupan yang lampau.

Peralatan manusia sangat sederhana pada awalnya tetapi sangat rumit pada akhirnya. Sebaliknya, peralatan biasa, sangat rumit pada awalnya tetapi sangat sederhana pada akhirnya.

Rantai Keenam : Sentuhan ( Phassa )

Sekarang peralatan enam ( 6 ) indria manusia bekerja secara mekanis tanpa sesuatu yang bertindak sebagai penggerak. Ke-6 indria, mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan batin, berturut-turut mempunyai objek dan fungsi sendiri. Enam ( 6 ) objek indria seperti bentuk, suara, bau, rasa enak, yang dapat diraba dan objek mental yang bersentuhan dengan alat indria, masing-masing memberikan 6 macam kesadaran. Perpaduan antara alat indria, objek indria dan hasil kesadaran yaitu sentuhan ( phassa ) yang murni bersifat subjektif, tak bersangkut paut dengan orang tertentu.

Sang Buddha mengatakan, “ Karena mata dan bentuk, timbul kesadaran melihat; sentuhan merupakan perpaduan ketiga hal itu. Karena telinga dan suara, timbul kesadaran mendengar; karena hidung dan bau, timbul kesadaran penciuman; karena lidah dan lezat, timbul kesadaran kelezatan; karena tubuh dan objek yang biasa disentuh, timbul kesadaran sentuhan; karena pikiran dan objek mental, timbul kesadaran pikiran. Perpaduan ketiga hal itu adalah sentuhan. “

Sehingga, phassa / kesan-kesan kontak tersebut adalah sebagai berikut ;

  1. kesan/kontak mata
  2. kesan/kontak telingga
  3. kesan/kontak hidung
  4. kesan/kontak lidah
  5. kesan/kontak jasmani
  6. kesan/kontak pikiran

Rantai Ketujuh : Perasaan ( Vedana )

Jangan dianggap bahwa hanya dengan bersinggungan timbul sentuhan ( na sangatimatto eva phasso ). Begantung pada sentuhan muncul perasaan ( vedana ). Sesungguhnya, perasaan inilah yang meresapi suatu objek pada saat terjadi sentuhan dengan indria. Perasaan inilah yang mengenyam hasil suatu tindakan menyenangkan atau tak menyenangkan dalam kehidupan ini atau yang lalu. Selain keadaan mental ini tak ada jiwa atau sesuatu yang lain yang merasakan hasil perbuatan.

Perasaan atau kesan, merupakan keadaan mental yang menyertai semua bentuk kesadaran. Ada tiga ( 3 ) jenis utama perasaan, yaitu : i.menyenangkan ( somanassa ), ii.tidak menyenangkan ( domanassa ), iii.netral ( adhukkhamasukha ). Ditambah dengan penderitaan jasmani ( dukkha ) dan kebahagiaan jasmani ( sukkha ), semuanya ada lima ( 5 ) macam perasaan. Perasaan netral disebut juga upekkha yang berarti acuh tak acuh atau seimbang.

Harus diketahui, kebahagiaan Nirvana/Nibbana tidak berhubungan dengan perasaan bentuk manapun. Kebahagiaan tertinggi ini merupakan kebahagiaan karena bebas dari penderitaan, bukannya suatu kenikmatan objek menyenangkan yang manapun.

Rantai Kedelapan : Nafsu Keinginan ( tanha )

Bergantung pada perasaan timbul nafsu keinginan ( tanha ), seperti halnya ketidaktahuan, merupakan faktor penting dalam “ Paticcasamuppada “. Cinta, kehausan, kemelekatan merupakan terjemahan dari kata Pali – “tanha” – ini.

Nafsu keinginan dibedakan menjadi tiga ( 3 ), yaitu :

  1. Kama-tanha, ialah kehausan terhadap kesenangan-kesenangan indera yaitu kehausan pada :
    1. bentuk yang indah
    2. suara yang merdu
    3. bau yang wangi semerbak
    4. rasa yang enak dan nikmat
    5. sentuhan yang empuk dan halus
    6. bentuk-bentuk bathin yang menyenangkan
    7. Bhava-tanha, ialah kehausan untuk menjelma berdasarkan kepercayaan tentang adanya “aku” yang kekal dan terpisah (attavada).
    8. Vibhava-tanha, ialah kehausan untuk memusnahkan diri berdasarkan kepercayaan yang salah, yang menganggap bahwa setelah mati tamatlah atau habislah riwayat tiap manusia/makhluk (ucchedavada). Ini adalah sudut pandang kaum materialis.

Bhavatanha dan vibhavatanha juga diterjemahkan sebagai kemelekatan pada Alam yang Berbentuk ( rupabhava ) dan Alam yang Tak Berbentuk ( Arupabhava ). Biasanya istilah ini juga diterjemahkan sebagai napsu keinginan untuk keberadaan dan tidak keberadaan.

Ada enam ( 6 ) macam napsu keinginan yang berhubungan dengan enam ( 6 ) objek indria seperti bentuk, suara dan sebagainya. Mereka menjadi 12 jika diperlukan sebagai bagian dalam dan luar. Mereka dihitung menjadi 36 jika ditinjau dari sudut masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Jika dikalikan dengan 3 macam napsu yang mendahului, mereka berjumlah 108.

Sangat wajar bagi makhluk duniawi untuk mengembangkan napsu keinginan akan kesenangan indria. Mengatasi keinginan indria sangatlah sulit. Unsur terkuat roda kehidupan ( paticcasamuppada ) adalah ketidaktahuan dan napsu keinginan, dua sebab utama paticcasamuppada. Ketidaktahuan ditunjukkan sebagai sebab masa lalu yang membentuk saat ini, dan napsu keinginan, sebab saat ini yang membentuk masa yang akan datang.

Rantai Kesembilan : Upadana

Bergantung pada napsu keinginan muncul kemelekatan ( upadana ) yaitu napsu keinginan yang terus menerus. Tanha bagaikan dalam gelap mencari benda untuk dicuri. Upadana berhubungan dengan pencurian barang itu. Kemeleketan ditimbulkan oleh napsu keinginan dan kesalahan. Ia menimbulkan gagasan yang salah tentang “ aku “ dan “ milikku “.

Ada empat ( 4 ) macam kemelekatan, yaitu :

  1. Kamupadana, ialah kemelekatan pada bentuk, suara, bau, rasa, sentuhan dan kesan pikiran. Atau kemelekatan pada kesenangan indera.
  2. Ditthupadana, ialah kemelekatan pada pandangan yang salah, yaitu : yang benar dikatakan salah, yang baik dikatakan buruk, yang berguna dikatakan tidak berguna dan lain-Iainnya.
  3. Silabbatupadana, ialah kemelekatan pada upacara agama, yang menganggap bahwa upacara agama dapat menghasilkan kesucian.
  4. Attavadupadana, ialah kemelekatan pada kepercayaan tentang adanya “aku” atau “atta” yang kekal dan terpisah.

Rantai Kesepuluh : bhava

Bergantung pada kemelekatan timbul bhava, yang secara harafiah berarti “menjadi” ( Inggris : being ).

Bhava, ini merupakan perbuatan baik ataupun buruk yang membentuk Kamma ( kammabhava ) – proses aktif untuk menjadi – dan berbagai alam kehidupan ( upattibhava ) – proses menjadi yang pasif.

Kammabhava, ialah proses kamma yaitu munculnya bentuk -bentuk karma yang menyebabkan tumimbal lahir.

Upattibhava, ialah proses tumimbal-Iahir, yaitu buah-buah kamma yang lalu (vipaka-kamma).

Perbedaan kecil antara samkhara dan kammabhava yaitu yang pertama menunjukkan masa lalu sedangkan yang kedua menunjukkan kehidupan saat ini. Keduanya menunjukkan kekuatan Kamma, hanya saja kammabhava yang membentuk kelahiran yang akan datang.
Rantai Kesebelas : Jati

Bergantung pada proses menjadi muncul kelahiran ( jati ) dalam kehidupan berikutnya.

Yang dimaksudkan dengan kelahiran adalah munculnya perwujudan batin dan jasmani ( khandhanam patubhavo ).

Rantai Keduabelas : Jaramarana

Usia tua dan kematian ( jaramarana ) merupakan hasil kelahiran yang tidak dapat dielakkan. Jara-marana, ialah ketuaan dan kematian, yang merupakan rangkaian penderitaan, seperti kesakitan, susah hati, kesedihan, ratap tangis, putus asa, kecewa, kematian dan lain-Iainnya.

MEMBALIK URUTAN PATICCASAMUPPADA

Urutan Paticcasamuppada secara terbalik akan memperjelas permasalahan proses tumimbal-lahir ini. Berikut ini adalah jika urutan tersebut dibalik :

“ Usia tua dan kematian hanya dimungkinkan terjadi pada organisme batin-jasmani, yaitu suatu “mesin” dengan 6 indria. Organisme semacam itu harus dilahirkan, oleh karena itu perlu adanya kelahiran.

Kelahiran merupakan akibat yang tak dapat dielakkan dari Kamma atau perbuatan masa lalu, yang dibentuk oleh kemelekatan karena adanya napsu keinginan. Napsu keinginan muncul jika ada perasaan. Perasaan merupakan hasil sentuhan indria dengan objeknya.

Oleh karena itu ia menduga adanya alat indria yang tak mungkin ada jika tidak terdapat batin dan jasmani. Batin berakar dari kesadaran tumimbal lahir, yang dibentuk oleh perbuatan-perbuatan, karena tidak mengetahui segala sesuatu sebagaimana adanya. “

Jadi, rumusan selengkapnya adalah sebagai berikut :

1. Bergantung pada ketidaktahuan ( avijja ) muncul kegiatan yang terbatas ( samkhara ) .

2. Bergantung pada kegiatan yang terbatas ( samkhara ) muncul kesadaran penyambung ( pattisandi-vinnana ) .

3. Bergantung pada kesadaran penyambung ( pattisandi-vinnana ) muncul batin dan jasmani ( nama dan rupa ).

4. Bergantung pada batin dan jasmani ( nama dan rupa ) muncul 6 landasan indria ( salayatana ).

5. Bergantung pada 6 landasan indria ( salayatana ) muncul sentuhan ( Phassa ).

6. Bergantung pada sentuhan ( Phassa ) muncul perasaan ( Vedana ).

7. Bergantung pada perasaan ( vedana ) muncul napsu keinginan ( tanha ).

8. Bergantung pada napsu keinginan ( tanha ) muncul kemelekatan ( Upadana ).

9. Bergantung pada kemelekatan ( Upadana ) muncul perbuatan ( kammabhava ).

10. Bergantung pada perbuatan ( Kammabhava ) muncul kelahiran ( Jati ).

11. Bergantung pada kelahiran ( Jati ) muncullah

12. usia tua, kematian, penderitaan, penyesalan, kegetiran, kesedihan, dan kekecewaan ( Jaramarana ).

Demikianlah paticcasamuppada menerangkan timbulnya keseluruhan kelompok penderitaan ( dukkha ).

( Sumber Pustaka : “Sang Buddha dan Ajaran-ajaran-Nya”, Bhante Narada Mahathera ; Majalah Dhammacakka, no.43/XII/Agustus-Oktober 2006 ).

Salam Damai dan Cinta Kasih…,

“ Sabbe Satta Sukhita Hontu, Nidukkha Hontu, Avera Hontu, Abyapajja hontu, Anigha Hontu, Sukhi attanam Pariharantu “

( “Semoga semua makhluk berbahagia, bebas dari penderitaan, bebas dari kebencian/permusuhan/pertentangan/niat jahat, bebas dari kesakitan, bebas dari kesukaran, semoga mereka dapat mempertahankan kebahagiaan mereka masing-masing” )

ARAKA - JATAKA (Kisah Mengenai Welas Asih)

Pada suatu kesempatan Sang Bhagava berkata demikian pada Sangha, "Para Bhikkhu, kemurahan hati (welas asih) yang dipraktekan dengan segenap pikiran, dimeditasikan, diperbesar, dijadikan alat kemajuan, dijadikan obyek tunggal, dilatih, dan dimulai dengan baik dapat diharapkan untuk menghasilkan sebelas berkah.


"Apakah kesebelasan berkah itu? Ia tidur dengan gembira dan bangun dengan gembira; ia tidak mengalami mimpi buruk; orang-orang menyukainya; para makhluk halus menjaganya; api, racun, dan pedang tidak mendekatinya; mudah diingat; pembawaannya menjadi tenang; ia mati tanpa perasaan takut; tanpa memerlukan kebijaksanaan lebih lanjut ia mencapai surga Brahma. Kemurahan hati, para bhikkhu, yang dilakukan tanpa mengenal kehendak" dan seterusnya. "Dapat diharapkan untuk menghasilkan sebelas berkah. Sambil memuji kemurahan hati yang berisi sebelas berkah ini, para bhikkhu, seorang bhikkhu seyogyanya bermurah hati kepada semua makhluk, disuruh atau tidak, ia seharusnya menjadi sahabat orang yang ramah, juga menjadi sahabat orang yang tidak ramah, dan menjadi sahabat orang yang acuh tak acuh. Jadi kepada semua tanpa perbedaan, disuruh atau tidak, di harus bermurah hati; ia harus bersimpati terhadap kesenangan atau kesusuhan dan melatih kesabaran; ia harus melakukan pekerjaanya dengan empat kebaikan. Dengan berbuat demikian ia akan sampai ke surga Brahma walaupun tanpa jalan atau buah. Para bijaksana dengan mengembangkan welas asih selama tujuh tahun, telah berdiam di surga Brahma selama tujuh jaman, masing-masing dengan satu masa berkembang dan satu masa menyusut "] Dan ia menceritakan kepada mereka sebuah kisah di masa lalu.

Pada suatu ketika, di zaman yang lalu, Sang Bodhisattva terlahir di keluarga Brahmin. Setelah dewasa, ia melenyapkan napsunya dan menjalani kehidupan religius,serta mencapai empat kebaikan. Ia bernama Araka, dan menjadi seorang guru yang tinggal di daerah Himalaya dengan pengikut yang banyak. Ia memberi nasehat kepada para bijaksana pengikutnya, "Seorang yang mengasingkan diri (pertapa) harus menunjukan welah asih, bersimpati (turut merasakan) dalam kesenangan maupun kesusuhan, dan penuh kesabaran karena rasa welas asih yang dicapai dengan penuh tekad mempersiapkannya menuju surga Brahma. " Dan untuk menjelaskan berkah dari welas asih, ia melantunkan sajak berikut ini:

"Hati yang memiliki welas asih tanpa batas kepada semua yang terlahir.

Di surga, di alam bawah, dan di bumi.

Penuh dengan rasa welas asih tak terbatas, kemurahan hati tanpa batas.

Di dalam hati yang demikian takkan ada perasaan sempit atau terkurung."


Demikianlah uraian Sang Bodhisattva kepada para muridnya mengenai pengalaman welas asih dan berkahnya. Dan ia seketika terlahir di surga Brahma, selama tujuh zaman, masing-masing dengan masa berkembang dan menyusut, ia tidak kembali lagi ke dunia ini. Setelah selesai berkhotbah, Sang Bhagava mengindentifikasi kelahiran tersebut, "Para bijaksana pada saat itu sekarang adalah para pengikut Buddha;dan saya sendiri adalah Sang Guru Araka."


"Sampah menjadi Emas, Emas menjadi Cinta Kasih"

"Orang yang mempunyai kedua tangan tetapi malas, mabuk-mabukan, merugikan orang lain tidak lebih baik dari orang yang tidak mempunyai tangan"

"Untuk menghapus malapetaka di dunia, harus dimulai dari memperbaiki kondisi hati manusia."

JATAKA 55 - PANGERAN LIMA SENJATA DAN SI RAMBUT-LENGKET {Senjata Batu Intan}

Suatu ketika, Sang Boddhisatva terlahir sebagai putra Raja dan Ratu Benares. Pada hari pemberian nama, 800 peramal diudang ke istana. Dan sebagai hadiah, mereka diberi apapun yang mereka inginkan untuk menyenangkan mereka. Dan mereka diminta untuk meramalkan nasib sang pangeran kecil, agar mereka dapat memberikan nama yang sesuai untuknya. Salah satu peramal ahli dalam membaca tanda tanda di badan. Ia berkata, "Tuanku, ini adalah berkah dari jasa-jasa anda. Dia akan menjadi raja penerus kerajaan ini." Para peramal itu sangat pandai. Mereka mengatakan apapun yang ingin diketahui raja dan ratu. Mereka mengatakan, "Anakmu akan menjadi ahli 5 senjata. Dan akan menjadi orang terhebat dalam menguasai 5 senjata ini di seluruh India." Berdasarkan hal ini, raja dan ratu memberi nama kepada anaknya 'Pangeran Lima Senjata'

Saat pangeran berusia 16 tahun, raja memutuskan agar ia pergi belajar. Dia berkata, "Pergilah anakku, ke kota Takkasila. Disana kamu akan menemui guru yang paling terkenal. Pelajari apapun yang kamu bisa darinya. Dan berikan uang ini sebagai pembayarannya". Dia memberikan seribu uang emas dan mengantarkan perjalanannya. Pangeran pergi ke guru terkenal di Takkasila ini. Dia belajar dengan rajin dan menjadi murid terbaik sang guru. Saat sang guru telah mengajarkan semua ilmu yang dimilikinya, dia memberikan pangeran hadiah khusus untuk kelulusannya. Dia memberikan sang pangeran lima buah senjata dan mengembalikan sang pangeran ke Benares.

Dalam perjalanan pulang, dia melewati hutan yang dihuni oleh raksasa. Para penduduk memperingatkan Pangeran Lima-Senjata, "Anak muda, jangan lewati hutan itu. Disana ada raksasa mengerikan yang bernama Rambut-Lengket. Dia membunuh semua yang dilihatnya!" Tetapi sang pangeran percaya diri dan tidak takut bagaikan seekor singa muda. Sehingga dia memasuki hutan, dan akhirnya menemui raksasa yang menakutkan itu. Raksasa itu setinggi pohon, dengan kepala sebesar atap rumah dan matanya sebesar piring makan. Dia memiliki dua taring kuning dan besar yang kelihatan keluar dari mulutnya yang menyeringai dengan giginya yang coklat jelek. Dia memiliki perut yang sangat besar dan bertotol-totol putih serta memiliki tangan dan kaki berwarna biru. Raksasa itu meraung dan menggeram kepada sang pangeran, "Kemana kau akan pergi, manusia kecil? Kamu kelihatannya enak sekali. Aku akan menelan kamu!" Pangeran baru menyelesaikan pelajarannya dan telah memenangkan penghargaan tertinggi dari gurunya. Sehingga ia merasa telah mengetahui segalanya, dan dapat melakukan segalanya. Dia menjawab, "Oh mahluk kejam, aku adalah Pangeran Lima-Senjata, dan aku sengaja datang ke sini untuk menemui kamu. Aku menantang kamu beradu kekuatan! Aku akan membunuh kamu hanya dengan dua senjata - busur dan panah beracunku." Kemudian dia membidik panahnya ke raksasa itu. Tetapi panah itu lengket ke rambutnya, seperti lem, tanpa melukai raksasa itu sama sekali. Kemudian pangeran terus membidik raksasa sampai 50 panah beracunnya habis. Tetapi semuanya langsung lengket ke rambutnya, sehingga dinamai Rambut-Lengket. Kemudian mahluk itu mengguncangkan badannya, dari kepalanya yang jelek seukuran atap rumah sampai kakinya yang berwarna biru. Dan semua panah itu jatuh ke tanah.

Pangeran Lima-Senjata memakai senjatanya yang ketiga, pedang sepanjang 33 inchi. Dia menusukkannya ke musuhnya. Tetapi pedang itu juga langsung lengket ke rambut yang lengket dan tebal itu. Kemudian dengan senjata keempatnya, dia menombak si raksasa, dan langsung melekat di rambut lengket. Setelah itu, ia menyerang dengan senjata terakhirnya yang kelima, dan langsung tongkatnya juga lengket ke rambut itu. Kemudian sang pangeran berteriak, "Hey kamu, raksasa, pernahkan kamu mendengar namaku, Pangeran Lima-Senjata? Aku memiliki lebih dari lima senjata. Aku memiliki kekuatan dari badanku yang muda. Akan kupatahkan badanmu berkeping-keping!" Dia memukul Rambut-Lengket dengan kepalan kanannya, seperti petinju. Tetapi tangannya lengket ke rambutnya, dan tak bisa melepaskannya. Kemudian dia memukul dengan tangan kirinya, tetapi ini juga melekat erat di rambut itu. Kemudian dia menendang dengan kaki kiki kemudian kaki kanan, seperti ahli ilmu bela-diri, tetapi keduanya juga lengket ke rambut yang berantakan itu. Kemudian dia menyerang raksasa itu dengan kepalanya sekeras mungkin seperti pegulat dan akhirnya kepalanya pun tak bisa lepas dari rambut raksasa itu.

Meskipun lengket di lima tempat, sang pangeran tetap tidak takut. Si Rambut-Lengket berpikir, "Sangat aneh, dia lebih mirip singa daripada manusia. Bahkan terjebak dengan raksasa ganas seperi aku, dia tidak takut. Selama ini, aku telah membunuh banyak orang dalam hutan ini, tak ada seorangpun seperti pangeran ini. Mengapa dia tidak takut sama sekali? Karena Pangeraa Lima-Senjata tidak seperti orang-orang lain, si Rambut-Lengket takut untuk langsung memakannya. Sehingga dia bertanya, "Anak muda, mengapa kamu tidak takut akan kematian?" Pangeran menjawab, "Mengapa aku harus takut mati? Tak ada yang meragukan setiap yang dilahirkan pasti mati!"

Kemudian Sang Boddhisatva berpikir, "Lima senjata yang diberikan oleh guru yang paling terkenal di dunia ini telah tak berguna. Bahkan kekuatanku yang seperti singa tak berguna. Di luar guruku, badanku, aku harus mendapatkan senjata dari pikiranku, satu-satunya senjata yang aku perlukan." Pangeran kemudian melanjutkan,"Ada hal kecil, hai raksasa, yang belum aku katakan kepadamu. Senjata rahasiaku ada di perutku, sebuah batu intan yang tak dapat kau cerna. Itu akan memotong ususmu sampai hancur jika kamu menelanku. Sehingga jika aku mati, maka kamu mati! Sehingga aku tak takut padamu." Dengan cara ini, sang pangeran menggunakan kekuatan kekuatan dari dalam dirinya sendiri untuk meyakinkan si Rambut-Lengket. Dia sekarang mengerti bahwa senjata terbaik ada dalam pikirannya sendiri, yaitu batu intan yang berharga yang dinamakan kecerdasan. Rambut-Lengket berpikir, "Tak salah lagi, pasti orang pemberani ini menyatakan kebenaran. Bahkan jika aku makan potongan badannya sebesar kacang polong, aku tak akan bisa mencernanya. Aku akan membebaskannya." Takut akan kematiannya sendiri, ia membebaskan Pangeran Lima-Senjata. Dia berkata, "Kau adalah orang yang hebat. Aku tak akan memakan dagingmu. Aku bebaskan kamu, seperti bulan yang muncul setelah gerhana, kau pun akan bersinar diantara sahabat dan keluargamu."

Sang Boddhisatva telah mengalami pertempuran melawan raksasa Rambut-Lengket dan telah mengetahui bahwa senjata yang paling berharga adalah kecerdasan, bukan senjata yang ada di luar. Dan dengan senjata ini, dia juga mengetahui bahwa mencabut jiwa mahluk hidup hanya akan mengakibatkan penderitaan bagi si pembunuh. Dengan penuh terima kasih dia megatakan kepada raksasa yang tak beruntung itu, "Oh Rambut-Lengket, kamu terlahir sebagai mahluk pembunuh pemakan daging, karena perbuatan jahatmu yang lampau. Kamu hanya akan pergi dari kegelapan ke kegelapan yang lain. Sekarang kamu telah membebaskan aku, kamu tak akan bisa membunuh dengan gampang. Dengarlah, membunuh mahluk hidup akan membawa kesengsaraan dalam dunia, dan kemudian akan terlahir di neraka, atau sebagai hewan atau setan kelaparan. Bahkan jika kamu cukup beruntung untuk terlahir menjadi manusia, kamu akan memiliki umur pendek!" Pangeran Lima-Senjata kemudian terus mengajar Rambut-Lengket, sehingga raksasa itu setuju menjalankan lima aturan kemoralan.

Dengan cara ini dia berubah dari raksasa menjadi peri penjaga hutan yang bersahabat. Dan ketika dia meninggalkan hutan, pangeran menceritakan tentang berubahnya raksasa itu kepada penduduk sekitar. Dan untuk selanjutnya mereka memberi makan kepadanya secara teratur dan hidup dengan damai. Pangeran Lima-Senjata kembali ke Benares. Kemudian dia menjadi raja. Akhirnya ia meninggal dan terlahir di alam yang sesuai.

Pesan moral :

Senjata satu-satunya yang kamu perlukan ada didalam dirimu sendiri.

JATAKA 54 - POHON PALSU

Di jaman dahulu ada seorang pemimpin pengembara. Dia pergi dari desa ke desa menjual berbagai macam barang. Pengikutnya paling sedikit 500 kereta yang ditarik kerbau jantan. Dalam salah satu perjalanannya, dia melewati hutan yang sangat lebat. Dia memperingatkan para pengikutnya, "Sahabat-sahabatku, saat kita melintasi hutan ini, berhati-hatilah terhadap pohon pohon beracun, buah beracun, daun beracun, bunga beracun dan bahkan sarang madu beracun. Sehingga, apapun yang belum pernah kita makan seperti buah, daun bunga atau apapun tidak boleh dimakan sebelum menanyakannya kepadaku terlebih dahulu."

Mereka semuanya menyetujui, "Ya, tuanku." Di hutan itu ada sebuah desa. Dan di perbatasan desa itu ada sebatang pohon yang disebut "pohon palsu". Batang, cabang, daun, bunga dan buahnya sangat mirip dengan pohon mangga. Bahkan warna, ukuran, bau dan rasanya hampir persis dengan pohon mangga. Tetapi perbedaannya adalah buah palsu ini mengandung racun yang mematikan. Beberapa kereta mendahului pemimpinnya dan sampai di pohon palsu ini. Mereka semua lapar dan buah palsu ini kelihatannya seperti buah mangga matang yang lezat. Beberapa orang langsung memakan buah itu tanpa pikir panjang. Mereka menelannya sebelum seorangpun sempat mengatakan sesuatu. Yang lain ingat dengan pesan pemimpinnya, tetapi mereka menganggap pohon ini adalah pohon mangga yang lain jenisnya. Mereka merasa beruntung mendapatkan mangga matang di depan desa itu, sehingga mereka memutuskan untuk memakan beberapa buah mangga, sebelum dihabiskan. Dan ada juga beberapa yang lebih bijaksana daripada yang lain. Mereka memutuskan untuk menuruti nasihat pemimpin mereka.

Meski mereka tidak mengetahuinya, pemimpin pengembara ini adalah seorang Boddhisatva. Saat pemimpin itu sampai di pohon itu, orang yang telah berhati-hati dan tidak memakan buah itu bertanya, "Tuan, apakah ini merupakan pohon yang aman untuk dimakan?" Setelah menyelidiki dengan hati-hati, dia menjawab, "Jangan, jangan. Ini memang kelihatan seperti pohon mangga, tetapi ini bukan. Ini adalah pohon palsu yang sangat beracun. Bahkan kita tak boleh menyentuhnya." Orang yang telah memakan buah itu ketakutan sekali. Pemimpin mereka menyuruh mereka memuntahkan makanan itu secepatnya. Mereka lakukan ini, dan kemudian diberikan empat makanan yang manis untuk dimakan - kismis, pasta gula tebu, yogurt manis dan madu lebah. Dengan ini mereka menjadi lebih segar setelah memuntahkan buah palsu yang beracun itu.

Tetapi orang yang paling serakah dan bodoh yang tak bisa diselamatkan. Mereka yang langsung memakan buah beracun itu tanpa pikir panjang. Mereka tak bisa diselamatkan lagi karena terlambat dan racun itu telah bekerja dan membunuh mereka. Biasanya, saat pengembara yang memakan buah itu meninggal sewaktu mereka tidur di malam hari. Pagi harinya penduduk setempat mendatangi mereka dan memegang kaki mayat-mayat itu menyeretnya ke tempat rahasia mereka dan menguburkannya. Kemudian mereka mengambil semua barang dagangan dan kereta kereta itu. Dan penduduk itu ingin melakukan hal yang sama saat ini. Saat subuh keesokan harinya, mereka mendatangi pohon palsu itu. Dan mereka saling bercakap-cakap, "Kerbau ini akan menjadi milik saya!" "Aku mau kereta itu" "Aku akan mengambil isi barang dagangannya saja!". Tetapi saat mereka sampai di pohon palsu itu mereka melihat kebanyakan orang masih hidup.

Dengan terkejut, mereka bertanya, "Bagaimana kalian tahu bahwa ini bukanlah pohon mangga?" Mereka menjawab, "kami tidak tahu, tetapi pemimpin kami telah memperingatkan kami sebelumnya dan saat dia melihatnya dia mengetahui pohon itu." Kemudian penduduk menanyai pemimpin rombongan, "Oh orang bijaksana, bagaimana kamu tahu bahwa ini bukanlah pohon mangga?" Dia menjawab, "Aku mengetahuinya karena dua sebab. Pertama, pohon ini mudah dipanjat. Dan kedua, pohon ini ada tepat di perbatasan desa. Jika buah pohon ini tak dipetik, pasti berarti pohon ini tidak aman untuk dimakan!" Semua orang terheran-heran akan kebijaksanaan pemimpin ini berdasarkan kesimpulan yang sederhana. Kemudian rombongan itu melanjutkan perjalanan dengan aman.

Pesan moral :

Orang bijaksana dibimbing oleh pengetahuan;

orang bodoh mengikuti rasa laparnya

Selasa, 21 Juli 2009

Biodata Bhante Sri Pannavaro Mahathera

pannavaroduduk

Nama : Sri Pannavaro Mahathera
Nama Lahir : Husodo (Ong Tik Tjong)
Tempat Lahir : Blora, Jawa Tengah, Indonesia
Tanggal Lahir : 22 Juni 1954
Alamat tinggal : Vihara Mendut
Depan Candi Mendut, Desa Mendut, Kota Mungkid,
Kotakpos 111, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia 56501
Telp 0293 788236, Fax 0293 788404
Pendidikan Akhir : Fakultas Psikologi, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta (1972-1975)

Mengenal Ajaran Buddha

Saya lahir di Blora, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Kakek dari ibu saya adalah seorang kapiten. Oleh karena seorang kapiten adalah sesepuh masyarakat, maka beliau dianggap sesepuh di klenteng. Waktu itu tugas kapiten mengurus berbagai macam hal, termasuk upacara agama. Tidak hanya Lo Cu, kalau kapiten datang sembahyang di klenteng, tambur juga harus di pukul. Setelah jaman Belanda, meskipun sudah tidak menjadi kapiten, masyarakat tetap menganggap beliau sebagai sesepuh. Karena pengaruh dari kakek, ibu saya tidak dekat dengan agama Kristen, meskipun bersekolah di sekolah Belanda. Ayah saya juga tidak pernah dekat dengan agama Kristen. Sehingga anak-anaknya menjadi umat klenteng, meskipun tidak mengerti apa yang diajarkan oleh agama. Dunia saya adalah dunia sembahyang, baik di klenteng ataupun di rumah. Orangtua saya menjadi pengurus klenteng ketika saya akhir SMP atau awal SMA.

Saya mengenal ajaran Agama Buddha dari guru sejarah SMP saya, Bapak Suprapto, ketika saya duduk di kelas 1. Memang sebelumnya saya sudah mendengar adanya ajaran Buddha tetapi tidak mengetahui apa yang diajarkan. Pak Suprapto adalah orang yang pertama kali menjelaskan apa yang diajarkan oleh Agama Buddha, tentang Empat Kesunyataan Mulia, Jalan Mulia Berunsur Delapan, dan sebagainya. Sejak itu saya tertarik dan merasa cocok dengan ajaran Agama Buddha karena merasa ajaran Agama Buddha sangat logis dan jelas sekali inti ajarannya.

Di tahun 1965, ketika saya kelas satu SMP, terjadi G 30 S. Waktu itu terjadi perubahan kurikulum sehingga saya duduk di SMP kelas satu selama satu setengah tahun. Semua orang harus menentukan agama apa yang dianut. Sebelumnya agama tidak menjadi keharusan. Lalu saya mulai ikut kebaktian pada hari Minggu jam empat sore di Klenteng Hok Tik Bio Blora. Klenteng itu dipakai untuk kebaktian Agama Buddha. Di sana terdapat altar Sang Buddha.

Pada tahun 1967, beberapa bulan setelah mengikuti kebaktian , Bhante Narada Mahathera datang ke Blora. Beliau adalah bhikkhu pertama yang saya lihat dalam kehidupan saya. Dari Beliaulah saya menjadi upasaka dengan nama Tejavanto. Pada awal suatu ceramah, beliau mengajukan pertanyaan-pertanyaan Dhamma. Kepada yang bisa menjawab—terutama generasi muda dan anak-anak—beliau memberi hadiah, antara lain kartupos Buddhis atau buku-buku Dhamma kecil.

Pada suatu kesempatan, beliau bertanya, ”Guru Agung Buddha Gotama sudah lama parinibbana, sudah tidak bersama kita lagi. Apakah Anda masih bisa melihat Beliau?” Saya ingat suatu kalimat yang artinya adalah: kalau Anda melihat Dhamma, Anda akan melihat Buddha. Itulah jawaban saya atas pertanyaan Bhante Narada Mahathera. Bhante Narada membenarkan jawaban itu, tetapi karena hadiahnya habis, sebagai gantinya beliau memberikan semacam harapan kepada saya dengan mengatakan, “Benar sekali jawabanmu. Semoga engkau menjadi bhikkhu yang baik untuk bangsamu.” Saya ingat sekali kalimat yang diterjemahkan oleh penterjemahnya itu, sampai hari ini. Beliau memberi inspirasi kepada saya untuk menjadi bhikkhu. Harapan Bhante Narada yang bagi saya dan masyarakat yang mendengarkan ceramah beliau pada waktu itu dianggap tidak lazim, terpatri pada pikiran saya. Hanya keinginan untuk menjadi bhikkhu belum muncul. Waktu itu saya masih duduk di SMP kelas 2.

Saya tekun mengikuti kebaktian sore yang dipimpin oleh Upasaka Pandita Muda Gunapriya. Nama Tionghoanya adalah Ong Seng Hiap. Dia adalah salah seorang tokoh awal, tokoh pertama yang mengenalkan Agama Buddha di Blora. Ada seorang lagi yang bernama Tan Bo Siu, nama buddhisnya Upasaka Bodhiphala Mulyono. Saya lebih banyak berdiskusi dengan om Bo Siu, meskipun juga dengan Upasaka Pandita Muda Gunapriya, Ong Seng Hiap. Om Bo Siu mempunyai toko bahan makanan. Setiap saya pulang sekolah dan tidak ada pelajaran tambahan atau les sore, saya selalu berkunjung ke tokonya. Selama tidak sibuk, sambil menunggu pembeli, saya berdiskusi tentang dhamma dan tentang aktivitas buddhis dengan om Bo Siu. Kemudian belakangan muncul lagi Upasaka Pandita Dharmapriya, seorang pensiunan angkatan darat, yang sempat menjadi anggota DPRD di buddhis. Dia mengikuti aktivitas di Gabungan Tridharma Indonesia di Blora. Waktu saya aktif di Blora, sudah tidak ada lagi Perbudi maupun PUUI di Blora.

Setelah banyak berdiskusi dengan om Bo Siu, bergaul dengan om Seng Hiap, dan dengan Romo Dharmapriya, kemudian saya ikut mengasuh sekolah minggu pada Minggu Pagi. Lalu kedekatan dan kecintaan saya pada ajaran agama Buddha bertambah, ditambah juga pengertian saya juga bertambah, kurang lebih 3 tahun kemudian timbullah keinginan untuk menjadi bhikkhu.

Keinginan menjadi bhikkhu

Saya melihat bermacam-macam kebahagiaan yang bisa dirasakan banyak orang. Tapi toh kebahagiaan itu akhirnya selesai, tidak kekal, berubah. Pikiran seperti itu muncul dalam pemikiran saya, dan itulah yang mendorong timbulnya keinginan untuk menjadi bhikkhu.

Saya menyampaikan keinginan itu kepada orangtua. Namun, orangtua sangat berkeberatan. Apalagi saya tidak mempunyai saudara laki-laki, baik kakak maupun adik. Saya anak pertama laki-laki dan tiga adik saya perempuan. Ini membuat orangtua semakin berat untuk mengijinkan saya menjadi bhikkhu. Orangtua menganjurkan dan meminta dengan keras supaya saya melanjutkan studi terlebih dahulu, selesai SMA dan sampai ke perguruan tinggi semaksimal mungkin, baru nanti dipikirkan kembali keinginan untuk menjadi bhikhu tersebut.

Sebagai seorang anak muda yang mempunyai keinginan—dan keinginan itu berkembang—ditambah lagi dengan harapan Bhante Narada yang terpatri, memperkuat timbulnya keinginan menjadi bhikkhu. Permintaan orangtua untuk studi dulu sampai maksimal, terasa sebagai penghalang. Akan tetapi, setiap tahun saya menyampaikan lagi keinginan itu, setiap tahun pula orangtua juga menyampaikan permintaannya. Sehingga seperti tarik-menarik antara orangtua dengan saya. Banyak nasihat yang diberikan kepada saya dari berbagai pihak untuk tidak tergesa-gesa menjadi bhikkhu. Nasihat bahwa melengkapi diri dengan ilmu pengetahuan umum adalah sangat berguna, agar kelak kemudian bisa memahami Dhamma dan mengajarkan Dhamma kepada masyarakat dengan baik. Namun, banyak juga pihak yang memberikan nasihat kepada orangtua saya, untuk memahami keinginan sang anak, karena keinginan untuk menjadi bhikkhu juga keinginan yang luhur. Bahagia di dalam kehidupan spiritual, tidak kalah bila dibandingkan dengan kebahagiaan sukses di kehidupan duniawi.

Pada waktu kuliah di fakultas psikologi Universitas Gajah Mada Yogyakarta, saya banyak bertemu dengan para bhikkhu. Saya membantu para bhikkhu mengetik terjemahan naskah-naskah Dhamma dari bahasa Inggris. Membantu para bhikkhu ketika memberikan latihan meditasi. Mengikuti para bhikkhu ke pelosok-pelosok daerah di Jawa Tengah untuk membabarkan Dhamma. Semuanya itu memperkuat keinginan saya untuk menjadi bhikkhu. Saya melihat para bhikkhu hidup sederhana. Tidak disibukkan dengan mencari materi sebagaimana layaknya masyarakat dan tidak mempunyai banyak materi. Bahkan sangat sederhana. Tetapi para bhikkhu mempunyai kehidupan yang bahagia. Dan kehidupannya juga bermanfaat bagi orang banyak, tidak hanya bagi lingkungan kecil, keluarganya sendiri, seperti para perumah tangga.

Alasan-alasan itulah—yang saya lihat dengan mata kepala sendiri dan saya ikut terlibat dalam kehidupan para bhikkhu sehari-hari di Yogyakarta—yang juga memperkuat keinginan saya untuk menjadi bhikkhu. Akhirnya orangtua mengijinkan saya untuk menjadi bhikkhu.

Setelah saya menjadi bhikkhu, harapan orangtua yang dahulu meminta saya untuk studi dulu, menunda menjadi samanera, yang dahulu saya anggap sebagai penghalang cita-cita luhur menjadi bhikkhu, sekarang saya membuktikan bahwa harapan orangtua itu ternyata sangat berguna sekali. Dengan pengetahuan yang meskipun tidak banyak—yang saya dapat pada waktu menjadi mahasiswa di fakultas psikologi Universitas Gajah Mada—membekali saya untuk mampu menyampaikan Dhamma dengan lebih baik. Memang dalam dunia di mana sains, ilmu pengetahuan berkembang dan digunakan dengan baik oleh masyarakat luas, para bhikkhu yang ingin menjadi Dhammaduta, menyampaikan bimbingan Dhamma kepada masyarakat, sebaiknya membekali diri dengan pengetahuan-pengetahuan umum yang memang tidak harus banyak, tetapi cukup membantu dalam pengabdian para bhikkhu memberikan pembinaan Dhamma kepada masyarakat. Oleh karena itu, sekarang saya sungguh berterima kasih bahwa orangtua mendorong saya untuk menyelesaikan sekolah saya sampai maksimal melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi.

Memasuki kebhikkhuan

Pada tahun 1969 datang di Indonesia empat orang Dhammaduta dari Thailand untuk membantu mengembangkan Agama Buddha di Indonesia. Mereka adalah Ven. Phra Kru Pallad Attachariya Nukich yang kemudian memakai nama Chau Kun Vidhurdhammabhorn, Ven. Phra Kru Pallad Viriyacarya, Ven. Phra Maha Prataen Khemadas, dan Ven. Phara Maha Sujib Khemacharo.

Bhante Vidhurdhammabhorn yang juga akrab di panggil bhante Wim, menjadi upajjhaya yang mentahbiskan saya menjadi samanera di Vihara Dharmasurya, desa Kaloran, Temanggung pada tanggal 24 November 1974. Waktu pentahbisan saya sebagai samanera, di Kaloran, hadirlah bhante Girirakkhito dan bhante Jinapiya. Meskipun mereka sudah bergabung dalam Sangha Agung Indonesia, hubungan dengan Sangha Agung Indonesia sudah tidak harmoni lagi. Hadir juga bhante Khemasarano, dan beberapa samanera yang tentu bukan anggota Sangha Theravada Indonesia, karena Sangha Theravada Indonesia belum berdiri.

Bhante Vidhurdhammabhorn yang akrab dipanggil bhante Wim, waktu itu mondar-mandir di Tangerang, di Jakarta di beberapa rumah yang disediakan oleh umat, dan di Malang di Dhammadipa Arama. Hubungan beliau dengan Sangha Agung Indonesia yang merupakan satu-satunya sangha waktu itu, tidak harmoni. Beliau bukan anggota Sangha Agung Indonesia. Apalagi beliau bhikkhu dari luar negeri. Sebagai samanera, saya bukanlah anggota sangha. Saya bertanggung jawab pada upajjhaya saya, bhante Vidhurdhammabhorn dari Wat Bovoranies Vihara. Samanera adalah tanggung jawab penuh upajjhaya.

Waktu itu Vihara Mendut belum ada. Saya tinggal di Yogyakarta. Di suatu kuti kecil di belakang rumah umat, Ibu Soepangat Prawirokoesoemo. Tanggal 2 Januari 1976, saya pindah ke Vihara Mendut, yang tanahnya masih sekitar 200 meter. Vihara Mendut adalah milik Yayasan Mendut, yang waktu itu pendiri atau pengurusnya antara lain: Ibu Soepangat, Bapak Suradji.

Setelah lebih dari 2 tahun menjadi samanera, tepatnya tanggal 21 Februari 1977, saya ditahbis menjadi bhikkhu di Wat Bovoranives Vihara, Bangkok. Upajjhaya saya adalah His Holiness Somdeth Phra Nyanasamvara. Beliau adalah Sangharaja Thailand yang sekarang.

Penahbisan samanera
Nama penahbisan: Tejavanto
Vihara Dharmasurya, desa Kaloran, Temanggung, 24 Nopember 1974
Upajjhaya: Y.M. Vidhurdhammabhorn
Acariya: Y.M. Vidhurdhammabhorn

Penahbisan bhikkhu :

Nama penahbisan: Pannavaro
Wat Bovoranives Vihara, Bangkok, Thailand, 21 Februari 1977
Upajjhaya: Y.M. Suvaddhano
(H.H. Somdeth Phra Nyanasamvara – Sangharaja Thailand sekarang)
Kammavacariya, Guru Penahbisan: Y.M. Dhammadiloka
Anusavanacariya, Guru Pembimbing: Y.M. Vidhurdhammabhorn

Gelar Kehormatan

7 Gelar kehormatan keagamaan dari Sangha Sri Lanka
1 Gelar kehormatan keagamaan dari Sangha Thailand
Jabatan : Kepala Sangha Theravada Indonesia
Kepala Vihara Mendut, Magelang, Jawa Tengah
Kepala Vihara Dhamma Sundara, Solo, Jawa Tengah
Pendiri bersama Konferensi Agung Sangha Indonesia
(All Indonesia Conference of Sangha)

Kamis, 09 Juli 2009

Tujuh Keajaiban Jejak-Jejak Sang Buddha

Tujuh Keajaiban Jejak-Jejak Sang Buddha


India adalah negara dimana benih-benih Buddhisme pertama kali muncul. Di sinilah Sang Buddha menyebarkan ajaran mulia agama ini.

Ada sekitar 16 situs ziarah Buddhis, di antaranya ada 4 yang memiliki arti penting. Mengikuti tur Buddhis akan memberikan kita sebuah pengetahuan akan asal muasal dan pertumbuhan Buddhisme di negara ini.

Beberapa situs ziarah Buddhisme yang ternama terletak di Lembah Gangga di bagian utara India. Di tempat inilah Sang Buddha menyampaikan ajaran pertama-Nya yang ada dalam ajaran Buddhisme.

Jadi ikutilah jejak-jejak Sang Buddha di tujuh tempat ini. Berikut tempat-tempat yang merupakan situs yang penting bagi umat Buddha:

1. Bodhgaya.



Sebuah tempat yang penting dalam mempelajari Buddhisme, Bodhgaya terletak di propinsi Bihar. Di sinilah Sang Buddha mencapai Pencerahan. Kota ini merupakan situs ziarah yang terkenal dan merupakan rumah yang indah bagi vihara-vihara dan stupa-stupa. Ratusan turis dan penziarah datang ke sini setiap tahunnya.

2. Lumbini.


Kota kecil ini terletak di perbatasan Nepal-India. Merupakan tempat kelahiran Pangeran Siddhattha, Sang Bodhisatta (calon Buddha). Di sana ada beberapa vihara dan monumen keagamaan yang terkenal dengan keindahan pahatannya.

3. Rajgir.


Kota yang indah ini merupakan situs ziarah Buddhis yang penting. Pada masa lampau dikenal dengan nama Rajagriha (Rajagrha), kota ini dikelilingi oleh pegunungan dan pepohonan. Merupakan salah satu dari tempat yang penting bagi agama Buddha dan Sang Buddha menyampaikan ajaranNya di sini. Kota ini penuh dengan kuil dan vihara-vihara.

4. Nalanda.


Universitas tua ini terletak di dekat Rajgir. Merupakan salah satu tempat penting untuk pembelajaran Buddhis. Didirikan pada abad ke-5 Sebelum Masehi, universitas ini dikunjungi oleh para sarjana dan siswa-siswa ternama. Sekarang ratusan turis datang ke sini untuk melihat reruntuhannya. Di sini juga terdapat sebuah museum yang dikelola oleh Badan Survey Arkeologi India.

5. Sanchi.


Termasuk di antara situs ziarah Buddhis yang terkenal, Sanchi merupakan rumah bagi banyak stupa-stupa, vihara-vihara, kuil-kuil Buddhis dan monumen-monumen keagamaan lainnya. Ratusan turis juga datang ke sini untuk melihat pohon Bodhi Ananda yang terkenal.

6. Varanasi dan Sarnath.


Selain dikenal sebagai pusat ziarah bagi umat Hindu, Varanasi juga dikenal sebagai tempat keagamaan yang terkenal bagi umat Buddha. Ketika dalam tur menuju Varanasi, kita juga bisa mengunjungi Sarnath. Sarnath merupakan tempat dimana untuk pertama kalinya Sang Buddha membabarkan Dhamma dengan kotbah pertama-Nya yang terdaat dalam Dhammacakkappavattana Sutta.

7. Kushinagar.


Sang Buddha menghembuskan napas terakhir-Nya di kota kecil ini di Uttar Pradesh. Kotbah terakhir-Nya yang terdapat dalam Maha Parinibbana Sutta juga dibabarkan di sini. Di sini ada beberapa jumlah vihara dan monumen yang menarik ratusan para penziarah.

Terlepas dari situs-situs ini, tur Buddhis juga bisa termasuk mengunjungi tempat seperti Gua Ajanta dan Ellora, Sravasti dan Sankasia. Semua tempat-tempat ini kaya dengan nilai-nilai sejarah yang penting dan terdapat banyak vihara, stupa dan kuil. Bahkan sebagai bonus, beberapa kelompok tur memberikan kesempatan ekpada kita untuk bisa mengunjungi Taj Mahal.

Jika kita sebagai umat Buddha berencana untuk mengunjungi situs-situs tersebut ada hal-hal yang perlu dipersiapkan sebelum berangkat kesana, yaitu persiapan materi, fisik dan mental.

Untuk saat ini, dana yang dikeluarkan untuk mengunjungi situs-situs tersebut cukup besar, sekitar $ 2000 (sekitar 20 juta rupiah) belum termasuk biaya-biaya tak terduga lainnya. Bagi kita yang belum memiliki dana sebanyak ini, tidaklah perlu memaksakan diri untuk pergi, karena mengunjungi situs-situs tersebut bukanlah suatu kewajiban.

Perjalanan menuju situs-situs tersebut tidaklah semudah dan senyaman ketika kita mengunjungi Bali di Indonesia atau Gua Batu di Malaysia atau Pattaya di Thailand. Jarak yang berjauhan antar situs dan teriknya matahari merupakan hal yang perlu kita perhatikan. Untuk itu fisik yang kuat merupakan syarat yang perlu diperhatikan. Namun ketidaknyamanan ini bukan berarti sama seperti kita berada di tanah tandus yang tidak bertuan atau di gurun pasir yang tidak ada airnya.

Dan yang terpenting dari perjalanan menuju situs-situs ini dimana kita melakukannya sebagai suatu proses ziarah adalah persiapan mental. Niat yang tulus untuk meningkatkan saddha (keyakinan) kita kepada Buddha, Dhamma dan Sangha, adalah hal yang perlu kita persiapkan. Dengan demikian maka kita akan mendapatkan pengalaman batin yang luar biasa ketika pulang ke tanah air.

Senin, 06 Juli 2009

Kelompok Alam PETA (Setan)


Makhluk Setan ini terbagi dalam beberapa kelompok, diantaranya terdapat kelompok-kelompok setan yang disebut PETA 4, PETA 12 dan PETA 21 sebagai tertulis di bawah ini :



PETA 4 (terdapat dalam Kitab Petavatthu-Atthakatha)

1. Paradattupajivika-Peta :
Setan yang memelihara hidupnya dengan memakan makanan yang disuguhkan orang dalam upacara sembahyang.

2. Khupapipasika-Peta:
Setan yang selalu lapar dan haus.

3. Nijjhamatanhika-Peta:
Setan yang selalu kepanasan.

4. Kalakancika-Peta:
Setan yang sejenis Asura.

Penjelasan :

Hanya Paradattupajivika-Peta saja yang dapat menerima makanan yang diberikan orang dalam upacara sembahyang serta kiriman jasa dari keluarga. Para Bodhisattva, jika terlahir menjadi setan, akan menjadi Paradattupajivika-Peta, dan tidak akan menjadi setan (peta) yang lain.



PETA 12 (terdapat dalam Kitab Gambhilokapannatti).

1. Vantasa-Peta: Setan yang makan air ludah, dahak dan muntah.

2. Kunapasa-Peta : Setan yang makan mayat manusia dan binatang.

3. Guthakhadaka-Peta: Setan yang makan berbagai kotoran.

4. Aggijalamukha-Peta : Setan yang dimulutnya selalu ada api.

5. Sucimuja-Peta : Setan yang mulutnya sekecil lobang jarum.

6. Tanhattika-Peta: Setan yang dikendalikan oleh napsu keinginan rendah sehingga lapar dan haus.

7. Sunijjhamaka-Peta : Setan yang berbulu hitam seperti arang.

8. Suttanga-Peta : Setan yang mempunyai kuku tangan kaki yang panjang dan tajam seperti pisau.

9. Pabbatanga-Peta: Setan yang bertubuh setinggi gunung.

10. Ajagaranga-Peta : Setan yang bertubuh seperti ular.

11. Vemanika-Peta : Setan yang menderita pada waktu siang, dan senang pada waktu malam dalam kahyangan.

12. Mahidadhika-Peta: Setan yang mempunyai ilmu gaib.

PETA 21 (terdapat dalam Kitab Suci Vinaya dan Lakkhanasanyutta).

1. Attisankhasika-Peta : Setan yang mempunyai tulang bersambungan, tetapi tidak mempunyai daging.

2. Mansapesika-Peta : Setan yang mempunyai daging terpecah-pecah, tetapi tidak mempunyai tulang.

3. Mansapinada-Peta : Setan yang mempunyai daging berkeping-keping.

4. Nicachaviparisa-Peta : Setan yang tidak mempunyai kulit.

5. Asiloma-Peta: Setan yang berbulu tajam.

6. Sattiloma-Peta : Setan yang berbulu seperti tombak.

7. Usuloma-Peta : Setan yang berbulu panjang seperti anak panah.

8. Suciloma-Peta: Setan yang berbulu sepertijarum.

9. Dutiyasuciloma-Peta: Setan yang berbulu seperti jarum kedua (lebih tajam).

10. Kumabhanda-Peta : Setan yang mempunyai kemaluan sangat besar.

11. Guthakupanimugga-Peta : Setan yang bergelimangan dengan kotoran.

12. Guthakhadaka-Peta: Setan yang makan berbagai macam kotoran.

13. Nicachavitaka-Peta: Setan perempuan yang tidak mempunyai kulit.

14. Dugagandha-Peta : Setan yang baunya sangat busuk.

15. Ogilini-Peta: Setan yang badannya seperti bara api.

16. Asisa-Peta: Setan yang tidak mempunyai kepala.

17.Bhikkhu-Peta : Setan yang berbadan seperti bhikkhu. .

18. Bhikkhuni-Peta : Setan yang berbadan seperti bhikkhuni.

19. Sikkhamana-Peta: Setan yang berbadan seperti Setan yang berbulu seperti pelajar wanita atau calon bhikkhuni.

20. Samanera-Peta : Setan yang berbadan seperti samanera.

21. Samaneri-Peta : Setan yang berbadan seperti samaneri.

32 Tanda Manusia Agung(Maha Purisa Lakkhana )


  1. Telapak kaki rata (suppatitthita-pado). Ini merupakan satu lakkhana dari Maha Purissa.
  2. Pada telapak kakinya terdapat cakra dengan seribu ruji, lingkaran dan pusat dalam bentuk sempurna.
  3. Tumit yang bagus (ayatapanhi).
  4. Jari-jari panjang (digha-anguli)
  5. Tangan dan kaki yang lembut serta halus (mudutaluna).
  6. Tangan dan kaki bagaikan jala (jala-hattha-pado).
  7. Pergelangan kaki yang agak tinggi (ussankha-pado).
  8. Kaki yang bagaikan kaki kijang (enijanghi)
  9. Kedua tangan dapat menyentuh atau menggosok kedua lutut tanpa membungkukkan badan.
  10. Kemaluan terbungkus selaput (kosohitavattha-guyho).
  11. Kulitnya bagaikan perunggu berwarna emas (suvannavanno)
  12. Kulitnya sangat lembut dan halus / sehingga tidak ada debu yang dapat melekat pada kulit
  13. Pada setiap pori kulit ditumbuhi sehelai bulu roma.
  14. Rambut yang tumbuh pada pori-pori berwarna biru-hitam.
  15. Potongan tubuh yang agung (brahmuiu-gatta).
  16. Tujuh tonjolan (sattussado), yaitu pada kedua tangan, kedua kaki, kedua bahu dan badan.
  17. Dada bagaikan dada singa (sihapubbaddha kayo).
  18. Pada kedua bahunya tak ada lekukan (citantaramso).
  19. Tinggi badan sama dengan panjang rentangan kedua tangan, bagaikan pohon (beringin), Nigroda.
  20. Dada yang sama lebarnya (samavattakkhandho).
  21. Indera perasa sangat peka (rasaggasaggi).
  22. Rahang bagaikan rahang singa (siha-banu).
  23. Empat puluh buah gigi (cattarisa-danto).
  24. Gigi-geligi rata (sama-danto).
  25. Antara gigi-gigi tak ada celah (avivara-danto).
  26. Gigi putih bersih (susukka-datho).
  27. Lidah panjang (pahuta-jivha).
  28. Suara bagaikan suara-brahma, seperti suara burung Karavika.
  29. Mata biru (abhinila netto).
  30. Bulu mata lentik, bagaikan bulu mata sapi (gopakhumo).
  31. Di antara alis-alis mata tumbuh sehelai rambut halus, putih bagaikan kapas yang lembut.
  32. Kepala bagaikan berserban (unhisasiso).

28 buddha Yang Pernah Hidup


1 Tanhankara Maha Perwira
2 Medankara Maha Mulia
3 Saranankara Maha Welas-asih
4 Dipankara Cahaya Cemerlang
5 Kondanna Junjungan Manusia
6 Mangala Yang Maha Agung
7 Sumana Pemberani Yang Berbudi Lemah Lembut
8 Revata Penambah Kegembiraan, Kebahagiaan
9 Sobhita Yang Penuh Kebajikan
10 Anomadassi Manusia Utama
11 Paduma Obor Semesta Alam
12 Narada Pembimbing Yang Tiada Taranya
13 Padumuttara Makhluk Yang Tiada Taranya
14 Sumedha Yang Paling Mulia
15 Sujata Pimpinan Jagad Raya
16 Piyadassi Maha Junjungan Umat Manusia
17 Atthadassi Yang Penuh Kasih-sayang
18 Dhammadassi Penghalau Kegelapan
19 Siddhatta Yang Tiada bandingnya Didunia
20 Tissa Pemberi Karunia Yang Utama
21 Phussa Yang Sempurna Ke Tujuan Akhir
22 Vipassi Yang Tiada Saingannya
23 Sikhi Pahlawan Cinta-kasih Tanpa Batas
24 Vessabhu Penyebar Kebahagiaan Sejati
25 Kakusandha (Krakucchanda) Penunjuk Jalan Para Musafir
26 Konagamana (Kanakamuni) Yang Berusaha Tanpa Akhir
27 Kassapa (Kasyapa) Cahaya Sempurna
28 Gotama (Gautama) Kejayaan dalam Keluarga Gotama (Gautama)


(Calon Buddha Yang Akan Datang)
29 Matteya (Maitreya) Yang Penuh Dengan Cinta-kasih

Dikatakan bahwa Beliau akan dilahirkan saat kehidupan manusia diperpanjang sampai 84.000 tahun. Tempat kelahiranNya adalah Ketumati di masa pemerintahan Chakkavatti Samkha dimana dia sendiri akan menjadi pengikut Buddha dan melepaskan kehidupan duniawi.

Metteyya akan dilahirkan di sebuah keluarga terpelajar yang terkenal dan namaNya adalah Ajita. Nama sukuNya juga Metteyya. Nama ayahNya adalah Subrahma; dan ibuNya adalah Brahmawati.

Beliau akan menikah dengan Chandamukhi dan akan mempunyai putra Brahmavaddhana. Beliau akan hidup di empat istana selama 8.000 tahun yaitu Sirivaddha, Vaddhamana, Siddhattha dan Chandaka. Selanjutnya Beliau akan melepaskan keduniawian setelah melihat 4 tanda.

Yang akan menjadi para pengikutnya yang luar biasa adalah dua saudaraNya Isidatta dan Purana; Jatimitta dan Vijaya diantara pengikut pria ; dan Suddhana, Sanghaa dan Visakhaa diantara pengikut wanita. Yang akan menjadi murid-murid utamaNya diantara para bhikkhu adalah Asoka dan Brahmadeva; dan diantara para bhikkhuni adalah Paduma dan Sumana. Siha akan menjadi pembantu pribadiNya. Beliau akan mencapai pencerahan di bawah pohon Naga.

Kalama Sutta (Keunggulan Agama Buddha)


Assaddho akatannu ca
sandhicchedo ca yo naro
hatavakaso vantaso
sa ve uttamaporiso.

Orang yang telah bebas dari ketahyulan,
yang telah mengerti keadaan tak tercipta (nibbana),
yang telah memutuskan semua ikatan (tumimbal lahir)
yang telah mengakhiri kesempatan (baik dan jahat),
yang telah menyingkirkan semua nafsu keinginan,
maka sesungguhnya ia adalah orang yang paling mulia.


Pada masa Sang Buddha, telah ada banyak aktivitas intelektual besar di India. Beberapa orang terpandai yang diketahui oleh dunia telah berkecimpung di dalam kontroversi keagamaan besar sepanjang masa.

Apakah ada Sang Pencipta? Tidak adakah Sang Pencipta? Adakah jiwa itu? Tidak adakah jiwa itu? Apakah dunia tanpa awal? Apakah ada awal permulaan?

Ini merupakan beberapa topik yang hangat diperdebatkan sepanjang waktu. Dan tentu saja, seperti saat ini, semua mengklaim bahwa hanya dialah yang memiliki semua jawaban dan siapapun yang tidak mengikutinya akan dikutuk dan dimasukkan ke dalam neraka! Sebenarnya, semua pencarian keras atas kebenaran ini hanya akan menghasilkan lebih banyak lagi kebingungan.

Sekelompok pemuda yang saleh dari suku Kalama pergi menghadap Sang Buddha untuk menyampaikan kebingungan mereka. Mereka bertanya kepadaNya apa yang seseorang harus lakukan sebelum menerima atau menolak suatu ajaran.


1. Janganlah Menerima Apapun Berdasarkan Pada Berita Semata

Nasihat Sang Buddha seperti yang disebutkan dalam Kalama Sutta adalah untuk tidak menerima apapun berdasarkan pada berita, tradisi, kabar angin semata. Biasanya orang mengembangkan keyakinan mereka setelah mendengarkan perkataan orang lain. Tanpa berpikir mereka menerima apa yang orang lain katakan mengenai agama mereka atau apa yang telah tercatat dalam buku-buku keagamaan mereka. Kebanyakan orang jarang sekali mengambil resiko untuk menyelidiki, untuk menemukan apakah yang dikatakannya benar atau tidak. Sikap umum seperti ini sukar untuk dipahami, khususnya di dalam era modern saat ini ketika pendidikan sains mengajarkan orang untuk tidak menerima sama sekali apapun yang tidak bisa dijelaskan secara rasional. Bahkan sekarang ini banyak yang disebut sebagai pemuda berpendidikan hanya menggunakan emosi atau ketaatan mereka tanpa menggunakan pikiran naralnya.

Dalam Kalama Sutta, Sang Buddha memberikan nasihat yang sangat liberal (bebas) kepada sekelompok pemuda dalam menerima suatu agama secara rasional. Ketika orang-orang muda ini tidak dapat memutuskan bagaimana memilih agama yang sesuai, mereka menghadap kepada Sang Buddha untuk mendapatkan nasihatNya. Mereka mengatakan kepadaNya bahwa semenjak berbagai kelompok agama memperkenalkan agamanya dalam berbagai cara, mereka mengalami kebingungan dan tidak bisa memahami cara keagamaan mana yang benar. Para pemuda ini bisa diibaratkan dalam istilah modern sebagai para pemikir bebas (free thinkers), atau para pencari kebenaran (truth seekers). Inilah mengapa mereka memutuskan untuk mendiskusikan hal ini dengan Sang Buddha. Mereka memohon kepada Sang Buddha untuk memberikan beberapa garis pedoman untuk membantu mereka menemukan suatu agama yang sesuai dimana dengannya mereka dapat menemukan kebenaran.

Dalam menjawab pertanyaan mereka, Sang Buddha tidak mengklaim bahwa Dhamma (ajaranNya) merupakan satu-satunya ajaran yang bernilai dan siapapun yang mempercayai hal lain akan masuk ke neraka. Justru Beliau memberikan beberapa nasihat yang penting untuk mereka pertimbangkan. Sang Buddha tidak pernah menganjurkan orang untuk menerima suatu agama hanya melalui iman (faith) semata tetapi Beliau menganjurkan mereka untuk mempertimbangkan dan memahami segala sesuatunya tanpa bias (praduga/menyimpang). Beliau juga tidak menganjurkan orang untuk menggunakan emosi atau ketaatan semata yang berdasarkan pada kepercayaan yang membuta di dalam menerima suatu agama. Inilah mengapa agama yang berdasarkan pada ajaranNya sering digambarkan sebagai agama rasional. Agama ini juga dikenal sebagai agama merdeka dan beralasan (religion of freedom and reason). Kita seharusnya tidak menerima apapun melalui iman atau emosi untuk mempraktikkan suatu agama. Kita seharusnya tidak menerima suatu agama begitu saja dikarenakan agama itu menghilangkan ketakutan bodoh kita mengenai apa yang akan terjadi pada diri kita, kapan kita mati ataupun ketakutan kita ketika diancam oleh api neraka jika kita tidak menerima beberapa ajaran atau yang lainnya. Agama harus diterima melalui pilihan bebas. Setiap pribadi harus menerima suatu agama karena pemahaman dan bukan karena agama itu merupakan hukum yang diberikan oleh suatu penguasa atau kekuatan-kekuatan supernatural. Menerima suatu agama haruslah bersifat pribadi dan berdasarkan pada kepastian rasional akan agama yang akan diterima.

Orang dapat membuat berbagai macam klaiman mengenai agama mereka dengan membesar-besarkan berbagai macam peristiwa untuk mempengaruhi orang lain. Kemudian, mereka dapat memperkenalkannya sebagai pesan surgawi untuk menumbuhkan iman atau rasa percaya. Tetapi kita harus membaca apa yang tertulis secara analitis dengan menggunakan akal sehat dan kekuatan pikiran. Itulah mengapa Sang Buddha menasihatkan kita untuk tidak menerima secara tergesa-gesa apapun yang tercatat, tradisi, atau kabar angin semata. Orang mempraktikkan tradisi-tradisi tertentu yang berdasarkan pada kepercayaan, kebiasaan atau cara hidup komunitas dimana mereka berada. Namun, beberapa tradisi sangatlah penting dan berarti. Oleh karena itu, Sang Buddha tidak mengecam semua tradisi adalah salah tetapi menasihatkan kita untuk mempertimbangkannya dengan sangat berhati-hati praktik mana yang penuh arti dan mana yang tidak. Kita harus mengetahui bahwa beberapa tradisi tertentu tersebut menjadi ketinggalan jaman dan tidak berarti lagi setelah beberapa periode waktu. Hal ini mungkin disebabkan karena kebanyakan di antaranya diperkenalkan dan dipraktikkan oleh orang-orang primitif dan pemahaman mereka tentang kehidupan manusia dan alam sangatlah terbatas pada masa itu. Jadi, pada masa sekarang ini ketika kita menggunakan pendidikan sains modern kita dan pengetahuan akan alam semesta, kita dapat melihat sifat sesungguhnya dari kepercayaan mereka. Kepercayaan yang dimiliki orang-orang primitif mengenai matahari, bulan, dan bintang-bintang, bumi, angin, halilintar, guntur dan halilintar, hujan dan gempa bumi, berdasarkan pada usaha mereka untuk menjelaskan fenomena alam yang nampaknya sangat mengerikan. Mereka memperkenalkan fenomena alam tersebut sebagai tuhan-tuhan (dewa) atau perbuatan-perbuatan tuhan dan kekuatan-kekuatan supernatural.


2. Janganlah Menerima Apapun Berdasarkan Pada Tradisi Semata

Dengan pengetahun kita yang telah maju, kita dapat menjelaskan fenomena alam yang nampaknya mengerikan ini sebagaimana apa adaya. Itulah mengapa Sang Buddha mengatakan, “Janganlah menerima dengan segera apa yang kau dengar. Janganlah mencoba untuk membenarkan perilaku tidak rasionalmu dengan mengatakan ini adalah tradisi-tradisi kami dan kita harus menerimanya.” Kita seharusnya tidak percaya begitu saja kepada takhayul ataupun dogma agama karena orang yang dituakan melakukan hal yang sama. Ini bukan berarti kita tidak menghormati para sesepuh kita, tetapi kita harus melaju bersama waktu. Kita seharusnya memelihara kepercayaan-kepercayaan yang sesuai dengan pandangan dan nilai-nilai modern dan menolak apapun yang tidak diperlukan atau yang tidak sesuai karena waktu telah berubah. Dengan cara ini kita akan dapat hidup dengan lebih baik.

Satu generasi yang lalu, seorang pendeta Anglikan, Uskup dari Woolich menyatakan sebuah kalimat, “Tuhan dari celah“ (God of the gaps) untuk menjelaskan bahwa apapun yang tidak kita pahami merupakan atribut tuhan. Karena pengetahuan kita terhadap dunia telah berkembang, kekuatan tuhan pun berkurang secara bersamaan.


3. Janganlah Menerima Apapun Berdasarkan Pada Kabar Angin Semata

Semua orang suka mendengarkan cerita. Mungkin itulah mengapa orang mempercayai kabar angin. Anggaplah ada seratus orang yang telah melihat sebuah peristiwa tertentu dan ketika setiap orang menceritakannya kembali kepada yang lain, ia akan menghubungkannya dengan cara yang berbeda dengan menambahkan lebih banyak hal lainnya dan membesar-besarkan hal yang kecilnya. Ia akan menambahkan “garam dan bumbu” untuk membuat ceritanya lebih seru dan menarik dan untuk memperindahnya. Umumnya setiap orang akan menceritakan suatu kisah seolah-olah dialah satu-satunya yang dapat menceritakan kepada orang lain apa yang benar-benar terjadi. Inilah sifat sesungguhnya dari cerita yang dibuat dan disebarkan oleh orang. Ketika Anda membaca beberapa kisah dalam agama apapun, cobalah untuk ingat bahwa kebanyakan dari interpretasinya adalah hanya untuk menghias peristiwa kecil untuk menarik perhatian orang. Jika tidak demikian, maka tidak akan ada apapun bagi mereka untuk diceritakan kepada orang lain dan tak seorang pun akan menaruh perhatian pada kisah itu.

Di sisi lain cerita dapat sangat bermanfaat. Cerita merupakan cara yang menarik untuk menyampaikan pelajaran moral. Literatur Buddhis merupakan gudang yang besar dari beragam kisah cerita. Tetapi itu hanyalah cerita. Kita harus tidak mempercayainya seperti seolah-olah cerita itu adalah kebenaran mutlak. Kita seharusnya tidak seperti anak kecil yang percaya bahwa seekor serigala dapat menelan hidup-hidup seorang nenek dan berbicara kepada manusia! Orang dapat berbicara mengenai berbagai macam keajaiban, tuhan-tuhan/dewa, dewi, bidadari-bidadari dan kekuatan mereka berdasarkan pada kepercayaan mereka. Kebanyakan orang cenderung untuk menerima dengan segera hal-hal tersebut tanpa penyelidikan apapun, tetapi menurut Sang Buddha, kita seharusnya tidak mempercayai dengan segera apapun karena mereka yang menceritakannya kepada kita akan hal itu pun terpedaya olehnya. Kebanyakan orang di dunia ini masih berada dalam kegelapan dan kemampuan mereka untuk memahami kebenaran sangatlah miskin. Hanya beberapa orang yang memhami segala sesuatu secara sewajarnya. Bagaimana mungkin seorang buta menuntun seorang buta lainnya? Kemudian ada perkataan lain, ”Jack si mata satu dapat menjadi raja dikerajaan orang buta.” Beberapa orang mungkin hanya mengetahui sebagian dari kebenaran. Kita perlu berhati-hati dalam menjelaskan kebenaran mutlak ini kepada mereka.


4. Janganlah Menerima Apapun Berdasarkan Pada Otoritas Teks-Teks Keagamaan Semata

Selanjutnya Sang Buddha memperingati kita untuk tidak mempercayai apapun berdasarkan pada otoritas teks-teks keagamaan ataupun kitab-kitab suci. Beberapa orang selalu mengatakan bahwa semua pesan-pesan yang terdapat dalam kitab-kitab suci mereka disampaikan secara langsung oleh tuhan mereka. Sekarang ini, mereka mencoba untuk memperkenalkan buku-buku tersebut sebagai pesan dari surga. Hal ini sukar untuk dipercaya bahwa mereka menerima pesan ini dari surga dan mencatatnya dalam kitab suci mereka hanya pada beberapa ribu tahun yang lampau. Mengapa wahyu ini tidak diberikan lebih awal? (Menimbang bawa planet bumi ini berusia empat setengah miliar tahun). Mengapa wahyu tersebut dibuat hanya untuk menyenangkan beberapa orang tertentu saja? Tentunya akan jauh lebih efektif jika mengumpulkan semua orang dalam suatu tempat dan menyatakan kebenaran kepada banyak orang daripada bergantung pada satu orang untuk melakukan pekerjaan itu. Bukankah tetap lebih baik jika tuhan-tuhan mereka menampakkan diri pada hari-hari penting tertentu dalam setahun untuk membuktikan keberadaan dirinya secara berkala? Dengan cara demikian tentunya mereka tidak akan memiliki kesulitan sama sekali untuk mengubah seluruh dunia!

Umat Buddha tidak berusaha untuk memperkenalkan ajaran Sang Buddha sebagai pesan surgawi, dan mereka mengajarkan tanpa menggunakan kekuatan mistik apapun. Menurut Sang Buddha, kita tidak seharusnya menerima ajaranNya seperti yang tercatat dalam kitab suci Buddhis secara membuta dan tanpa pemahaman yang benar. Ini merupakan kebebasan yang luar biasa yang Sang Buddha berikan kepada kita. Meskipun Beliau tidak pernah mengklaim bahwa umat Buddha adalah orang-orang pilihan tuhan, Beliau memberikan penghargaan jauh lebih besar kepada kecerdasan manusia dibanding dengan yang pernah dilakukan oleh agama manapun.

Cara yang terbaik bagi seseorang yang berasional untuk mengikuti adalah mempertimbangkan secara hati-hati sebelum ia menerima atau menolak segala sesuatu. Mempelajari, berpikir, menyelidiki sampai Anda menyadari apa yang ada sebenarnya. Jika Anda menerimanya hanya berdasarkan pada perintah atau kitab-kitab suci, Anda tidak akan menyadari kebenaran bagi diri Anda sendiri.


5. Janganlah Bergantung Pada Logika dan Argumentasi Pribadi Saja

“Janganlah bergantung pada logika dan argumentasi pribadi saja” merupakan nasihat lain dari Sang Buddha. Janganlah berpikir bahwa penalaran Anda adalah hal yang mutlak. Kalau tidak demikian, Anda akan berbangga diri dan tidak mendengarkan orang lain yang lebih mengetahui dibandingkan dengan diri Anda. Biasanya kita menasihatkan orang lain untuk menggunakan penalaran. Benar, dengan menggunakan daya pikiran dan akal yang terbatas, manusia berbeda dengan hewan dalam hal menggunakan pikirannya. Bahkan seorang anak kecil dan orang yang tidak berpendidikan pun menggunakan penalaran sesuai dengan usia, kedewasaan, pendidikan, dan pemahaman. Tetapi penalaran ini berbeda berdasarkan pada kedewasaan, pengetahuan, dan pengalaman. Sekali lagi, penalaran ini merupakan subjek dari perubahan, dari waktu ke waktu. Identitas seseorang atau pengenalan akan konsep-konsep juga berubah dari waktu ke waktu. Dalam penalaran seperti itu tidak ada analisa terakhir atau kebenaran mutlak. Karena kita tidak memiliki pilihan lain, kita harus menggunakan penalaran terbatas kita secara keras sampai kita mendapatkan pemahaman yang sebenarnya. Tujuan kita seharusnya adalah mengembangkan pikiran kita secara berkesinambungan dengan bersiap diri untuk belajar dari orang lain tanpa menjadi masuk ke dalam kepercayaan membuta. Dengan membuka diri kita pada cara berpikir yang berbeda, dengan membiarkan kepercayaan kita tertantang/teruji, dengan selalu tetap membuka pikiran, kita mengembangkan pemahaman kita atas diri kita sendiri dan dunia di sekeliling kita. Sang Buddha mengunjungi setiap guru yang dapat Beliau temukan sebelum Beliau mencapai Pencerahan terakhir. Meskipun kemudian Beliau tidak menerima apapun yang mereka ajarkan. Justru, Beliau menggunakan penalaranNya untuk memahami Kebenaran. Dan ketika Beliau mencapai Penerangan Agung, Beliau tidak pernah marah atau mengancam siapapun yang tidak setuju dengan ajaranNya.

Sekarang marilah kita mempertimbangkan argumen dan logika. Kapanpun kita berpikir bahwa suatu hal tertentu dapat kita terima, kita mengatakan hal itu adalah logika. Sebenarnya, seni logika merupakan alat yang bermanfaat bagi sebuah argumen. Logika dapat diekploitasi oleh para orator (ahli pidato) berbakat yang menggunakan kepandaian dan kecerdikan. Seseorang yang mengetahui cara berbicara dapat menjatuhkan kebenaran dan keadilan serta mengalahkan orang lain. Seperti para pengacara berargumen di pengadilan. Kelompok-kelompok agama yang berbeda berargumen untuk membuktikan bahwa agama mereka lebih baik dari agama-agama yang lainnya. Argumen-argumen mereka berdasarkan pada bakat dan kemampuan mereka untuk menyampaikan pandangan-pandangan mereka tetapi sebenarnya mereka tidak tertarik kepada kebenaran. Inilah sifat dasar dari argumen. Untuk mencapai kebenaran, Sang Buddha menasihatkan kita untuk tidak terpengaruh oleh argumen atau logika tetapi menasihatkan kita untuk menggunakan penyelidikan yang tidak bias. Ketika orang-orang mulai berargumen, secara alami emosi mereka juga muncul dan hasilnya adalah argumen yang memanas. Kemudian, egoisme manusia menambah lebih banyak lagi api dalam perang kata-kata ini. Pada akhirnya, menciptakan permusuhan karena tak ada seorang pun yang mau menyerah. Oleh karena itu, seseorang seharusnya tidak memperkenalkan kebenaran agama melalui argumen. Ini merupakan nasihat penting lainnya dari Sang Buddha.


6. Janganlah Menerima Apapun Berdasarkan Pada Pengaruh Pribadi Seseorang Semata

Kemudian nasihat selanjutnya adalah janganlah menerima apapun sebagai kebenaran mutlak berdasarkan pada pengaruh pribadi seseorang. Hal ini mengacu pada kepercayaan yang dilihat sebagai kebenaran melalui imajinasi pribadi seseorang. Meskipun kita memiliki keraguan dalam pikiran kita, kita menerima hal-hal tertentu sebagai kebenaran setelah penyelidikan yang terbatas. Semenjak pikiran kita terpedaya oleh banyaknya keinginan dan perasaan-perasaan emosional, sikap batin ini menciptakan banyak ilusi. Dan kita juga sebenarnya memiliki kebodohan batin. Semua orang menderita yang diakibatkan dari kebodohan batin dan ilusi. Kekotoran batin menyelimuti pikiran yang kemudian menjadi bias dan tidak dapat membedakan antara kebenaran dan ilusi. Sebagai hasilnya, kita menjadi percaya bahwa hanya kepercayaan kitalah yang benar. Nasihat Sang Buddha adalah untuk tidak mengambil sebuah kesimpulan dengan segera dengan menggunakan perasaan emosional kita tetapi untuk mendapatkan lebih banyak lagi informasi dan penyelidikan sebelum kita mengambil kesimpulan terhadap sesuatu. Ini berarti kita harus bersedia mendengarkan terlebih dulu apa yang orang lain katakan. Mungkin mereka dapat menjernihkan keragu-raguan kita dan membantu kita untuk mengenali kesalahan atas apa yang kita percayai sebagai kebenaran. Sebagai contoh untuk hal ini adalah suatu masa ketika orang-orang pernah mengatakan bahwa matahari mengelilingi bumi dimana bumi berbentuk datar seperti layaknya uang logam. Hal ini berdasarkan pada keterbatasannya pengetahuan mereka, tetapi mereka bersiap untuk membakar hidup-hidup siapapun yang berani mengemukakan pandangan yang lain. Terima kasih kepada Guru Tercerahkan kita, Buddhisme dalam sejarahnya tidak memiliki catatan gelap dimana orang tidak diperkenankan untuk menentang apapun yang tidak masuk akal seperti itu. Inilah mengapa begitu banyak aliran Buddhisme saling bertautan secara damai tanpa mengecam satu sama yang lain. Berdasarkan pada petunjuk-petunjuk yang jelas dari Sang Buddha, umat Buddha menghormati hak-hak orang lain untuk memegang pandangan yang berbeda.


7. Janganlah Menerima Apapun Yang Kelihatannya Benar

Nasihat selanjutnya adalah janganlah menerima apapun yang kelihatannya benar. Ketika Anda melihat segala hal dan mendengarkan beberapa tafsiran yang diberikan oleh orang lain, Anda hanyalah menerima penampilan luar dari obyek-obyek tersebut tanpa menggunakan pengetahuan anda secara mendalam. Kadangkala konsep atau identitas yang Anda ciptakan mengenai suatu obyek adalah jauh dari kebenaran hakikinya.

Cobalah untuk melihat segala sesuatu dalam sudut pandang yang sebagaimana mestinya. Buddhisme dikenal sebagai Ajaran Analisis (Doktrin of Analysis). Hanya dengan melalui analisa kita dapat memahami apa yang sebenarnya terdapat pada sebuah obyek dan apakah jenis dari elemen-lemen dan energi-energi yang berkerja dan bagaimanakah hal-hal itu bisa ada, mengapa mengalami kelapukan dan menghilang. Jika Anda menelaah sifat alami dari hal-hal ini, Anda akan menyadari bahwa segala sesuatu yang ada adalah tidak kekal dan kemelekatan terhadap obyek-obyek tersebut dapat menimbulkan kekecewaan. Juga, Anda akan menyadari bahwa tidak ada hal penting dalam pertengkaran mengenai ide-ide ketika dalam analisa terakhir, ketika melihat hal-hal tersebut dalam sudut pandang yang sebebarnya, ternyata hal-hal tersebut hanyalah ilusi belaka. Umat Buddha tidaklah terjebak dalam hal-hal kontoversial mengenai kapan dunia akan berakhir karena mereka melihat bahwa secara pasti segala sesuatu yang terdiri dari perpaduan akan mengalami kehancuran. Dunia akan berakir. Tidak ada keraguan akan hal itu. Kita berakhir setiap waktu kita menarik napas masuk dan keluar. Akhir dunia (yang disampaikan oleh Sang Buddha) hanya semata-mata peristiwa dramatis dari sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan ilmu astronomi modern mengatakan pada kita bahwa dunia bergejolak setiap saat. “Mereka yang tidak mengkhawatikan masa lalu, mereka yang tidak mengkhawatirkan masa depan, maka mereka hidup dalam ketenangan” (Sang Buddha). Ketika kita mengetahui kebenaran ini, maka akhir dunia tidak lagi menjadi hal yang begitu menakutkan dan tidaklah pantas untuk dikhawatirkan.


8. Janganlah Bergantung Pada Pengalaman Spekulasi Pribadi Seseorang.

Sang Buddha kemudian memperingati para pengikutnya untuk tidak bergantung pada pengalaman spekulasi pribadi seseorang. Setelah mendengarkan atau membaca beberapa teori tertentu, orang dengan mudah tiba pada kesimpulan tertentu dan memelihara kepercayaan ini. Mereka menolak dengan sangat keras untuk mengubah pandangan mereka karena pikiran mereka telah terbentuk atau karena sewaktu beralih pada kepercayaan tertentu, mereka telah diperingatkan bahwa mereka akan dibakar di dalam neraka jika mereka mengubah pendiriannya. Dalam kebodohan dan rasa takut, orang-orang malang ini hidup dalam surga kebodohan, mereka berpikir bahwa kesalahan-kesalahan mereka secara ajaib akan diampuni. Nasihat Sang Buddha adalah untuk tidak membuat kesimpulan gegabah apapun untuk memutuskan apakah sesuatu itu benar atau sebaliknya. Manusia dapat menemukan berbagai macam hal di dunia ini tetapi hal yang paling sukar bagi mereka untuk dilihat adalah kebenaran atau realita dari segala sesuatu yang terbentuk dari perpaduan. Kita seharusnya tidak bergantung pada desas-desus spekulasi untuk memahami kebenaran. Kita boleh menerima beberapa hal tertentu sebagai dasar yang digunakan untuk memulai sebuah penyelidikan yang akhirnya akan memberikan kepuasan pada pikiran. Keputusan yang kita ambil dengan cara spekulasi dapat dibandingkan dengan keputusan yang dibuat oleh sekelompok orang buta yang menyentuh bagian berbeda dari tubuh seekor gajah. Setiap orang buta tersebut memiliki keputusan sendiri mengenai apa yang ia pikirkan tentang bentuk dari gajah tersebut. Bagi masing-masing orang buta tersebut, apa yang ia katakan adalah benar. Meskipun mereka yang dapat melihat hal-hal tersebut tahu bahwa semua orang buta tersebut salah, dalam pikiran orang-orang buta tersebut mereka berpikir bahwa merekalah yang benar. Juga janganlah seperti katak dalam tempurung kelapa yang berpikir bahwa tidak ada dunia lain di luar apa yang dapat ia lihat.

Kita terbutakan oleh kekotoran batin kita. Inilah mengapa kita tidak dapat memahami kebenaran. Inilah mengapa orang lain dapat menyesatkan dan mempengaruhi kita dengan sangat mudah. Kita selalu mudah mengganti kepercayaan yang telah kita terima sebagai kebenaran karena kita tidak memiliki pemahaman yang mendalam. Orang-orang mengubah lebel agama mereka dari waktu ke waktu karena mereka mudah terpengaruh oleh emosi manusia. Ketika kita sudah menyadari kebenaran tertinggi, kita tidak perlu lagi mengubahnya dalam keadaan apapun karena dalam kebenaran terakhir tidak ada hal yang diubah, ia adalah Mutlak.


9. Janganlah Dengan Mudah Mengubah Pandangan Kita Karena Kita Terkesan Oleh Kemampuan Mengesankan Seseorang

Kita seharusnya tidak mengubah pandangan-pandangan kita dengan mudah karena kita terkesan oleh kemampuan mengesankan seseorang merupakan nasihat selanjutnya Sang Buddha yang diberikan kepada orang-orang muda yang disebut dengan suku Kalama. Seberapa orang memiliki kemampuan yang mengesankan Anda dengan perilaku dan kemampuan nyata untuk melakukan hal-hal tertentu. Sebagai contoh, akankah Anda mempercayai secara membuta seorang gadis yang ada di iklan televisi yang mengatakan kepada Anda bahwa Anda juga dapat menjadi cantik secantik dirinya, memiliki gigi seindah giginya, jika Anda menggunakan pasta gigi merek tertentu? Tentu tidak.Anda tidak akan menerima apa yang ia katakan tanpa memeriksa secara hati-hati kebenaran akan pernyataanya. Ini juga sama dengan para pembicara fasih yang mengetuk pintu Anda untuk menceritakan cerita yang mempesona tentang “kebenaran” mereka. Mereka mungkin berbicara mengenai beragam guru-guru agama, guru-guru, dan ahli-ahli meditasi. Mereka juga akan menikmati memberi pernyataan yang dilebih-lebihkan untuk membuktikan kekuatan dari guru-guru mereka untuk mempengaruhi pikiran Anda. Jika Anda secara membuta menerima perkataan-perkataan mereka sebagai Kebenaran, Anda akan memelihara pandangan yang goyah dan dangkal karena Anda tidak sepenuhnya yakin. Anda dapat mengikuti mereka dengan iman untuk beberapa saat, tetapi suatu hari Anda akan merasa kecewa, karena Anda tidak menerimanya melalui pemahaman dan pengalaman Anda. Dan segera setelah guru mengesankan lainnya datang, Anda akan meninggalkan yang pertama.

Telaahlah nasihat yang diberikan oleh Sang Buddha. Pikirkan bagaimana beralasannya, masuk akalnya, dan ilmiahnya cara pengajaranNya. “Janganlah mendengarkan orang lain dengan kepercayaan membuta. Dengarkanlah mereka dengan segala pengertiannya, tetapi tetaplah penuh perhatian dan dengarlah dengan pikiran terbuka. Anda tidak seharusnya menyerahkan pendidikan dan kecerdasan Anda kepada orang lain ketika Anda sedang mendengarkan mereka. Mereka mungkin mencoba untuk membangkitkan emosi Anda dan mempengaruhi pikiran Anda sesuai dengan kebutuhan duniawi Anda untuk memuaskan keinginan Anda. Tetapi tujuan mereka mungkin bukan berkepentingan untuk menyatakan kebenaran.”


10. Janganlah Menerima Apapun Atas Pertimbangan Bahwa “Inilah Guru Kami”

Janganlah menerima apapun atas pertimbangan bahwa “Inilah guru kami”, merupakan nasihat terakhir Sang Buddha dalam konteks ini. Pernahkah Anda mendengar guru agama lain manapun yang mengutarakan kata-kata seperti ini? Yang lainnya semua mengatakan, “Sayalah satu-satunya guru terhebat, Saya adalah Tuhan. Ikutilah aku, sembahlah aku, berdoalah padaku, jika tidak kau tidak akan memiliki keselamatan.” Mereka juga mengatakan, “Janganlah kau menyembah tuhan lain atau guru lain.” Berpikirlah untuk sejenak untuk memahami sikap Sang Buddha. Sang Buddha mengatakan, “Kau seharusnya tidak bergantung secara membuta kepada gurumu. Ia mungkin saja adalah penemu sebuah agama atau guru yang terkenal, tetapi meskipun demikian kau tidak seharusnya mengembangkan kemelekatanmu terhadapnya sekali pun.”

Beginilah caranya Sang Buddha memberikan penghargaan yang semestinya kepada kecerdasan seseorang dan memperkenankan manusia menggunakan kehendak bebasnya tanpa bergantung pada orang lain. Sang Buddha mengatakan, “Kau bisa menjadi tuan atas dirimu sendiri.” Sang Buddha tidak pernah mengatakan kepada kita bahwa Beliau-lah satu-satunya Guru Yang Tercerahkan dimana para pengikutnya tidak diperkenankan untuk memuja tuhan/dewa dan guru agama lain. Beliau juga tidak menjanjikan para pengikutnya bahwa mereka dapat dengan mudah pergi ke surga atau mencapai Nibbana jika mereka memujaNya secara membuta. Jika kita mempraktikkan agama begitu saja dengan bergantung kepada seorang guru, kita tidak akan pernah menyadari kebenaran. Tanpa menyadari kebenaran mengenai agama yang kita praktikkan kita dapat menjadi korban dari kepercayaan yang membuta dan memenjarakan kebebasan berpikir kita dan akhirnya menjadi budak bagi seorang guru tertentu dan mendiskriminasikan guru yang lain.

Kita harus menyadari bahwa kita harus tidak bergantung pada orang lain dalam penyelamatan diri kita. Tetapi kita dapat menghormati guru agama manapun yang sungguh dan pantas untuk dihormati. Para guru agama dapat mengatakan kepada kita bagaimana untuk meraih keselamatan kita, tetapi seseorang tidak dapat menyelamatkan orang lain. Penyelamatan ini bukan seperti menyelamatkan sebuah kehidupan ketika dalam bahaya. Ini adalah pembebasan terakhir dari kekotoran batin dan penderitaan duniawi. Inilah mengapa kita harus berkerja secara individual (sendiri) untuk meraih pembebasan kita atau kemerdekaan penuh berdasarkan pada nasihat yang diberikan oleh guru-guru agama.

“Tidak ada orang lain yang menyelamatkan kita selain diri kita. Sang Buddha hanyalah menunjukkan jalannya.”

Dapatkah Anda pikiran guru agama manapun yang pernah mengatakan hal ini? Inilah kebebasan yang kita miliki dalam Buddhisme.

Inilah sepuluh nasihat yang diberikan oleh Sang Buddha kepada sekelompok pemuda yang disebut suku Kalama yang datang menemui Sang Buddha untuk mengetahui bagaimana menerima suatu agama dan bagaimana untuk memutuskan mana agama yang benar.

Nasihat Beliau adalah: “Janganlah mementingkan diri sendiri dan janganlah menjadi budak bagi yang lain; Janganlah melakukan apapun hanya untuk kepentingan pribadi tetapi pertimbangkan untuk kepentingan pihak lain.” Beliau mengatakan kepada suku Kalama agar mereka dapat memahami hal ini berdasarkan pada pengalaman pribadi mereka. Beliau juga mengatakan bahwa di antara beragam praktik dan kepercayaan, ada hal-hal tertentu yang baik bagi seseorang tetapi tidak baik bagi yang lain. Dan sebaliknya, ada hal-hal tertentu yang baik bagi orang lain tetapi tidak baik bagi seseorang. Sebelum Anda melakukan apapun, Anda harus mempertimbangkan baik manfaat maupun ketidakmanfaatan yang akan bertambah pada diri Anda. Inilah garis pedoman untuk pertimbangan sebelum Anda menerima suatu agama. Oleh karena itu, Sang Buddha telah memberikan kebebasan secara penuh kepada kita untuk memilih suatu agama berdasarkan pada pendirian diri sendiri.

Buddhisme merupakan suatu agama yang mengajarkan seseorang untuk memahami bahwa manusia bukanlah untuk agama tetapi agama itulah yang untuk manusia gunakan. Agama dapat diibaratkan sebagai rakit yang digunakan manusia untuk menyeberangi sungai. Ketika orang itu sampai di pinggiran sungai, ia dapat meninggalkannya dan melanjutkan perjalanannya. Seseorang seharusnya menggunakan agama untuk perbaikan dirinya dan untuk mengalami kebebasan, kedamaian, dan kebahagiaan. Buddhisme merupakan suatu agama yang dapat kita gunakan untuk hidup penih kedamaian dan membiarkan yang lain untuk juga hidup penuh kedamaian. Saat mempraktikkan agama ini kita diperkenankan untuk menghormati agama lain. Jika sukar untuk menghormati sikap dan perilaku agama lain maka setidaknya kita perlu bertoleransi tanpa mengganggu atau mengecam agama lain. Sangatlah sedikit agama lain yang mengajarkan para pengikutnya untuk mengadopsi sikap bertoleransi ini.

 
Design by Free WP Themes | Blogger Theme by Lasantha - Premium Blogger Themes | Open Office